Selasa lalu, saya bersama beberapa teman-teman mengadakan kegiatan nonton bareng film dokumenter berjudul Kinipan yang diproduksi oleh Watchdoc. Dokumenter ini berdurasi cukup panjang, 2 jam 38 menit yang dibagi kedalam 7 bab yang menceritakan kisah-kisah yang berbeda. Ada 2 tokoh utama dalam film ini, yaitu Basuki Santoso dan Feri Irawan dalam memperjuangkan lingkungan hidup di daerah mereka masing-masing.

Basuki Santoso membawa penonton mengenali Kalimantan Tengah dengan membicarakan isu deforestasi di sekitar taman nasional Tanjung Puting, penyerobotan kawasan hutan masyarakat adat Kinipan oleh pabrik perkebunan kelapa sawit, hingga ambisi pemerintah dalam proyek skala besar bernama food estate yang hanya mengulangi kegagalan pemerintah Soeharto di era Orde Baru.

Feri Irawan mengajak kita melihat bagaimana deforestasi di area Bengkulu Utara, kaitannya dengan pandemi akibat berkurangnya jarak antara manusia dan satwa liar karena semakin terkurasnya habitat mereka, kaitannya dengan omnibus law dan investasi asing hingga bagaimana visi pemerintah akan perdagangan karbon tidak sesuai dengan visi kesejahteraan masyarakat adat dalam menjaga hutan mereka. Ketidaksesuaian visi ini membuat perusahaan retorasi yang diizinkan pemerintah untuk beroperasi menjaga hutan dan masyarakat adat setempat mengalami ketegangan.

Secara umum, film Kinipan memiliki banyak sekali aspek untuk didiskusikan bersama. Contohnya saja ketika berbicara mengenai proyek food estate yang digagas karena dianggap saat ini kita sedang dalam krisis pangan, ini mengingatkan saya pada situasi ketika saya KKN dulu. Saya melakukan KKN di sebuah desa bernama Jejangkit Muara di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan pada 2018 lalu. Saat itu, untuk kegiatan Hari Pangan Sedunia, Jejangkit Muara digadang-gadang akan menjadi lumbung pangan nasional. Pembukaan lahan persawahan besar-besaran dilakukan oleh tentara, pun penanaman besar-besaran. Saya KKN bersama dengan banyak tentara yang lalu lalang pada saat itu.

Namun, persis seperti di film Kinipan, tidak semua padi yang ditanam bisa dipanen. Sebagian bahkan gagal panen. Meskipun, sangat susah mencari berita mengenai kegagalan panen di Jejangkit Muara ini dicari di dalam portal berita. Ada satu portal berita lokal yang memberitakannya yaitu jejakrekam.com dengan judul Padi di Lahan HPS Gagal Panen, Dinas TPH Kalsel Sebut Benih Itu Baru Ditanam. Saat ini, kabarnya lahan yang sudah terlanjur dibuka di Jejangkit Muara itu akan dialihfungsikan sebagai wisata eco park yang digarap oleh CV Tiara. Bukan lagi sebagai sawah.

Baca:  Perempuan Resah

Ini lah kenapa bab mengenai food estate dalam film Kinipan memiliki kedekatan personal dengan saya. Tapi, tentu saja, film ini bukan berarti tanpa kritik. Kritik saya terhadap film ini adalah kurangnya representasi perempuan didalamnya. Rasa-rasanya bisa dihitung dengan jari berapa banyak narasumber perempuan yang ada didalam film ini.

Isu lingkungan dan masyarakat adat yang disuarakan memang bagus tapi jika ingin mencari bagaimana perspektif perempuan dalam film ini apalagi mengaitkan perspektif tersebut dengan isu lingkungan jangan harap kalian dapatkan.

Karena kurangnya representasi perempuan dalam media, bisa berpengaruh terhadap gender gap dan gender norm yang ada di masyarakat. Di isu lingkungan pun begitu. Saya melihat perjuangan isu lingkungan kencang sekali diangkat, tetapi semuanya terasa masih sangat maskulin. Apakah ini kemudian jelek?

Saya pikir iya karena beberapa alasan. Pertama, cerita-cerita perempuan tidak tersampaikan sehingga pengalaman mereka tidak terdokumentasikan dengan baik. Padahal perempuan pun terdampak jika lingkungannya rusak. Dampak yang dialami perempuan pun bisa jadi sangat unik, misalnya langsung berkaitan dengan sistem reproduksi perempuan. Kita tidak akan tahu kaitan ini jika perempuan tidak bersuara dan membagikan pengalamannya.

Kedua, perempuan tidak memiliki ruang untuk melatih demokrasi. Dalam perjuangan suatu isu, kita juga dituntut untuk melatih hak-hak kita sebagai warga negara bukan? Misalnya ketika turun aksi, kita melatih hak kebebasan berekspresi kita. Kemudian ketika harus audiensi, lobi, negosiasi, itu juga adalah bentuk latihan kita untuk berargumen. Jika dalam suatu isu hanya ada laki-laki, maka semua ini akan dikerjakan oleh laki-laki, sehingga ada jurang pengetahuan antara laki-laki dan perempuan.

Bukan karena laki-laki lebih pintar atau perempuan lebih bodoh. Tetapi karena laki-laki memiliki banyak kesempatan untuk berlatih dalam panggung-panggung demokrasi. Untuk di daerah saya – Kalimantan Selatan – Saya merasa ruang-ruang untuk membicarakan isu lingkungan masih didominasi oleh laki-laki dan film Kinipan dengan minimnya representasi perempuan dalam membicarakan isu lingkungan sama sekali tidak membantu kondisi ini agar membaik.

Baca:  Kenapa Ibu Saya Lebih Unggul dari Lelaki

Jika dibiarkan terus-terusan, justru saya sangat takut akan muncul semacam labelisasi bahwa isu lingkungan adalah isunya laki-laki saja. Perempuan tidak perlu ikut campur pada isu lingkungan karena sudah cukup diwakili oleh laki-laki. Saya harap label ini tidak ada atau kalau pun ada bisa segera dihilangkan sebelum mengakar, karena itu tidak benar. Ketika lingkungan rusak, kita semua terdampak. Maka, isu lingkungan bukan milik saya saja, bukan milik laki-laki saja atau perempuan saja, tetapi milik semua orang.

Mahasiswa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari isu gender, feminisme, komunikasi, human rights, dan lain sebagainya. Dulunya aktif siaran di stasiun radio lokal dan sekarang masih berjibaku dengan tugas akhir. Doakan saja lulus dengan baik dan ilmunya berguna bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *