Kenapa Kita Harus Mendobrak Kultur Pesantren yang Timpang

Islam hadir di muka bumi ini tidak lain kecuali untuk membebaskan manusia dari pelbagai bentuk ketidakadilan. Dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan, keadilan meniscayakan tidak adanya diskriminasi, kecondongan ke arah jenis kelamin tertentu dan pengabaian terhadap jenis kelamin yang lain. Inilah prinsip-prinsip keadilan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan yang merupakan nilai universal ajaran Islam. Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia seharusnya bertugas untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam yang universal tersebut.

Konsep-konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan memang sudah seringkali disampaikan di dalam pesantren. Misalnya pandangan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Tuhan yang sama keduduakannya dihadapan Tuhan, sama-sama berkewajiban melaksanakan ibadah kepada-Nya dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Demikian pula dengan perkara menuntut ilmu, laki-laki dan perempuan dalam hal memuntut ilmu sejalan dengan hadits nabi bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim laki-laki dan perempuan.

Namun seringkali dalam memasuki persoalan praktis kesetaraan tersebut tidaklah muncul. Peraturan pesantren nampak ada beberapa yang diskriminatif terhadap perempuan. Misalnya akses perempuan untuk berkegiatan diluar pesantren lebih dibatasi daripada laki-laki. Jam kembali ke pesantren untuk akses santri perempuan dibatasi dengan durasi waktu pendek, dan untuk santri laki-laki dengan durasi waktu yang lebih panjang. Dan masih banyak peraturan-peraturan lain yang lebih memihak laki-laki daripada perempuan.

Selain hal itu, pola pengajaran dan kitab yang diajarkan utamanya fiqh di pesantren masih perlu ditinjau ulang. Munculnya beberapa diskriminasi peraturan pesantren, merupakan implementasi dari sebagian doktrin fiqh yang terdapat dalam kitab-kitab klasik.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan kitab fiqh terhadap perempuan yaitu sama; kedudukan perempuan berada dibawah laki-laki. Melihat hal demikian, sesungguhya masih ada permasalahan dalam kajian fiqh pesantren mengenai peran dan posisi gender dimana hak-hak perempuan harus dibedakan dengan posisi perempuan dimarjinalkan.

Baca:  Mengapa Memperkosa?

Permasalahan di antaranya mengenai posisi perempuan dalam konsep pernikahan yang terdapat dalam ajaran kitab klasik pesantren. Kajian-kajian fiqh pesantren seperti dalam kitab Syarh Uqud al Lujain secara garis besar, sangat terlihat bahwa wacana yang terdapat dalam kitab ini memiliki paradigma dan perspektif yang mendukung superioritas laki-laki atas perempuan baik dalam domain privat, maupun dalam domain publik (ruang sosial-politik). Beberapa teks kitab rujukan pesantren menunjukkan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Akal dan pengetahuan laki-laki lebih banyak, hati mereka lebih tabah dalam menanggung beban berat dan tubuh mereka lebih kuat.

Kemudian adanya berbagai pernyataan yang menyatakan subordinasi perempuan seperti istri yang wajib untuk senantiasa memperlihatkan rasa malu terhadap suaminya, tidak menentang suami, bersikap diam ketika suami sedang bicara, menyerahkan seluruh tubuhnya jika ia memintanya, hingga berhias dan memakai parfum ketika di dalam rumah. Begitulah sosok istri salehah yang diidealkan dalam kitab-kitab pesantren. Melihat hal demikian, meninjau ulang kitab tersebut sangatlah perlu dilakukan. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab tersebut apakah memiliki dasar legitimasi yang kuat dari sisi keilmuan Islam atau justru hanya merupakan perspektif dan pandangan penulisnya.

Sebenarnya kegelisahan atas ajaran-ajaran tersebut sering dialami dan dipertanyakan oleh para santri. Tradisi patron terhadap figur kyai dan kitab yang diajarkan menyebabkan santri tidak memiliki keberanian untuk mengkritik. Budaya pesantren yang telah memandang kitab kuning karya para ulama sebagai dalil-dalil teks suci, membuat isi kitab ini harus diterima secara literal oleh santri tanpa kritik dan dianggap sebagai kebenaran paten serta ajaran kebaikan yang datang dari agama.

Sampai hari ini kritik terhadap kitab keagamaan klasik dan kritik terhadap para ulama dianggap tindakan suu’ul adab (tidak berakhlak). Bahkan dalam beberapa kasus mempertanyakannya saja acap kali dianggap kurang baik.

Baca:  Feminisme Adalah Masa Depan Perempuan Akhir Zaman

Kultur yang demikian sebenarya akan membawa pada kejumudan proses intetektual dan keilmuan di pesantren. Sehingga dengan kondisi demikian keilmuan yang dikembangkan dipesantren akan sulit menyesuaikan dengan tantanggan dan kebutuhan zaman.

Melihat kenyataan tersebut para alumni pesantren yang cukup terpelajar, yang mengembangkan keilmuan akademisnya di perguruan tinggi sudah mulai berani menyuarakan dan mengkritik kajian fiqh konservatif serta budaya patron yang ada di pesantren. Dasar analisis dan kritiknya dengan kesadaran ilmiah dan keagamaan yang cukup baik. Tidak sekedar menggugat atau ingin terlihat berbeda.

Sulit bagi mereka untuk merima secara akal jika agama memberikan pembenaran atas hubungan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang tidak setara dan memarjinalkan satu atas yang lain, apalagi jika kemudian melahirkan kekerasan. Agama Islam dan agama-agama lain bagaimanapun diyakini pemeluknya masing dihadirkan Tuhan untuk membebaskan ketidakadilan antara manusia dengan alasan apapun baik gender, warna kulit, etnis, keyakinan maupun yang lainnya.

Namun seharusnya keberanian tersebut disambung oleh para santri yang  masih ada di pesantren, untuk berani mempertanyakan dan mempersoalkan ajaran konservatif yang tidak ramah perempuan. Sehingga dengan demikian pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan memiliki pandangan terbuka yang ramah bagi perempuan dan mampu menjawab problema kemajuan zaman.

Perempuan kelahiran Blitar Jawa Timur. Seorang santri Feminis. Saat ini menempuh pendidikan magister studi agama-agama.

2 thoughts on “Kenapa Kita Harus Mendobrak Kultur Pesantren yang Timpang”

Leave a Comment

%d bloggers like this: