Sejak duduk di bangku SMP, saya menyadari bahwa menstruasi seringkali menjadi momok mengerikan bagi banyak anak serta remaja perempuan. Ketakutan kami terus menerus dipupuk lewat narasi-narasi yang beragam. 

Misalnya lewat narasi berbau keagamaan bahwa perempuan yang telah menstruasi mulai menanggung semua dosanya dengan kecenderungan bagi perempuan untuk menjadi seorang pendosa itu sangat besar, karena disebutkan bahwa perempuan merupakan kaum penghuni neraka terbanyak. Di luar narasi berbau keagamaan.

Anak-anak perempuan seringkali disuapi kebohongan mengenai apa yang terjadi saat menstruasi. Beberapa yang paling sering saya dengar bahwa ketika berpegangan tangan, berpelukan, apalagi berciuman maka anak atau remaja perempuan tersebut akan hamil. Bahkan yang terparah ketika anak perempuan yang sudah menstruasi menoleh saat dipanggil lawan jenis, maka ia akan hamil. Kemudian apabila ia hamil maka sudah tidak ada masa depan lagi baginya.

Membayangkan menstruasi sudah cukup mengerikan bagi anak-anak perempuan yang tidak pernah dijelaskan secara komprehensif tentang apa dan bagaimana menstruasi itu, juga bagaimana menanganinya. Dengan bayangan mengalami pendarahan secara terus menerus selama kurang lebih satu minggu sudah cukup membuat banyak anak perempuan bergidik ngeri mendengarnya dan takut akan mati kehabisan darah. 

Mirisnya pendidikan mengenai menstruasi hanya diberikan sekedar lewat pelajaran biologi yang dibahas dengan sangat ilmiah serta malu-malu di kelas. Bahkan terkadang dilewatkan materinya. Sebab, dianggap memalukan dan tabu. Atau ketakutan bahwa hal tersebut akan menjadi olok-olok bagi anak perempuan.

Tidak ada yang aneh ketika melihat perempuan yang bahkan sudah dewasa malu untuk mengucapkan kata menstruasi, seolah membicarakan suatu aib yang besar. Mengapa ini terjadi? Bagi saya begitu seringnya menstruasi dikaitkan sebagai kondisi ketika perempuan dianggap sedang tidak suci, kotor, serta najis, bahkan disamakan dengan anjing -yaitu perempuan sedang menstruasi haram masuk ke masjid karena sama najisnya dengan anjing.  

Hal tadi membuat perempuan mencari alternatif untuk menyebut menstruasi, dengan niat supaya tidak malu karna terdengar tidak sopan. Istilah-istilah seperti datang bulan, kedatangan tamu, sedang M, serta beragam istilah lainnya muncul sebagai upaya menyembunyikan kondisi perempuan yang sedang mengalami menstruasi, kondisi yang sebenarnya sangat normal dan tidak perlu disembunyikan.

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Hygiene care yang lekat dengan menstruasi pun mengalami hal serupa. Anak dan remaja perempuan bahkan perempuan dewasa seringkali merasa malu untuk membeli pembalut. Pembalut bertransformasi menjadi roti bakar, roti jepang, serta istilah lain untuk menutupi fakta apa yang mereka beli adalah pembalut. 

Proses jual beli pembalut di sekolah saya dulu seringkali terlihat seperti transaksi jual beli benda terlarang. Suara yang merendah hampir berbisik, pertukaran pebalut yang telah dibungkus plastik hitam dan lembaran uang dilakukan dengan kilat. Karena diketahui membeli pembalut serta sedang menstruasi masih terasa tabu bahkan bagi remaja SMA.

Kemunculan alternatif pembalut pun seringkali memicu pro kontra. Misalnya seperti menstrual cup atau cawa menstruasi yang digalakkan sebagai pengganti pembalut ramah lingkungan. Seperti banyak hal lainnya mengenai perempuan dan ketubuhannya hal ini memicu perdebatan di kalangan masyarakat. 

Anehnya para laki-laki turut bicara tanpa memahami apa yang mereka bicarakan. Seorang ustad bahkan pernah menjawab perihal penggunaan menstrual cup dianggap sebagai sesuatu tindakan yang tidak menjaga kemaluan. Dengan anggapan bahwa penggunaan menstrual cup dapat membuat seorang perempuan menjadi tidak perawan. Mereka tidak memandang menstrual cup sebagai suatu alat yang  berfungsi untuk menampung aliran darah dari tubuh perempuan ketika menstruasi. Sebaliknya mereka menseksualisasikan benda tersebut dengan anggapan bahwa memasukkan sesuatu seperti menstrual cup ke selangkangan adalah perbuatan yang menimbulkan kenikmatan seksual terlarang, sehingga perempuan tersebut dianggap tidak menjaga diri. 

Tidak ada yang aneh sebenarnya dari perdebatan itu. Sama halnya seperti seluruh bagian tubuh perempuan yang terus menerus diseksualisasi ketika ia sudah menstruasi. Perubahan payudara, panggul, pantat, paha, dan segenap bagian tubuh lainnya tidak lagi dianggap sebagai bagian tubuh seorang manusia. Namun, dilihat sebagai suatu objek seksual yang terus menerus diobjektifikasi.

Perihal penggunaan menstrual cup yang diseksualisasi tadi pun membuat semakin sadar masalah lama yang tak kunjung usai. Anggapan bahwa perempuan dan tubuhnya bukanlah milik mereka, perempuan dianggap tidak berhak menentukan apa yang harus dilakukan dengan selangkangannya. Selangkangan perempuan serta sepaket organ di dalamnya dianggap sebagai kuil suci yang hanya bisa disentuh serta dimasuki laki-laki. Anggapan semacam ini seringkali beredar dan membuat perempuan takut untuk mengetahui lebih jauh mengenai dirinya sendiri bahkan demi alasan kesehatan. 

Baca:  Kegagalan Neoliberalisasi: Eksploitasi Tenaga Kesehatan Perempuan

Masyarakat kita tidaklah menyadari pentingnya untuk mengetahui bentuk serta anatomi dari alat reproduksi yang dimiliki mereka. Pembungkaman terhadap perempuan dan ketubuhannya menjadikan rasa takut untuk mencari tahu serta mengenal lebih lanjut mengenai tubuh milik mereka. Menyebut vagina dan menstruasi saja masih tabu. Padahal masih banyak perempuan yang bahkan tidak mengetahui letak lubang vagina, atau beda antara lubang vagina dengan saluran urin.

Jika terus menerus dibungkam bahkan untuk pengalaman biologisnya. Bagaimana bisa para anak juga remaja perempuan mampu berdaya dengan diri serta ketubuhannya. Bukannya menyediakan akses pengetahuan supaya mereka berpengetahuan. Masyarakat kita malah memilih untuk membungkam pengetahuan tentang tubuhnya sediri. Mereka seharusnya diberi keberanian dalam mencari tahu lebih jauh mengenai tubuh mereka. Disinilah kita bisa melihat pendidikan seks komprehensif serta kesehatan reproduksi sangat penting.

Karena apabila menstruasi masih diproduksi sebagai sesuatu yang menakutkan, memalukan, serta tabu untuk dibicarakan. Maka perjuangkan kita dalam membebaskan perempuan dari penindasan masih merupakan perjalanan yang amat panjang. Menstruasi sebagai kondisi biologis paling dasar pada tubuh perempuan, selayaknya berkeringat, haus, atau lapar.

Sudah saatnya menghentikan upaya membungkam yang dilakukan masyarakat, yang berkembang menjadi self censorship. Sebab menstruasi seharusnya dianggap sebagai momen kemerdekaan. Perempuan dan pengalaman menstruasi merupakan hal yang sangat menakjubkan, karena itu sudah saatnya melepas belenggu yang membatasi kita bicara menstruasi sebagai  langkah yang membebaskan.

Seorang perempuan yang sedang belajar mendalami isu keadilan gender.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *