Berhentilah Menghamba Pada Cinta Lelaki

Tak jarang sekali saya menemukan perempuan yang masih menghamba pada cinta lelaki. Budaya yang patriarkis memang mengkondisikan perempuan untuk menghamba pada cinta lelaki, terutama jika lelaki tersebut memiliki jabatan tinggi dan kekayaan tak ternilai. Perempuan dibuat mengejar lelaki dan rela melakukan apapun, bahkan jika apa yang dilakukannya membuat dirinya merasa tak nyaman.

Perempuan yang sama pula sering mendaku dirinya feminis dan mandiri, namun tak jarang mereka masih menuhankan lelaki dalam urusan cinta. Mereka masih membenarkan ketika lelaki yang mereka dambakan atau pasangan mereka marah ketika mereka mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, seperti melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, atau bahkan menolak melakukan sesuatu yang pasangannya minta. Mereka masih belum memahami bahwa ada ketimpangan relasi ketika relasi tersebut dibangun berdasarkan status dan validasi sosial serta penampilan luar semata.

Jika kita tak ingin menggantungkan diri kita kepada lelaki dan menjadi berdikari, tentunya kita harus berdaya secara finansial dan pemikiran. Selain berdaya kita harus mencintai diri kita sendiri dan merasa nyaman dengan diri kita. Jika kita tak mencintai diri kita sendiri maka bagaimana kita bisa mengharapakan seseorang dapat mencintai diri kita apa adanya?

Kita harus belajar berdamai dengan bentuk tubuh kita sendiri. Baik itu dengan berat badan, warna kulit, tinggi badan dan segala hal yang dianggap tak sempurna di masyarakat. Untuk apa mengharapkan cinta lelaki jika ia hanya menginginkan kita tampak cantik dengan terlihat putih, atau tampak tinggi dengan menggunakan sepatu hak tinggi? Padahal itu semua menyiksa. Untuk apa pula mengharapkan berpasangan dengan lelaki yang hanya mau sama kamu karena kamu mau melakukan pekerjaan rumah tangga sedangkan dirinya tidak mau?

Ya, siapa saja berhak memiliki kriteria untuk dijadikan pasangan, seperti orang yang tak merokok, gaya hidup sehat, kemampuan bertahan hidup yang baik dengan pekerjaan dan pendidikannya, atau preferensi fisiknya. Namun jika hanya itu saja yang dijadikan landasan tanpa ada pemahaman mengenai relasi yang sehat, maka tentunya hubungan tersebut akan penuh manipulasi dan menjadi transaksional.

Baca:  Perhiasan Peradaban

Untuk menjelaskan hubungan yang manipulatif dan transaksional dapat dijelaskan seperti ini…

“Aku mau sama kamu karena kamu cantik, maka dari itu aku mau bayarin pengeluaran dan belanja kamu.” Otomatis kamu akan melakukan apa saja agar terlihat cantik sehingga ia tidak pergi dari kamu.

“Aku mau sama kamu karena kamu mau melakukan pekerjaan rumah tangga” padahal dia sendiri tidak bisa melakukan kerja domestik dan hanya menunggumu melakukannya dengan imbalan uang belanja harian tanpa menghargai kerja-kerja rumah tangga, padahal pekerja rumah tangga pun dapat uang untuk melakukannya.

Atau “Aku hanya mau kasih kamu uang belanja jika kamu mau melakukan seks denganku.” Mau tak mau kita memaksakan diri kita membuka selangkangan ketika kita tidak ingin bercinta. Akhirnya cintanya pun tak tulus dan timpang.

Hal serupa juga dilakukan oleh perempuan seperti “Gue gak akan mau sama dia kalau dia gak punya jabatan.” Akhirnya perempuan juga tidak tulus mencintai dan kembali lagi menggantungkan hidupnya kepada lelaki, padahal niat kita berdaya eh tapi aja menaruh standar-standar yang letaknya hanya sebagai pemanis saja.

Tentu tak ada yang salah menjadi bucin alias budak cinta yang rela melakukan apapun untuk seseorang yang dikasihinya namun pastikan kebucinan kamu itu tidak timpang juga tak bucin sendirian. Kebucinanan seharusnya setara serta tak merugikan orang lain dan teman-teman di sekitarmu. Menjadi bucin pun bukan atas dasar manipulasi yang dilakukan oleh pasangan kamu.

Ada kalanya pula saya juga ingin menyenangkan pasangan saya namun saya tak akan melakukannya jika itu menghilangkan kenyamanan saya. Sebagai contoh, jika saya baru pertama kali kencan dengan seseorang, saya tidak suka jika saya terlalu banyak berdandan terutama mengenakan sepatu hak tinggi yang buat saya sakit saat berjalan atau mengenakan baju yang ribet. Saya lebih suka menjadi diri saya sendiri, karena jika ia tidak suka dengan diri saya yang apa adanya ya buat apa saya suka dengan dia?

Baca:  Kenapa Ibu Saya Lebih Unggul dari Lelaki

Di lain pihak, saya juga ingin memberikan kejutan kecil dengan memakai lingerie untuk pasangan saya tanpa diminta sebagai wujud rasa terima kasih dan rasa sayang saya padanya. Hal ini saya lakukan jika saya sudah cukup lama dengannya dan saya nyaman melakukannya. Ketika melakukannya pun tak ada paksaan dan manipulasi karena kita berdua cukup setara.

Bucin pun juga boleh asal kita tak merugikan teman kita sendiri, seperti memanfaatkan kebaikan teman perempuan dan menjual teman sendiri agar ia mau dijodohkan dan ditiduri dengan teman lelaki pasangan kamu hanya karena ia sudah membayar trip perjalanan. Bisa-bisa ini menjadi perdagangan manusia.

Karena tak jarang, perempuan juga menjadikan perempuan lainnya sebagai umpan agar ia bisa mendapatkan cinta dari lelaki yang ia dambakan. Ia tak segan-segan dan rela melakukan apapun hingga menjerumuskan sesama perempuan karena ia menghamba kepada cinta lelaki.

Perempuan yang seperti ini tidak feminis dan hanya menyesatkan sesama perempuan. Dia sama saja dengan perempuan agen patriarki karena menempatkan perempuan sebagai objek yang tak punya kuasa termasuk kuasa atas dirinya sendiri. Perempuan yang seperti ini juga membiarkan dirinya dikuasai bahkan ketika ia sudah berdaya sekalipun.

Inilah patriarki. Membunuh kemanusiaan bahkan menggerogoti otak manusia termasuk otak perempuan itu sendiri untuk menjatuhkan sesama hanya karena ia menghamba pada lelaki. Ia rela menyakiti sesama perempuan untuk mendapatkan cinta lelaki.

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.

Leave a Comment

%d bloggers like this: