Memutus Rantai Patriarki, Membangun Cinta Setara

Suatu ketika saat saya sedang mengunjungi tetangga saya yang menjadi korban hipnotis bersama ibu-ibu tetangga lainnya, saya dibuat merasa frustasi dengan bagaimana kentalnya budaya patriarki dalam rumah tangga. Ibu-ibu yang awalnya berniat untuk menguatkan tetangga saya yang baru terkena musibah, malah saling berbagi cerita kondisi keluarganya.

Alih-alih menguatkan, mereka malah memberi saran yang menegaskan bahwa tugas domestik seperti membersihkan rumah dan menjaga anak adalah tugas perempuan (istri) sepenuhnya. Dimulai dari suami-suami mereka yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, membebankan anak kepada istri, bahkan untuk mengangkat dan mencuci piring kotor mereka pun, para suami menunggu istri atau anak perempuannya untuk melakukannya.

Selain itu, ibu-ibu mengaminkan bahwa dalam rumah tangga, perempuan lah yang harus lebih sabar atas perlakuan laki-laki yang mereka percayai memang egois pada dasarnya. Tidak ada cerita berbeda dari ibu-ibu di ruangan ini. Semuanya merasa sepenanggungan.

Dari pernyataan ibu-ibu ini, kita bisa melihat bahwa mereka adalah korban dari doktrin patriarki yang menjadikan laki-laki mendominasi ruang publik dan ruang privat, salah satunya relasi dalam berumah tangga. Mungkin nasihat ibu-ibu ini juga adalah nasihat yang diberikan oleh orangtua mereka saat mereka mau atau baru menikah. Bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki, sehingga perempuan diharuskan untuk menjadi pihak yang selalu sabar dan melayani suami.

Kedudukan yang tidak setara ini tentu menyebabkan ketimpangan dalam relasi suami-istri. Perlu disadari bahwa di masyarakat kita, laki-laki selalu lekat dengan kekuasaan dan penguasa. Menjadi laki-laki seperti punya privilese untuk berbuat bebas melakukan apa saja, karena dianggap laki-laki lebih mengandalkan akal dan perempuan dianggap hanya menggunakan perasaanya saja.

Patriarki memang sudah terlalu lama mendarah daging dan terus diwariskan lewat narasi yang terdengar menentramkan, sehingga para korbannya yang mengalami tidak menyadari dan menganggap itu adalah sebuah keharusan atau bahkan kodrat sebagai perempuan dan istri.

Baca:  Melawan Sistem dengan Suara Kesetaraan

Saat mendengar curhatan dan nasihat ibu-ibu ini, ingin rasanya saya marah dan menjelaskan bahwa itu bukan kodrat, melainkan doktrin patriarki yang terus ditumbuh suburkan. Namun, tidak bijak rasanya kita yang sudah paham bagaimana patriarki bekerja dan diwariskan untuk marah sebab mereka pun adalah korban. Oleh karena itu untuk kita yang sudah belajar dan tercerahkan, kita bisa melakukan hal-hal kecil dan mencerahkan orang-orang sekitar kita terutama perempuan untuk memutus doktrin patriarki yang sudah mengakar sejak lama.

Hal kecil itu bisa dengan menulis dan terus menyuarakan mengenai isu perempuan, agar perempuan yang lain bisa membaca dan memahami bagaimana budaya patriarki membelenggu dirinya. Selain itu, menghapus budaya patriarki juga bisa dimulai dari rumah. Misalnya menyetarakan kedudukan anak perempuan dan laki-laki, dimulai dari tidak menitikberatkan tugas-tugas domestik hanya kepada anak perempuan, menormalkan bila anak laki-laki turun ke dapur dan memasak, hingga memberi tanggung jawab bahwa anak laki-laki juga harus membersihkan kamarnya dan mengangkat piring kotornya setelah makan.

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa budaya dan doktrin patriarki masih tumbuh subur di masyarakat adalah karena masyarakat terus merawatnya. Tanpa sadar kita menurunkan dan mewarisinya kepada anak-anak kita. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus yang telah memahami ketimpangan ini memiliki andil dalam memutus rantai patriarki.

Sudah saatnya memutuskan rantai patriarki dengan merancang hubungan setara yang kita inginkan. Sangat penting untuk perempuan memiliki pasangan yang tidak menganggap bahwa dirinya berada di bawah pasangannya.

Caranya, saat mulai menjalin relasi, penting untuk memastikan bahwa pasanganmu adalah orang yang menghargai dan melihatmu sebagai manusia utuh yang memiliki cita-cita dan hak untuk menggapainya. Disini kita bisa melihat sejauh mana ia paham bahwa perempuan punya otoritas penuh terhadap tubuhnya.

Banyak hal kecil yang bisa menunjukkan karakter seseorang, misalnya melalui diskusi dan perilaku sehari-hari. Saat pendekatan, kita bisa melihat bagaimana pandangannya terhadap peran gender perempuan dan lelaki di masyarakat.

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Kita juga bisa melihat apakah calon pasanganmu suka mengatur caramu berpakaian, tanpa perduli apakah kamu nyaman dengan baju yang ia pilih atau tidak.

Selain itu, saat makan atau pergi bersama, kamu bisa memastikan apakah dia tipe laki-laki yang merasa harga dirinya kecil saat kamu membayar tagihan makanannya atau tidak. Karena jika ia merasa bahwa laki-laki lah yang harus selalu membiayai perempuan, ini sudah menjadi pertanda bahwa ia tidak rela berbagi peran denganmu. Karena salah satu ciri hubungan yang setara adalah yang saling mendukung kemandirian, termasuk finansial, satu sama lain.

Dan akhirnya sebelum memutuskan berumah tangga dengannya, pastikan kamu bisa bernegosiasi perihal pembagian tugas domestik dan mengenai bagaimana karirmu kedepan.

Korban patriarki memang tidak perempuan saja, namun perempuanlah yang selalu menjadi korban patriarki melalui stigma-stigma dan peran gender yang dikontruksikan masyarakat. Sebagai perempuan kita punya andil dan kuasa untuk mengubah tatanan yang ada. Kita bisa memulai perubahan kecil dengan memilih pasangan yang setara, serta merancang dan membangun relasi yang menghapuskan relasi kuasa dan unsur patriarkis dalam hubungan berumah tangga nantinya. Kita bisa membangun cinta setara.

Cinta setara akan membebaskan orang-orang yang kita cintai termasuk diri kita sendiri untuk tumbuh bersama dengan kualitas hidup yang lebih baik. Dengan begitu kita tidak akan mewariskan budaya dan nasihat patriarkis kepada anak-anak dan generasi selanjutnya.

Seorang mahasiswi Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sangat senang membaca buku dan tertarik terhadap isu perempuan dan kesehatan mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *