Mendesak Negara Tak Abai Melawan COVID-19

Bumi beserta isi-isinya sedang sakit. Kehadiran COVID-19, virus yang menyerang sistem pernapasan manusia membuat kita cukup bahkan sangat gelisah. Virus ini sangat berbahaya. Orang yang terinfeksi virus ini bisa mengalami kerusakan pada paru-paru dan sistem pertahanan tubuh kita. Bahkan, 3,4% dari pengidapnya tidak berhasil melawan penyakit yang dibawa oleh virus ini.

Meskipun kehadirannya sudah memakan banyak nyawa dibelahan dunia, penyebab virus ini masih belum diketahui secara pasti. Proses penyebaran virus ini sangat cepat sekali dari satu manusia, ke manusia lain. Gejala-gejala yang ditunjukan pada pengidap virus COVID-19 ini antara lain demam, batuk, rasa lemas dan nyeri pada tubuh hingga sesak napas. Bahkan dalam beberapa kasus, ia tidak menunjukan gejalanya sama sekali. Meskipun ada beberapa orang yang berhasil sembuh dari wabah ini setelah proses isolasi di rumah sakit, tetapi obat dari penyakit ini belum ditemukan.

WHO telah menetapkan virus COVID-19 ini sebagai pandemi. Pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas (menurut KBBI). Kabar buruk ini diikuti oleh datangnya COVID-19 ke Indonesia. Dalam waktu kurang dari 10 hari, virus ini menginfeksi 227 orang di Indonesia.

Masyarakat dihimbau untuk mengisolasi diri di rumah masing masing karena COVID-19 telah menyebar dinegeri ini. Mengurangi aktivitas diluar rumah dan menjaga jarak antar sesama (Social Distancing) disarankan sebagai salah satu cara yang efektif untuk menghindari penyebaran virus ini.

Dalam menghadapi hal ini, pemerintah memang tidak diam saja. Tetapi, patut diakui pemerintah terlihat kelabakan mengatasi kasus demi kasus yang kian bertambah. Dari awal memang pemerintah kita terkesan santai dan menyepelekan wabah ini. Di saat negara lain sudah sibuk melakukan berbagai macam cara untuk melindungi masyarakatnya, pemerintah kita dengan santai melontarkan statement pada media seakan-akan kita kebal akan si COVID-19 ini.

Terbukti dari statement Wapres kita, Ma’ruf Amin yang berkata bahwa Corona Tidak masuk ke Indonesia karena Doa Kiai dan Qunut beberapa minggu yang lalu. Disusul juga dengan pernyataan  Terawan, menteri kesehatan yang mengatakan bahwa ia tidak perlu merasa terbebani dan panik mengatasi virus ini selama masyarakat berdoa dan berusaha.

Baca:  Apakah Transgender itu Pilihan atau Takdir?

Sikap ini tentunya adalah sikap abai. Alih-alih mempersiapkan diri apabila kemungkinan buruk terjadi saat COVID-19 telah menginfeksi masyarakat Indonesia, sikap santai seakan-akan menjadi pilihan terbaik. Sementara, masyarakat dihimbau untuk tenang ditengah sikap abai dan santai para petinggi negara ini.

Memang, kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan masalah ini di bahu pemerintah. Kita harus berinisiatif untuk menjaga kesehatan diri sendiri, keluarga, dan orang lain dengan cara menjaga kebersihan dan mengisolasi diri. Tapi, sikap abai pihak-pihak yang harusnya bisa diandalkan apabila usaha preventif setiap individu masyarakat gagal menghindari virus COVID-19 memang tidak dapat dimaklumi lagi.

Pengabaian demi pengabaian terus terjadi. Mulai dari Rumah Sakit yang menolak masyarakat yang berinisiatif untuk tes COVID-19 dengan alasan “belum parah” sampai selebrasi-selebrasi pak Terawan ditengah resiko suspect yang terus bertambah. Pertanyaan masyarakat tentang kesiapan alat untuk pengobatan virus inipun dijawab dengan santai, “Virus ini dapat sembuh dengan sendirinya”, kata sang menteri kesehatan. Yang tak kalah konyol lagi, menteri dalam negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa Virus COVID-19 tidak mematikan, di saat ia telah merenggut banyak nyawa manusia di seluruh dunia.

Masih banyak lagi pernyataan konyol petinggi negara dalam menghadapi COVID-19 ini. Ketidaksiapan negara dalam menghadapi wabah ini tidak akan habis jika dibicarakan dalam waktu sehari semalam. Sebagai masyarakat yang khawatir dan peduli sesama, desakan demi desakan terus mengalir di media sosial.

Tidak ada salahnya jika kita mendesak pemerintah untuk serius menangani hal ini. Jangan diam saja! Kalau kita diam saja, tidak berisik, tidak memberi kritik dan tidak mendesak pemerintah, ya mereka akan terus bersantai ria. Didesak dan dikritik lewat media sosial saja masih santai, apalagi kita diam saja menuruti himbauan ketenangan palsu. Lagipula akhir-akhir ini pemerintah juga tidak terlalu peduli dengan masalah lain selain COVID-19 yang dihadapi masyarakatnya.

Baca:  Arti di Balik Perempuan yang Bersuara

Memang, semua harus tenang. Tetapi, ketenangan palsu tanpa keseriusan upaya pencegahan hanya akan menambah masalah. Merasa aman-aman saja tiba tiba BOOM! Kalang kabut dan tidak tau harus apa. Pemerintah belum mampu membiayai kebutuhan masyarakat jika Lockdown, apalagi jika ia harus memfasilitasi pengobatan masyarakat dengan baik. Negara oh negara, betapa kikuknya kau di hadapan masyarakat sendiri.

Teman-teman, jangan lupa menjaga kesehatan dan kebersihan. Mengisolasi diri berarti menyelamatkan banyak nyawa. Bukan hanya kamu, tapi temanmu, saudaramu, bahkan orang yang tidak kamu kenal.

Gunakan media sosialmu minimal untuk mengingatkan sesama tentang kesehatan dan kebersihan. Jika kamu mampu, sisihkan juga sebagian harta dan berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk membantu orang-orang dan pihak-pihak yang membutuhkan bantuan finansial dalam melawan COVID-19 dan menyambung hidupnya. Media sosial juga bisa digunakan untuk mendesak negara yang sangat santai menangani virus mematikan ini. Semoga semua kembali normal.

Saya adalah penyendiri tetapi suka bersosialisasi. Budaya dan Bahasa adalah hal yang saya hal yang menarik bagi saya untuk dipelajari.

Leave a Comment

%d bloggers like this: