Perbandingan (comparison) adalah proses yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagaimana tidak? Mulai dari kehidupan personal sehari-hari dalam membandingkan makanan yang enak dan tidak enak, sampai kehidupan sosial-akademis yang membandingkan data untuk dianalisa. Perbandingkan adalah hal yang hampir tidak bisa dielakkan oleh manusia, dari segala umur dan berbagai latar belakang identitas. 

Perkembangan ilmu pengetahuan juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusi perbandingan. Buahnya adalah berbagai kategori baru, hasil dari perbandingan atas kategori lainnya. Perbandingan telah menjadi bagian sejarah dalam memproses pengetahuan.

Akan tetapi perbandingan juga menghasilkan dampak yang merugikan karena tidak pernah dihasilkan dari perspektif yang netral. Maka jasa perbandingan tidak selalu berkontribusi pada kesejahteraan seluruh pihak, bisa saja hanya sekelompok tertentu yang diuntungkan dalam perbadingan tersebut. 

Dalam perbandingan, paling tidak ada tiga hal yang dilibatkan: si pembanding, pra-asumsi nilai atas objek yang dibandingkan, dan konsekuensi-konsekuensi atas perbandingan tersebut (Campbell, 4). Contohnya, dalam lomba kecantikan model perempuan: ada para juri yang membandingkan, ada pra-asumsi juri yang punya preferensi atas kecantikan tertentu, dan akan ada yang menjadi juara pertama dan terakhir sebagai konsekuensi.

Jadi yang menjadi juara pertama adalah hasil dari perbandingan berdasarkan penilaian tidak netral. Dan dampaknya tercipta standar cantik berdasarkan hirarki hasil perbandingan tidak netral tersebut. 

Bagaimana jika Kita Hidup dalam Budaya Membandingkan?

Hidup dalam budaya membandingkan sangat melelahkan. Budaya membandingkan membuat manusia terus menerus mengejar standar normal yang diciptakan oleh perbandingan atas standar ideal: paling cantik, paling sehat, paling cerdas, paling komunikatif, paling menarik, dan daftar paling lainnya yang tidak pernah habis.

Padahal konsep ideal dari waktu ke waktu dapat berubah, dan konsep ideal dari satu lokasi dengan lokasi lainnya bisa saja berbeda. Standar ideal tubuh perempuan cantik misalnya, di masa Yunani Kuno digambarkan tubuh yang sangat berisi, sedangkan pada saat ini yang digambarkan ideal oleh iklan televisi di Indonesia adalah tubuh cenderung kurus. 

Baca:  Teologi Agama Kristen yang bekontribusi pada Audisme

Jika kita membandingkan tubuh kita dengan tubuh standar ideal, maka kita terjebak dalam jeratan mental yang membuat kita tidak merasa berharga. Padahal standar ideal diciptakan oleh kelompok tertentu dengan maksud tertentu, yang seringkali hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Tidak memenuhi standar ideal, bukan berarti masuk dalam standar tidak ideal, karena manusia memiliki keragaman tubuh yang tidak terbatas. 

Kita cenderung tidak habis-habisnya mendefinisikan diri berdasarkan ‘apa yang bukan,’ dan ini sangat melelahkan. Misalnya kita bukan seperti versi standar cantik selebgram, maka kita mendefinisikan diri tidak cantik, atau jelek.

Atau contoh lainnya, kita bukan seproduktif para aktivis yang mengkampanyekan isu sosialnya, maka kita mendefinisikan diri bukan seorang feminis, karena tidak seperti aktivis tertentu. Perbandingan ini muncul karena cara berpikir biner (hitam putih) “karena saya bukan begitu, maka saya sudah pasti kebalikannya.”

Padahal manusia adalah makhluk yang tidak biner melainkan seringkali hidup dalam paradoks, perubahan, ketidakpastian, ketidakstabilan, dan beragam. Cara berpikir biner merugikan dan menyengsarakan mereka yang dihisap dalam hegemoni kenormalan. Bayangkan manusia yang tidak memenuhi kategori biner perempuan-laki-laki, mereka akan dianggap menyimpang dan diasingkan dalam masyarakat. 

Kategori biner juga akan cenderung melihat salah satu aspek dari dua hal yang dibandingkan lebih inferior dibandingkan yang lainnya. Misalnya kajian feminis mengkritik konsep patriarki yang mengunggulkan laki-laki atas perempuan. Contoh lainnya kajian disabilitas mengkritik kapitalisme yang menggungulkan produktivitas dan gaya hidup serba cepat, dibandingkan proses pengenalan diri (self-awareness) dan gaya hidup lambat (slow-living life).

Dalam kajian disabilitas, kategori biner menghasilkan ableisme, sebuah sistem diskriminatif yang membagi dan membandingkan manusia berdasarkan kategori kemampuan yang normal (Campbell, 10). Dampaknya, bukan hanya yang tidak masuk dalam kategori biner yang akan diasingkan, tetapi yang juga sudah masuk dalam kategori biner terjebak dalam hirarki-rangking kualitas. 

Baca:  Teologi Agama Kristen yang bekontribusi pada Audisme

Bertahan Hidup dalam Budaya Membandingkan

Papañca (conflicted thinking) adalah salah satu konsep dalam Budhisme yang menggambarkan diri melampaui kategori biner, seperti yang diciptakan oleh banyak Ilmuwan Barat. Cara berpikir Papañca dapat menolong kita untuk berpikir seperti prisma, bahwa setiap peristiwa dan berbagai proses kehidupan akan terus menerus berubah dan tidak stabil (Campbell, 7).

Menggunakan perspektif papañca, kita dapat menerima bahwa manusia adalah proses di dalam keterhubungannya dengan yang lain, melampaui kategori manusia dan non-manusia. Kita akan terus menerus berubah, termasuk dengan cara kita menerima perubahan, ketidakpastian, ketidakstabilan, bahkan paradoks selalu hadir dalam diri manusia. 

Tetap hidup dalam budaya membandingkan bukan berarti harus terjerat di dalamnya. Kita bisa tetap hidup dengan belajar berpikir dan bertindak non-biner, bahwa hidup tidak selalu berada dalam dua kategori, dan hal yang kontras pun bisa hadir secara bersamaan.

Kita boleh mengidentifikasi dengan kategori tertentu, akan tetapi perlu mengingat bahwa kategori tersebut tidak punya kuasa atas diri kita. Kita bisa saja berubah, orang lain bisa saja berubah dan itu adalah bagian dari kemanusiaan kita.

Membandingkan diri dengan standar ideal yang diciptakan budaya normal tidak membuat hidup kita lebih bahagia. Jerat budaya membandingkan sudah saatnya tidak dibudidayakan. Hidup kita melampaui segala bentuk perbandingan!

Sumber Rujukan:

Campbell, Fiona. (2019). Precision ableism: a studies in ableism approach to developing histories of disability and abledment. Rethinking History. 23. 1-19. 10.1080/13642529.2019.1607475.

Leave a Reply

Your email address will not be published.