Ketika Perempuan Mencibir Sesama Perempuan

“Gila make up lo menor banget. Mau nongkrong atau mau ngelenong?”
“Baju dia sexy banget. Kurang bahan atau gimana?”
“Kok bisa cewek gak bisa masak? Bisa-bisa gak disayang mertua loh.”
“Murahan banget itu cewek. Sorry ya,  gue beda sama mereka.”

Tahu enggak sih kalau cibiran ini bisa datang secara eksklusif dari perempuan untuk mengintimidasi sesama perempuan? 

Tindakan menyalahkan pilihan make up, pakaian, sikap maupun keahlian yang dimiliki perempuan secara tidak langsung sudah membawa kita pada tindakan diskriminasi dan ujaran kebencian yang disebut Internalized Misogyny.

Konstruksi sosial di masyarakat sudah sedemikian rupa mengkotak-kotakkan ekspektasi kepada perempuan dan laki-laki. Contoh, perempuan dilambangkan dengan feminin yang artinya pribadi yang lembut, pasif, keibuan, tinggal di rumah, dan cenderung lemah. Sebaliknya laki-laki digambarkan masculin yang artinya kuat, berjiwa pemimpin, aktif, pencari nafkah, dan pembuat keputusan.

Berabad-abad lamanya, perempuan selalu diobjektifikasi. Perempuan seolah hadir di dunia hanya sebagai pelengkap laki-laki dan pemuas hasrat laki-laki. Semua standar kecantikan dan sikap perempuan ditentukan oleh pandangan laki-laki.

Munculnya istilah “perempuan tidak benar” atau “perempuan jalang” kerap kali diidentikkan dengan pakaian maupun tindakan perempuan. Perempuan kerap disalahkan apabila memakai pakaian terbuka. Dalam kasus pemerkosaan, praktik menyalahkan korban masih sangat masif dilakukan oleh polisi apalagi polisi perempuan. Tidak sedikit dari para perempuan menyalahkan pakaian korban atau tindakan korban karena pulang malam.

“Sudah tahu banyak kriminalitas saat malam hari mengapa memilih pulang malam?” Padahal korbannya adalah perempuan namun perempuan tetap menjadi sasaran empuk kesalahan oleh sesama perempuan. Masyarakat cenderung memilih mengintervensi cara berpakaian perempuan daripada mendidik laki-laki untuk bertindak santun dan berpikiran tidak porno terhadap perempuan supaya tidak memperkosa.

Baca:  Jika Perempuan Selalu Benar, Kenapa Masih Menyalahkan Kami?

Sering juga, sesama perempuan membenci perempuan bertato dan merokok. Perempuan bertato dan merokok diidentikkan dengan pribadi yang urak-urakkan, nakal dan tidak bermartabat. Padahal tato adalah ungkapan ekspresi perempuan.

Apakah ketika perempuan itu bertato langsung otomatis perempuan tersebut menjadi preman? Tato tidak mendefinisikan kebaikan atau keburukan perempuan. Secara tidak sadar pemahaman-pemahaman tersebut terdoktrin di dalam otak perempuan dan membuat mereka menjadi penyumbang kelanggengan patriarki. 

Patriarki mengagungkan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki hadir untuk menjadi raja atau penguasa atas perempuan. Oleh karena itu semua tindak-tanduk perempuan harus sejalan dengan keinginan laki-laki. Laki-laki adalah pemimpin dan perempuan adalah pengikutnya.

Dalam satu hubungan kerap kali muncul pemahaman bahwa tidak baik apabila perempuan punya pendidikan lebih tinggi daripada laki-laki karena hal tersebut bisa mengintimidasi eksistensi laki-laki yang nantinya dipercaya sebagai pemimpin atau kepala dalam rumah tangga. Budaya patriarki sangat mengancam perempuan dan menyebabkan perempuan tidak berdaya karena perempuan dididik untuk mematikan eksistensi dirinya

Perempuan dididik untuk tidak memiliki impian dan karakter atas nama dirinya sendiri. Dan sekarang, realita penindasan perempuan ini semakin diperkuat dengan adanya andil sesama perempuan untuk menindas satu sama lain.

Kalau sudah begini, apa yang bisa kita kerjakan? Jawabannya sebetulnya sederhana namun sangat sulit dilakukan.

Ada dua hal yaitu yang pertama mari ubah cara pandang dan yang kedua mari dukung sesama perempuan. Ketika kita mempunyai teman perempuan yang cenderung pasif dan gampang menyerah, jangan mencibir dan jangan tinggalkan. Bantu dia untuk bangkit. Jangan klaim diri sendiri berbeda atau lebih kuat dari mereka yang lemah. Apabila perempuan itu kuat, mereka harus kuat bersama-sama tidak boleh ada yang tertinggal di belakang.

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Ketika kita melihat perempuan lainnya bahagia mengekspresikan dirinya dengan make up yang dia sukai, jangan mencibirnya. Apresiasi mereka karena mereka berani mewujudkan apa yang mereka inginkan dengan cara mereka sendiri.

Ketika perempuan ingin berekspresi dengan pakaian yang mereka sukai, jangan dihakimi.

Ketika melihat sesama perempuan yang punya bentuk badan curvy, jangan dicibir hanya karena konsep cantik yang ada di masyarakat sekarang adalah kurus, tinggi, dan langsing.

Intinya, beri perempuan dukungan karena semua perempuan cantik dalam bentuk dan ukuran apapun. Perempuan bebas memilih menjadi apapun yang mereka inginkan karena perempuan lahir bukan menjadi pelengkap laki-laki namun menjadi pribadi yang utuh sebagai perempuan itu sendiri.

Dukung perempuan untuk bisa mengandalkan diri mereka sendiri dan bisa mencapai impian mereka. Ketika perempuan bisa mendukung sesama perempuan untuk menghancurkan stigma masyarakat terkait cara pandang terhadap tubuh perempuan dan sikap perempuan, di situ kita akan menang melawan patriarki.

Pupuk solidaritas kepada sesama perempuan. Mari gandeng tangan, jangan sampai perjuangan kita melawan patriarki menjadi sia-sia. Patriarki harus dihancurkan. Saatnya bergerak, menyemangati satu sama lain.

Seorang penulis baru yang ingin mencoba bersuara untuk mendukung kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Meyakini bahwa perempuan bisa menggapai apapun yang mereka impikan. 

1 thought on “Ketika Perempuan Mencibir Sesama Perempuan”

Leave a Comment

%d bloggers like this: