Memilih tak Bekerja Juga Hak Ibu

Suatu hari seorang sahabat menghubungi ku. “Aku mau cerita” katanya.  Dulu sekolah adalah tempat kami berbagi tangis tawa. Namun saat ini kita berada di tempat yang berbeda, dia memilih untuk tinggal bersama suaminya di kota nan jauh disana. Maka dari itu kita tidak lagi semudah dulu jika ingin bersua.

Singkat cerita kami telah menyepakati waktu untuk bertemu. Hari ini adalah hari yang sangat kami tunggu-tunggu. Urgent sekali sepertinya sampai ia rela meluangkan waktu. Sebuah café yang tenang di sudut kota Malang aku rasa tepat untuk kami berbagi cerita dan melepas rindu. Sunyi  dan tenang, aku yakin tidak akan ada yang menggangu.

Di hari kami bertemu tidak, ku sangka, pelukan hangat yang hampir saja aku lupa rasanya kini  bisa ku sesapi kembali. Sapa dan gurau saling kami lontarkan seraya mengamati beberapa perubahan yang terlihat oleh mata. Satu hal yang membuat hatiku luar biasa senang, sahabatku sudah menjadi Ibu! Ia datang bersama Fahima, bayi mungil nan menggemaskan yang kebetulan memang terlahir dari rahimnya sendiri 15 bulan lalu.

Setelah beberapa menit menyelesaikan prolog, tibalah kami pada inti cerita. “Mbak[1], tau kan, dulu rencanaku apa saja, aku dulu mau jadi apa, target-target aku apa saja?” tanyanya kepadaku.

Aku sedikit bingung, mengapa ia bertanya seperti ini?

“Iya, aku masih ingat dimana saja tempat kamu ingin belajar sembari bekerja, aku ingat sekali, posisi apa yang kamu idam-idamkan disana, aku juga ingat, rencanamu untuk meraih goals hidup  versimu yang tertata rapi dalam buku berwarna biru.” Jawabku.

“Ada apa dengan semua itu, sha?” lanjutku bertanya.

Dengan cepat ia menjawab “Dengan consent dan segala keikhlasan dalam diri ini, aku memilih untuk merelakan semuanya mbak, demi Fahima, anakku yang sangat aku sayang. Sejak aku hamil, aku sudah memikirkan hal ini. Dulu terasa berat memikirkannya, karena aku punya sejuta mimpi. Aku tekun bersekolah hingga perguruan tinggi demi cita-cita yang kugantung tinggi,” jelasnya sambil tersenyum.

Baca:  Perempuan Tanpa Labia

“Tapi semenjak Fahima ada di bumi, keberatan itu sekejap sirna, ternyata aku lebih tidak rela lagi mbak, jika anakku digendong dan dibelai oleh tangan lain, selain ibunya. Tidak ada paksaan sama sekali dari suamiku, ia membebaskanku dalam memilih, lanjut bekerja atau menjadi ibu rumah tangga,” sambung gadis bermata indah itu.

“Era ini rasanya kurang keren ya mbak, kalau seorang ibu memilih untuk tekun dan fokus mengurus anak dan keluarganya tanpa berkarir diluar rumah. Menurut mbak apakah keputusanku adalah keputusan yang salah, mbak?” lanjutnya seraya bertanya.

Aku terdiam, terenyuh, dan juga merasa bangga memiliki sahabat yang sangat besar hatinya, memiliki sahabat yang sangat amat menyayangi anak dan keluarga kecilnya. Begitu ternyata menjadi seorang ibu, tidak mampu aku mendeskripsikan niat mulianya. Luar biasa.

“Sha, ibuku berkata tidak ada yang salah sama sekali untuk menjadi ibu rumah tangga. Pun juga memilih berkarir,” kataku.

Sungguh kurasa tidak ada cacatnya bahagia seorang ibu yang menyaksikan dan mendampingi tumbuh kembang anak setiap harinya. Aku kehabisan kata-kata. Masih terbayang dibenakku semangat Prisha dalam mengantung dan memanjati satu persatu impiannya. Hingga sampai akhirnya ia merubah seluruhnya tanpa penyesalan.

Hidup memang penuh dengan kejutan. Kadang berjalan sesuai rencana, kadang juga berjalan lebih baik dari rencana, kadang berbeda jalan dengan rencana. Kata Ibuku  apapun yang akhirnya kita dapati, emban itu dengan tanggung jawab, dan lakukan yang terbaik, setiap detiknya.

Semua ibu berhak untuk memilih jalannya. Menjadi ibu rumah tangga juga salah satu jenis pekerjaan prempuan dan wajib mendapatkan upah. Wahai para ibu diluar sana, memilih berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, kau puan tetap Ibu yang mulia. Lebih dari sekedar standar keren belaka.

Baca:  Perempuan Itu

Segala ilmu yang perempuan dapat selama hidup ini akan tetap menjadi bekal, untuk menjalankan hari-hari di depan bersama keluargamu kelak. Sangat indah rasanya jika bekal itu dibagi untuk anakmu, guna menjalani lika-liku kehidupan.

Perempuan yang menjadi ibu dan bekerja ataupun yang tak bekerja bukan berarti derajatnya lebih rendah atau lebih buruk. Tentunya pendidikan yang dikenyam perempuan tak akan menjadi sia-sia karena pengetahuannya digunakan untuk kebaikan bersama baik itu ketika ia memilih beranak atau bahkan tak beranak.


[1] Mbak : panggilan kepada kakak perempuan dalam bahasa jawa

Saya adalah penyendiri tetapi suka bersosialisasi. Budaya dan Bahasa adalah hal yang saya hal yang menarik bagi saya untuk dipelajari.

Leave a Comment

%d bloggers like this: