Mengenang Nh. Dini, dan Kenapa Perempuan Harus Menulis

NH Dini

Pasca reformasi 1998, dunia sastra Indonesia diwarnai dengan kehadiran pengarang perempuan seperti Ayu Utami, Dee (Dewi Lestari), Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki. Tetapi, jauh sebelum para pengarang perempuan pasca reformasi 1998 hadir dalam dunia sastra Indonesia, kita sudah punya satu pengarang perempuan yang konsisten menulis sedari tahun 1950an hingga akhir hayatnya di penghujung tahun 2018. Pengarang itu adalah Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau lebih dikenal dengan nama Nh. Dini.

Nh. Dini lahir di Semarang, 29 Februari 1936. Pada tahun 1960, ia mengikuti suaminya yang seorang diplomat berkebangsaan Perancis bertugas di berbagai negara, beberapa di antaranya adalah Perancis, Jepang, dan Kamboja. Tahun 1984, Nh. Dini kembali menetap di Indonesia setelah berpisah dengan suaminya.

Untuk mengenang penulis perempuan ini, Google doodle pada tanggal 29 Februari 2020 menampilkan ilustrasi Nh. Dini. Beberapa artikel online pada tanggal 29 Februari 2020 juga membahas tentang sosok Nh. Dini, tetapi pada umumnya artikel-artikel tersebut lebih menceritakan kisah hidup Nh. Dini sejak ia lahir hingga wafat, tetapi kurang mengangkat makna karya-karya yang dihasilkannya. Di sini saya ingin sedikit mengulas sosok Nh. Dini dari perspektif perempuan yang menulis.

Sekalipun Nh. Dini telah menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya pada tahun 1956, tetapi dapat dikatakan ia mengukuhkan diri sebagai pengarang di dunia kesusastraan Indonesia setelah karya monumentalnya, novel Pada Sebuah Kapal terbit tahun 1973. Mengapa karya ini disebut monumental? Saya coba ulas sedikit di sini.

Pada Sebuah Kapal bercerita tentang tokoh utama Sri, seorang istri diplomat yang tidak bahagia dalam kehidupan rumah tangganya karena opresi suaminya. Sri menjalin hubungan dengan kapten kapal yang ditemuinya di atas kapal. Ia berlayar hanya berdua dengan anaknya yang masih kecil karena suaminya sudah terlebih dulu berangkat menggunakan pesawat terbang. Di kapal inilah Sri merasa bebas karena terlepas dari suaminya.

Novel ini berani karena mendobrak tradisi dan mematahkan sosok perempuan ideal dalam dunia patriarki: perempuan yang patuh dan melayani suami dan dikonstruksikan menemukan kebahagiaan utama dengan menjadi istri dan ibu. Suara perempuan yang selama ini direpresi, yang ingin memberontak dari tatanan masyarakat patriarki tetapi juga sekaligus tetap terkungkung di dalamnya ditampilkan melalui tokoh Sri.

Baca:  Misbehaviour: Gerakan Perempuan Melawan Kontes Kecantikan

Tindakan Sri melakukan hubungan seksual selain dengan suaminya dapat dimaknai sebagai tindakan perlawanan terhadap norma patriarki, mendobrak nilai-nilai “perempuan baik-baik” yang selalu dibebankan pada perempuan. Sri adalah subyek yang berusaha menentukan jalan hidupnya sendiri. Setelah Pada Sebuah Kapal, arah karya-karya Nh. Dini menjadi semakin jelas: ia menyuarakan ketidakadilan gender di dalam masyarakat patriarki, khususnya di dalam rumah tangga.

Satu hal lagi yang menarik dari Nh. Dini adalah ia menuliskan kisah hidupnya dalam bentuk novel, yang dinamakan dengan “Seri Cerita Kenangan”, mulai dari kisah masa kecilnya  hingga masa tuanya. Dapat dikatakan tindakan menulis kisah hidup dalam bentuk novel ini adalah sikap pengarang mengabadikan hidupnya untuk dapat dibaca oleh orang lain.

Dengan kata lain, Nh. Dini berani bersuara: sebuah sikap perempuan yang tidak disenangi dalam dunia patriarki, karena hal ini akan menggoncang tatanan norma patriaki yang sudah mapan. Bordo (1993, 2003:177) mengatakan: “muteness is the condition of the silent, uncomplaining woman-an ideal of patriarchal culture.”

Kondisi perempuan yang membisu, yang tidak mengemukakan kemarahannya, yang menerima begitu saja setiap perlakuan tidak adil dalam dirinya adalah kondisi yang sangat ideal dan diharapkan terus ada secara berkesinambungan dalam masyarakat patriarki. Semakin bungkam perempuan, semakin kukuh patriarki sebagai wacana dominan.

Perempuan diharapkan untuk diam, untuk menyimpan rapat-rapat isi hatinya dan tidak membuka kisahnya pada orang lain. Kehidupan perempuan dianggap sebagai ranah pribadi yang tidak pantas untuk diceritakan. Dalam karya sastra pun, tema kehidupan perempuan kerap kali disepelekan dan tidak dianggap signifikan, sebuah praktik mematikan suara perempuan dan mengabadikan wacana dominan patriarki.

Di saat tindakan menceritakan kehidupan pribadi dianggap tidak pantas, Nh. Dini justru melakukan yang sebaliknya: ia mengabadikan cerita hidupnya dengan penanya sendiri. Seri cerita kenangan yang ditulisnya terdiri dari 15 buku yang ditulisnya sejak tahun 1978 hingga 2018, mengangkat kisah tokoh utama perempuan bernama Dini pada masa anak-anak, remaja, dewasa, hingga akhirnya masa lansia.

Dua novel terakhir dalam “Seri Cerita Kenangan” adalah Dari Ngalian ke Sendowo (2015) dan Gunung Ungaran: Lerep di Lerengnya, Banyumanik di Kakinya (2018), yang menceritakan tentang masa lanjut usia tokoh utama Dini yang hidup seorang diri. Kesepian menyelimuti, fisik pun tidak sekuat saat masih muda, tetapi semangat hidup, keberdayaan dan kemandirian menjadi jiwa dari dua novel ini.

Baca:  Pernikahan dan Krisis Eksistensi

Sebuah pendobrakan nilai, karena perempuan usia lanjut biasanya dianggap tidak produktif, lemah dan tidak berdaya. Perempuan yang sudah mengalami masa menopause dan tidak punya kemampuan reproduksi dimarjinalkan sebagai makhluk lemah di pinggiran ruang masyarakat.  Tetapi yang terlihat pada dua novel ini adalah gambaran yang sebaliknya. Tokoh utama Dini justru terlihat penuh semangat hidup, banyak berkegiatan dan tetap menulis. Sebuah penceritaan yang konsisten mendobrak tatanan norma patriarki hingga akhir hayatnya.

Saya sedikit mengerutkan kening membaca judul salah satu artikel online mengenai Nh Dini pagi ini. Artikel tersebut berjudul  “KISAH TRAGIS NH Dini Google Doodle Sabtu (29/2), Bercerai, Tinggal di Panti hingga Kecelakaan Maut.” Begitu kental nuansa patriarki pada judul ini, seolah-olah perempuan yang bercerai dan tinggal seorang diri saat usia lanjut adalah momok bagi perempuan.

Padahal, setiap keputusan tersebut, baik tinggal di panti maupun bercerai, dibuat secara sadar oleh Nh. Dini. Syukurlah, kita memiliki warisan abadi berupa karya-karya novel yang banyak bercerita tentang kehidupan pribadinya. Kita dapat percaya pada sumber ini, karena penulis sendiri yang menuliskan ceritanya, bukan orang lain yang merangkai kisahnya.

Dari Nh. Dini kita belajar bahwa perempuan yang menulis adalah perempuan yang menjadi subyek atas dirinya sendiri, yang menolak kisah hidupnya diceritakan atau ditentukan oleh orang lain. Ini adalah pengukuhan terhadap otoritas diri, terhadap hak untuk menjalani hidup sesuai dengan pilihannya sendiri, bukan meleburkan diri ke dalam wacana dominan patriarki.

Daftar Referensi:

Bordo, S. (2003). Unbearable Weight: Feminism, Western Culture, and The Body. Berkeley and Los Angeles: University of California Press.

Rouli Esther Pasaribu adalah seorang ibu, istri dan dosen. Tertarik pada isu gender setelah ia menikah dan merasakan betapa norma-norma patriarki sungguh merugikan hidup. Senang mendengarkan musik klasik dan membaca novel di waktu senggang.

Leave a Comment

%d bloggers like this: