Membaca Ulang Kisah Hawa Agar Adil Dalam Pikiran

Adam dan Hawa jadi tokoh paling ikonik jika membincangkan cerita awal penciptaan manusia. Cerita tentang sepasang manusia pertama hidup di surga tanpa kesusahan kemudian harus terusik ketika Adam dan Hawa memakan buah larangan. Manusia kemudian harus terbelenggu dalam dosa dan cobaan di dunia. 

Dalam mitos yang diceritakan turun temurun ini, Hawa digambarkan sebagai yang pertama kali terjebak hasutan iblis. Setelah memakan buah larangan tersebut. Ia kemudian meyakinkan Adam untuk ikut serta memakan buah tersebut yang pada akhirnya membuat mereka terusir dari surga.

Hawa dianggap sebagai akar dari seluruh dosa umat manusia. Ia digambarkan sebagai perempuan pertama di dunia yang mudah terhasut sekaligus mahluk penggoda.  Cerita ini muncul dalam agama-agama Ibrahim seperti islam, Kristen dan Yahudi.

Pada kisah awal penciptaan manusia, Hawa juga dianggap sebagai the second creation karena ia diciptakan dari tulang rusuk adam. Hawa ada karena Adam. Narasi-narasi mengenai tulang rusuk tersebut adalah gambaran awal bagaimana perempuan dianggap inferior dan disubordinasikan.

Kisah Adam dan Hawa adalah bukti bahwa perempuan pertama di dunia digambarkan dengan sangat misoginis. Mengakar pada cerita ini, perempuan kemudian dianggap sebagai sumber godaan bagi laki-laki. Perempuan dianggap kurang akal mudah dijebak dan dianggap lemah.

Potret perempuan dalam cerita ini terus melanggengkan posisi perempuan yang masih dipinggirkan. Cerita ibu seluruh umat manusia ini menjadi akar bagi banyak cerita misoginis lainya. Hal ini kemudian menjadi landasan untuk melanggengkan ide-ide patriarki yang terus menyertai kehidupan perempuan. Sehingga perempuan diatur agar tidak menjadi ‘penggoda’ dari mulai pakaian, gesture, cara bicara dan bersikap. Perempuan juga seringkali dilabeli sebagai ‘fitnah’ serta ‘cobaan’ bagi laki-laki.

Berakar pada cerita tersebut, sampai detik perempuan masih dianggap the other atau yang liyan, mahluk kelas dua serta dipinggirkan dalam berbagai bidang. Lalu, Apakah benar mitos semacam cerita penciptaan manusia ini mempengaruhi masyarakat? Tentu saja.

Sarah dan Daryl Bem (dalam Hyde, 1985:22) pernah memperkenalkan idelogi tanpa kesadaran. Yaitu ideologi (gagasan-gagasan) yang kita terima tanpa kesadaran. Ideologi ini diterima tanpa kesadaran karena bersifat sangat umum dan secara luas diterima, selain itu ideologi ini juga sangat halus.

Mitologi dan agama merupakan bentuk ideologi tanpa kesadaran. Bentuk lain dari ideologi ini adalah mitos-mitos yang menggambarkan perempuan sebagai mahluk dungu, bodoh dan tidak kompeten. Berdasar pada pemikiran tersebut, cerita Adam dan Hawa hanya salah satu yang kemudian ditafsirkan atau diceritakan ulang dalam bentuk doktin-doktrin bagaimana seharusnya perempuan berperilaku, diperlakukan, ataupun dikontrol.

Baca:  Poligami Bukan Solusi

Seperti yang dijelaskan oleh Nassarudin Umar bahwa adanya mitos mengenai penciptaan manusia dan terusirnya Adam dari surga menjadi sebab perlakuan kasar dan negatif terhadap perempuan. Mitos yang nampak lumrah dan biasa-biasa saja ini sesungguhnya memiliki dampak bagi masyarakat. Dampak dari doktrin misoginis ini berhubungan juga dengan masih terus adanya diskriminasi, kekerasan, pelecehan serta objektifikasi perempuan.

Menurut catatan akhir tahun (CATAHU) komnas perempuan terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2019. Sepanjang tahun kemarin, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan, meningkat enam persen dari tahun sebelumnya sebanyak 406.178 kasus. Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amirudin, mengatakan, data kekerasan terhadap perempuan meningkat selama lebih dari satu dekade kemarin.

Selama 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen atau delapan kali lipat (nasional.tempo.co, 2020). Data yang dilansir komnas perempuan menjadi bukti betapa perempuan masih belum mendapatkan kehidupan yang aman.

Belum lagi budaya victim blaming (menyalahkan korban) yang masih marak terjadi. Tuduhan-tuduhan yang dilekatkan pada korban pemerkosaan atau pelecehan. Dimana, perempuan seringkali dianggap ‘memprovokasi’ pelaku melalui pakaian, atau perilakunya (seperti keluar dimalam hari). Hal-hal semacam ini semakin memperburuk posisi korban yang mayoritas adalah perempuan. lebih menyedihkan lagi karena kadang tuduhan-tuduhan tersebut datang dari sesama perempuan.

Jika dilihat dari betapa besarnya pengaruh dari mitos penciptaan manusia ini, sudah seharusnya cerita-cerita yang lebih adil dan setara dibangun untuk menyingkirkan mitos-mitos lama yang mendiskreditkan perempuan. Dimulai dengan membangun ulang konsep, bahwa Hawa bukanlah the other atau yang liyan, jahat atau dianggap sebagai penggoda, bukan pelengkap, bukan bagian dari Adam.

Jika dilihat dari betapa besarnya pengaruh dari mitos penciptaan manusia ini, sudah seharusnya cerita-cerita yang lebih adil dibangun untuk menyingkirkan mitos-mitos lama yang mendiskreditkan perempuan. Para feminis teologi kemudian melakukan reinterpretasi pada kisah penciptaan ini.

Dalam Islam misalnya, kita bisa membaca pemikiran Riffat Hassan. Dalam tulisannya yang berjudul Made from Adam’s Rib: The Woman Creation Question, Hassan menjelaskan bahwa narasi (Adam diciptakan pertama kali dan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam) tidak ada dalam Al-quran.  Hassan juga menjelaskan bahwa ‘Adam’ bukanlah nama, tetapi kata benda yang artinya bersinonim dengan al-insan atau basher, yang artinya manusia serta tidak secara khusus merujuk pada jenis kelamin.

Baca:  Kenapa Anak Perempuan Juga Perlu Body Positivity?

Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an Hawa juga tidak disebut sebagai ‘Hawa’ melainkan Adam dan pasangannya (zawj). ‘Zawj’ dalam Al-Qur’an tidak hanya digunakan untuk menyebut manusia tetapi seluruh ciptaan seperti hewan dan tumbuhan.

Jadi jika Adam belum tentu laki-laki maka pasangannya belum tentu perempuan (Roded, 2015). Contoh reinterpretasi lain adalah pemikiran Judith Plaskow (jewish feminist) ia membangun ulang cerita dimana Lilith (istri pertama Adam dalam agama Yahudi) yang sebelumnya digambarkan sebagai iblis karena membangkang, diceritakan ulang menjadi perempuan kuat dan mandiri yang kemudian membangun persaudaraan dengan Hawa. Cerita ini kemudian menjadi simbol pemberdayaan perempuan dalam feminisme (Stenger, 2006).

Narasi-narasi serta interpretasi ulang seperti diatas tentu penting untuk membangun ulang konsep bahwa Hawa bukanlah the other atau yang liyan, bukan pelengkap, bukan bagian dari Adam. Ia adalah individu yang utuh. Gaungkan narasi kesetaraan seperti ini agar perempuan di masa depan tidak perlu lagi mendengar kata-kata rendahan seperti ‘penggoda’, ‘racun dunia’ dan perilaku misoginis lain. Meski mendobrak misoginisme dalam budaya patriarki tidak pernah mudah, tapi bukankah akan lebih sulit untuk terus hidup dalam belenggunya?

Sumber:

Hyde, Janet Shibley. (1985).  Half The Human Experience: The Psychology of Women(3rd  ed.). Lexington: D.C. Heath and Company

https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1316317/kekerasan-terhadap-perempuan-naik-8-kali-lipat-dalam-12-tahun

Roded, Ruth. (2015). Jewish and islamic religious feminist exegesis of the sacred book: Adam, woman and gender. A Journal of Jewish Woman Studies’s and Gender Issue, 29, 56-80.

Stenger, Mary Ann. (2006). Book review. Journal of Woman in Culture and Society, 32(1), 288-295.

Umar, Nasaruddin. (1999). Argumen Keset araan Jender: Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paradima

Mantan mahasiswi yang sudah berusia 23 tahun tapi masih terobsesi pada dinosaurus serta puisi. Benci pada patriarki tapi tidak membenci laki-laki. Sedang senang-senangnya belajar feminisme.

1 thought on “Membaca Ulang Kisah Hawa Agar Adil Dalam Pikiran”

  1. Tak waca tak bolan baleni, ben isa paham tenanan karo tulisanmu, muga muga usahamu memperjuangkan kaum perempuan supaya entuk hak lan papan kang padha kaya dene liyane isa menehi kasil kang apik kanggo kabeh.

    Terus menulis untuk kami 😀

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: