Menstruasi Ketika Miskin

Minimnya pengetahuan mengenai menstruasi mengakibatkan perempuan kikuk menghadapinya. Waktu saya duduk di bangku SMP, saya kebingungan ketika pertama kali melihat bercak darah muncul di celana dalam. Ketika ibu membelikan pembalut, saya juga dalam keadaan panik memakainya. Pasalnya saya tidak tahu cara memakainya dan sebelumnya saya juga belum pernah melihatnya langsung.

Saat itu saya tidak paham mengenai menstruasi. Sebab saya tidak mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. Ada sih dalam pelajaran IPA atau Biologi namun hanya normatif saja. Menstruasi masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Padahal menstruasi adalah siklus biologis alami yang dilalui setiap perempuan.

Beban perempuan yang sudah berlipat ganda bertambah saat menstruasi. Ketika menstruasi membuat seluruh badan terasa pegal-pegal, sendi linu, pusing, mual dan lemas, perempuan rentan mengalami perundungan dan diskriminasi karena banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor dan memalukan.

Demi kebersihan, perempuan harus siap sedia dengan stock pembalut dan itu satu kotak pun enggak cukup, sebab disarankan untuk menggantinya setiap empat hingga enam jam sekali. Untuk dapat menggunakannya, perempuan harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Saya sendiri harus mengeluarkan uang sekitar 25.000 – 35.000 rupiah per bulan untuk membeli pembalut. Harga yang terhitung mahal, apalagi bagi perempuan miskin.

Anak-anak perempuan yang sedang menstruasi kerap kali tidak berangkat sekolah. Mereka tertinggal materi pelajaran sekolah. Dilansir dari Global Citizen, menurut UNESCO ada 131 juta perempuan tidak lanjut sekolah – dan 100 juta diantaranya adalah perempuan berusia SMA. Ada banyak alasannya dan menstruasi menjadi alasan utama.

Dalam budaya patriarki yang masih sangat kuat di Indonesia, perempuan sudah dibatasi untuk menempuh jenjang pendidikan. Ditambah lagi, perempuan harus melewatkan beberapa hari tidak masuk sekolah. Hambatan tersebut menjadi salah satu alasan perempuan dimiskinkan bahkan secara sistematis.

Produk sanitasi seperti pembalut, tampon atau pun cawan tidak mudah diakses sebab harganya mahal. Hal itu  menjadi beban perempuan dalam perjuangannya menggapai ilmu pengetahuan.

Baca:  5 Alasan Kenapa Feminis Harus Berhenti Memakai Produk Perusak Lingkungan

Global Citizen juga mengungkapkan bahwa jutaan anak perempuan putus sekolah setiap tahun karena period poverty. Di pedesaan Afrika Selatan, anak perempuan sering menggunakan kain lap atau koran dari pada pembalut atau tampon selama menstruasi karena tidak sanggup membeli alat sanitasi.

Dalam Islam, perempuan yang sedang menstruasi kerap kali dikucilkan. Perempuan dilarang membaca al-qur’an, masuk ke masjid dan bergabung pengajian. Lalu gimana kalau perempuan sedang semangat-semangatnya belajar tapi malah dijauhkan dari ilmu pengetahuan? Itu juga termasuk perampasan hak perempuan dari akses pendidikan.

Disini kita melihat bahwa, perempuan mengalami pemiskinan sebab akses-akses terhadap pemenuhan haknya tidak terpenuhi.

Perempuan-perempuan yang bekerja di pabrik berupaya keras untuk mengelola menstruasinya. Kerap kali mereka berada dalam situasi kerja yang eksploitatif: mengejar target produksi, jam kerja yang panjang tanpa gaji lembur, hingga pembatasan waktu ke toilet. Hal ini membuat perempuan kesulitan untuk menjaga kesehatan reproduksinya.

Dilansir dari Majalah Sedane perempuan yang sedang menstruasi akan berada dalam bahaya jika tak bisa ke toilet. Perempuan tidak akan bisa mengganti pembalut dan akan berujung pada infeksi. Banyak cerita yang menjelaskan bahwa kebanyakan buruh perempuan menderita infeksi saluran kencing akibat sulitnya ia mendapat akses kebersihan.

Pengusaha pabrik terus melakukan eksploitasi kepada pekerjanya. Pekerja perempuan yang membutuhkan cuti menstruasi diperumit dengan berbagai syarat. Ada yang harus menunjukan darah menstruasi melalui kapas. Ada juga yang harus pakai surat sakit dari dokter. Padahal menstruasi kan bukan penyakit.

Tentunya cuti menstruasi telah diatur dalam Undang Undang Ketenagakerjaan. Namun ketika pekerja perempuan mengambil cuti justru mengalami banyak intimidasi. Intinya, pekerja perempuan dipaksa terus bekerja, agar para pengusaha maksimal mendapatkan profitnya.

Perempuan miskin terancam kesehatan reproduksinya. Saya pernah melewati pinggiran sungai di sekitar Tangerang. Ketika itu, saya melihat para laki-laki sedang mandi, ibu-ibu sedang mencuci pakaian dan beberapa meter kemudian orang lain sedang masuk jamban di sungai itu. Air sungai tampak sangat cokelat. Tapi para warga tetap menggunakannya.

Baca:  Dimanakah Ilmuwan Perempuan Indonesia?

Dalam situasi seperti itu, perempuan akan kesulitan mengelola kesehatan selama menstruasi. Perempuan membutuhkan air bersih yang layak. Akses terhadap air bersih di Indonesia belum 100 persen. Data Badan Pusat Statistik pada 2019 menunjukan Persentase Rumah Tangga dan Sumber Air Minum Layak sebesar 89,27 persen.

Belum lagi fakta bahwa perempuan miskin harus berjuang membeli produk sanitasi sebab harganya mahal. Pekerja perempuan mengalami eksploitasi dan perampasan hak cuti menstruasi. Sementara perempuan miskin masih sulit mendapatkan air bersih.

Apalagi dalam menghadapi situasi pandemi seperti ini. Perempuan membutuhkan bantuan langsung tunai dan bahan pangan layak. Perempuan membutuhkan produk sanitasi gratis yang higienis dan aman serta akses sanitasi layak dan air bersih gratis untuk mempermudah mengelola kebersihan menstruasi.

Air bersih juga dibuthkan sebagai upaya agar terhindar dari berbagai penyakit, apalagi virus corona. Namun nyatanya, pemerintah justru menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk kartu pra kerja. Kartu  yang sama sekali tidak membantu pemenuhan kebutuhan warganya terutama kebutuhan perempuan.

Di kala pandemi ini, perempuan harus terus bersuara meski #dirumahaja. Oleh karena itu sudah saatnya perempuan menuntut pemenuhan hak-haknya, termasuk pemenuhan kebutuhan akses dan produk sanitasi gratis yang layak!

Perempuan muda yang semangat belajar, demokratis dan feminis. Saat ini bekerja sebagai staf divisi Bantuan Hukum Migrant CARE

Leave a Comment

%d bloggers like this: