Menghormati Privasi Mengajarkan Saya Tentang Relasi Sehat

Seringkali saya menemukan banyak teman perempuan saya yang berbagi akun media sosial dengan pasangannya, begitu pula sebaliknya. Atau kadang bertukar handphone (telepon genggam). Kesannya lucu dan romantis karena bisa berbagi hal-hal dalam kehidupan mereka, namun sayangnya seringkali hubungan seperti itu berakhir dengan cerita yang tak menyenangkan. Keduanya putus akibat salah satu atau keduanya terlalu posesif, dan biasanya dibalik posesifnya seseorang, salah satunya ada yang selingkuh.

Tidak ada yang salah dengan menjadi bucin (budak cinta) karena siapa sih yang enggak butuh afeksi hari ini? Namun kita harus bisa menentukan Batasan kita dengan pasangan kita untuk melindungi kemandirian kita dan menghargai kemandirian serta ruang-ruang orang yang kita sayangi.

Sayangnya, kita jarang diajarkan untuk menghormati ruang-ruang privasi seseorang, bahkan seringkali kita menuntut hal ruang privasi dirinya menjadi milik kita. Tidak bisa dipungkiri hal ini terjadi karena kita dibesarkan dengan orangtua kita yang melekat dekat dengan kita. Banyak dari kita yang besar di rumah-rumah petak yang tidak memberikan ruang-ruang privasi, sehingga konsep privasi terasa tidak ada. Dan tentunya masih ada dari kita yang senang tidur sekamar dengan orangtua kita. Hal ini bisa dipahami.

Namun yang pasti kita bisa mulai membangun hubungan yang menghormati batas-batas privasi kita dengan pasangan kita. Membangun batasan bukan berarti cinta seseorang terhadapmu berkurang atau bahwa ia egois karena tidak mau berbagi. Itu hanya berarti ia menghargai independensi kamu sebagaimana ia menghargai independensi dirinya.

Kita tetap bisa bucin dan memberikan afeksi dengan mempertahankan batas-batasan privasi kita lho. Caranya kita harus belajar memahami apa kebutuhan kita dan kebutuhan pasangan kita.

Ketika saya ingin sendiri dan tidak ingin diganggu lantaran saya sedang kerja atau sedang tidak dalam emosi yang stabil. Saya akan bilang bahwa saya tidak ingin diganggu dari jam sekian hingga jam sekian.

Baca:  Diskriminasi Kelompok Minoritas Menghambat Anak Mengakses Kesehatan

Begitu pula dengan pasangan saya. Walaupun caranya berbeda dengan saya, dia tidak akan mengangkat telpon saya ketika ia sedang bekerja atau ingin waktu istirahat. Saya pun akhirnya berusaha memahami kebiasaannya.

Lantas bagaimana kalau dia ternyata selingkuh dan diam-diam menghabiskan waktu dengan perempuan lain, kemudian menghilang tanpa ada kabar? Berarti dia sudah tidak menginginkan saya lagi. Saya akan membuka pintu selebar-lebarnya untuk dia meninggalkan hubungan kami.

Tentu ada kalanya saya insecure dan merasa tidak aman dengan suatu hal, contohnya rekan kerja perempuannya yang terlalu dekat dengannya. Ketika saya merasa insecure atau jealous, saya akan bilang padanya dan tak akan berusaha menutupinya. Saya akan bilang baik-baik tanpa harus memicu kemarahannya.

Jika ia bersikap defensif dan membalasnya dengan kemarahan, maka saya lebih baik mundur saja ketimbang mempertahankan hubungannya. Namun jika ia bisa menjelaskan dengan kepala dingin dan meyakinkan saya bahwa tidak ada apa-apa dan tidak perlu ada yang dirisaukan dan berjanji tidak akan membicarakan temannya, maka saya akan menghargaunya.

Batasan ruang ruang ini juga harus dibangun dengan kejujuran dan juga keleluasaan untuk membicarakan tentang hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Ia juga dibangun dengan penerimaan dan pemahaman terutama terhadap diri kita sendiri dan pasangan.

Mengakui adanya perasaan insecure itu penting. Bahkan jika kita membutuhkan validasi dari pasangan kita, maka kita bisa membicarakannya. Tanya apakah dia berkenan untuk memberi validasi dan dukungan terhadap diri kita. Ada yang namanya bahasa cinta dan setiap bahasa cinta orang-orang pun berbeda-beda lho.

Pengalaman saya membicarakan hal yang membuat saya insecure membuat pasangan saya mengerti bagaimana ia harus bertutur pada saya. Bukan berarti saya mengatur bagaimana dia bicara atau mengekspresikan dirinya, namun pada akhirnya ia menyadari mana yang pantas dilakukan dan katakan, mana yang tidak, mana yang menyakitkan dan mana yang wajar.

Baca:  Feminis Tak Bisa Masak? Masa sih?

Begitu pula sebaliknya. Pasangan saya akan menegur saya jika ada hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Saya akan berhenti melakukan hal yang membuat dia merasa tidak nyaman dan menjadi pribadi yang lebih baik. Tentunya saya menerima kritikannya jika itu masuk akal dan tidak manipulatif.

Kalau kamu takut pasanganmu selingkuh atau tidak bisa percaya dia bisa setia padamu hanya karena dia tidak mau memberi tahu isi handphonenya, maka lebih baik kita introspeksi. Apakah kita pantas berrelasi ketika kita tidak bisa menghargai batasan seseorang?

Membicarakan tentang batasan yang membuat kita nyaman dan tidak nyaman adalah fondasi dalam membangun sebuah hubungan yang sehat. Jika pasangan kita bisa menghargai batasan kita maka kita tidak perlu merasa khawatir.

Perasaan dan perilaku posesif terhadap pasangan bisa menjadi awal dari kekerasan dalam sebuah hubungan, karena membuat orang menggantungkan hidupnya kepada orang lain melalui bentuk kontrol-kontrol terkecil. Padahal rasa posesif yang berawal dari rasa insecure atau rasa tidak aman akan diri sendiri pada sebuah hubungan.

Daripada berusaha mengontrol dan mengatur apa yang pasangan kita lakukan, bukankah kita lebih baik membicarakannya dan mencari jalan keluarnya bersama-sama bukan?

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.

2 thoughts on “Menghormati Privasi Mengajarkan Saya Tentang Relasi Sehat”

  1. Kaa, aku lagi ngalamin banget :'( aku ingin ngehargain privasi dia ka cuma karena jarak, aku jdi curiga sama dia dan ternyata curiga nya aku bener 🙁

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: