Pekerja Seks Berdaulat: Menyangkal Kejamnya Dunia Prostitusi di Indonesia

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel di situs web feminis yang membahas pekerja seks yang berdaulat. Dalam artikel tersebut, si penulis berargumen bahwa tidak semua pekerja seks adalah korban yang sangat membutuhkan uang. Ada juga pekerja seks yang menjadikan profesinya secara mandiri, yang cenderung lebih merdeka dan berdaulat akan tubuh dan dirinya sendiri. Artikel ramai dibahas dan banyak mendapat kritik dari publik.

Menurut saya, memang ada segelintir dari pekerja seks yang memiliki kemewahan seperti itu. Namun, bisakah argumen “pekerja seks adalah pilihan yang berdaulat” dapat diterima di dalam realitas sosial Indonesia? 

Nyatanya jauh panggang dari api. Dalam konteks masyarakat Indonesia, menjadi seorang pekerja seks, terutama perempuan, bukanlah sebuah pilihan yang berdaulat. Mayoritas pekerja seks perempuan di Indonesia terpaksa melakukan pekerjaan seperti itu karena desakan ekonomi. Banyak dari mereka yang tidak memiliki pilihan lain dan akhirnya terjun ke dunia prostitusi.

Guru besar studi antropologi Universitas Indonesia yang fokus pada isu perempuan dan keadilan jender, Sulistyowati, pernah mengatakan pekerja seks kelas bawah menempati posisi terbanyak di Indonesia. Ucapan itu sangat masuk akal mengingat besarnya jumlah penduduk miskin di negara ini.

Ragam agenda pembangunan yang mengdepankan investasi dan kapital membuat orang miskin—terutama perempuan—tersisih dari lapangan pekerjaan yang layak. Lagi-lagi, ini menyebabkan banyak dari perempuan itu terjun ke dunia prostitusi. Ada beberapa penelitian yang menjelaskan mengapa seorang pekerja seks memilih terjun dan tidak bisa keluar dari dunia prostitusi: keterbatasan tingkat pendidikan, keterampilan yang relatif rendah, sikap pasrah terhadap keadaan karena stigma yang harus dihadapi, dan juga banyak yang menjadi tulang punggung keluarga.

Apalagi, kita tak bisa menegasikan keadaan bahwa relasi antara pekerja seks dan klien sangat timpang dan eksploitatif. Namun, kenyataan pahit itu harus dihadapi pekerja seks hanya untuk menyambung hidupnya. 

Di Bawah Patriarki dan Kapitalisme, Pekerja Seks Sulit Menemui Relasi yang Setara 

Prostitusi dalam budaya patriarki telah menyeret perempuan dalam spiral eksploitasi, subordinasi, dan kekerasan tanpa henti. Pekerja seks selalu ditempatkan sebagai obyek seksual, dibandingkan sebagai manusia merdeka. Dalam dunia prostitusi, hasrat maskulinitas—yang di dalamnya ada rasa keinginan penuh untuk mendominasi—dapat dipenuhi. 

Tak hanya itu, di bawah jerat kapitalisme, dunia prostitusi juga sama menindasnya: mucikari yang bertindak sebagai kapitalis dan klien sebagai konsumen. Keduanya mudah memperlakukan pekerja seks sesuai dengan kehendak mereka, apalagi pekerja seks kelas bawah yang tak punya pilihan pekerjaan lain. Mereka menempatkan pekerja seks dengan posisi tawar yang lemah sehingga, mau tidak mau, suka tidak suka, keinginan klien harus dipenuhi. Budaya patriarki dan kapitalisme yang bekerja sama kuatnya membikin pekerja seks rentan dieksploitasi secara seksual.

Baca:  Salahkah Ibu Merasa tak Bahagia?

Saya pernah melakukan penelitian dengan mewawancarai sejumlah mantan pekerja seks. Kepada saya, mereka mengaku banyak mendapat permintaan klien dengan variasi aktivitas seks yang tak terduga. Kata mereka, banyak dari para klien yang mengancam akan membayar setengahnya, jika pekerja seks ingin memakai alat pengaman. Permasalahan kesehatan reproduksi juga yang pada akhirnya akan dihadapi oleh pekerja seks.

Jika kita mau menelusuri lebih dalam, pekerja seks juga dihadapkan dengan ancaman kekerasan fisik, psikis, dan seksual. Kekerasan fisik terjadi secara berulang, begitu juga dengan kekerasan seksual dari mulai pelecehan hingga pemerkosaan. Kekerasan psikis pun sangat sering terjadi. Bukan hanya mendapat pandangan yang merendahkan, pekerja seks juga kerap merasa tereksklusi karena stigma di masyarakat juga sangat kuat. Bahkan beberapa dari mereka akan mempersepsikan dirinya sebagai seseorang yang “kotor” dan “pendosa”.

Beban berat yang dihadapi pekerja seks, mau tidak mau, harus dijalani—kendati upah yang didapatkannya tidak seberapa. Dengan begitu, risiko menjadi pekerja seks tidak bisa disamakan dengan risiko pekerjaan lain.

Eksit dari Dunia Prostitusi 

Banyaknya pemicu, halangan, dan kerugian struktural yang dialami pekerja seks, membuat transisi untuk keluar dari dunia prostitusi sangat sulit untuk dilakukan. Menghancurkan akar masalah—yaitu patriarki dan kapitalisme—memang solusi utamanya. Namun, upaya penghancuran itu butuh perjalanan yang sangat panjang untuk ditempuh. Walau demikian, ada beberapa hal yang bisa kita semua lakukan untuk membantu pekerja seks keluar dari dunia prostitusi secara perlahan.

Pertama adalah memberi dukungan sosial. Beberapa faktor kunci untuk mendukung pekerja seks keluar dari dunianya adalah dengan peduli dengan kondisi emosionalnya, memberi bantuan secara nyata, hingga memberi cinta, kasih sayang, serta dorongan. Itu semua dilakukan sebagai kekuatan atau suntikan positif untuk mereka keluar dari dunia prostitusi. 

Kedua adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan baru yang mudah diakses. Dengan lapangan pekerjaan lainnya yang sulit diakses, banyak dari pekerja seks akhirnya kembali menjajakan diri. Berbagai alasan lain yang ditemui, semisal upah di pekerjaan lainnya yang tak mencukupi kebutuhan harian atau pelatihan dalam rehabilitasi yang tak relevan dengan kondisi sekarang. Lingkaran setan ini harus diputus.

Berupaya menghapus stigma adalah langkah ketiga yang harus dilakukan. Langkah ini menjadi sangat penting mengingat stigma negatif yang kuat menempel ke pekerja seks. Kentalnya stigma dapat membuat pekerja seks sangat rentan untuk kembali ke dunia prostitusi. Rasa tidak nyaman ketika bekerja atau bersosialisasi di masyarakat, akan medemotivasi mereka sehingga pasrah terhadap keadaan dan kembali.

Baca:  Perempuan Kepala Keluarga itu Ada Dimana-mana

Dalam penelitian yang pernah saya lakukan, stigma negatif pada akhirnya mengarahkan masyarakat untuk mengeksklusikan para pekerja seks. Dalam beberapa kasus, pekerja seks kerap dijauhi, dikucilkan, bahkan dilempari batu, karena dianggap sebagai “penyakit”. 

Langkah keempat, perlu adanya upaya konkret untuk mendekriminalisasi pekerja seks. Ini juga langkah penting, terlebih aparat negara kerap berpandangan dan bertindak misoginis terhadap pekerja seks. Hal tersebut membuat pekerja seks selalu dikriminalisasi. Padahal, yang seharusnya dikriminalisasi adalah mucikari dan klien. Upaya tersebut salah satunya dapat mengurangi jumlah “permintaan di pasar”. 

Yang kelima dan yang terpenting, adalah menciptakan akses yang seluas-luasnya bagi perempuan untuk meraih pendidikan. Ini adalah cita-cita jangka panjang pekerja seks yang dapat digapai dengan intervensi pemerintah lewat kebijakan yang komprehensif. Salah satu penyebab menjamurnya pekerja seks perempuan karena kebijakan yang selalu memiskinkan perempuan. Menciptakan kebijakan terkait akses pendidikan yang sensitif jender, bisa menjadi salah satu cikal bakal perubahan itu.

Oleh karena itu, menjadi sangat masuk akal ketika pekerja seks terpaksa terjun ke dunia prostitusi karena desakan ekonomi. Kita tahu dunia prostitusi sangat kejam dan eksploitatif, kasus kekerasan yang terjadi secara terus menerus, risiko-risiko kesehatan dan lainnya kerap dirasakan pekerja seks. Namun, menyiasati pekerja seks agar mampu keluar dari dunia prostitusi sangat sulit selama kita masih ada di bawah patriarki dan kapitalisme.

Dari sini, pada akhirnya, kita seharusnya bisa paham bahwa sebenarnya menjadi pekerja seks bukanlah sebuah pilihan yang berdaulat melainkan, penindasan sistematis terhadap perempuan.[

Seorang feminis dan vegan yang berfokus pada isu ekofeminisme. Pisau analisis gender menurutnya lebih tajam untuk menganalisis lapisan penindasan dari kondisi perubahan iklim yang sedang terjadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *