Ketika Perempuan Dihadapkan Pada Mertua Patriarkis

Representasi konflik antara sesama perempuan selalu menarik untuk dianalisa secara kritis sebagai sebuah ironi. Tidak hanya diabadikan sebagai figura cerita didalam film, sinetron, atau seri komedi, sayangnya pertarungan sengit itu benar-benar ada dan laki-laki selalu menjadi subjek yang diperebutkan. Yang paling miris adalah pertarungan yang ditunggangi oleh relasi kuasa, yakni antara mertua dengan menantu dan tentunya kedua-duanya berjenis kelamin perempuan. Mengutip DR. Mardety Mardinsyah. Msi dalam blog Hermeneutika Feminisme, kehadiran menantu sering diartikan sebagai kompetitor dalam arena keluarga besar. Demikian pula sebaliknya.

Tidak jarang, konflik yang berkepanjangan antara mertua dan menantu membawa kesengsaraan yang berkepanjangan di keluarga. Contoh paling populer yakni di kisah dongeng anak nusantara, yakni Malin Kundang. Awalnya pemuda miskin tersebut digambarkan sangat menyayangi Ibunya, kemudian timbul niatnya membahagiakan perempuan tua tersebut dengan mengubah nasib dan merantau ke negeri yang jauh. Akhirnya setelah hidupnya berubah, ia kembali ke kampung halamannya dengan membawa serta istrinya untuk diperkenalkannya pada ibunya. 

Dari berbagai referensi yang ada di buku cerita sebenarnya tidak banyak menggambarkan sifat dan karakter sang istri, namun di berbagai penokohan istri malin kundang digambarkan sebagai perempuan bangsawan yang sombong. Ia meremehkan perempuan tua itu, sehingga membuat Malin Kundang merasa malu dan tidak mengakui ibunya. 

Selain itu, ada juga penggambaran menarik relasi kuasa ini dari sebuah novel Timur Tengah yang berjudul “Istri untuk Anakku” karya Ali Ghalem. Alkisah digambarkan seorang menantu bernama Fatiha, perempuan yang bercita-cita tinggi dan berkeinginan hidup independen namun harus mengubur mimpinya oleh karena pemaksaan perkawinan dengan seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Cerita ini semakin kompleks dikarenakan ia harus tinggal di keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai patriarkis. Tidak hanya berkonflik dengan suaminya, ia juga dihadapkan pada konflik dengan mertua perempuannya, Aisyah.

Jika melihat latar belakang keduanya, baik Fatiha maupun Aisyah merupakan perempuan yang menjadi korban budaya patriarki. Sebagai perempuan muda, Fatiha telah menerima perubahan dari dunia luar dan sebaliknya Aisyah yang berpikiran phallocentric, hidup dalam dimensi penindasan yang berkepanjangan. Sehingga transisi kehidupan mereka saling tarik menarik, menimbulkan pertentangan diantara keduanya. Sama halnya dengan relasi antara menantu dan mertua di kehidupan nyata, pastilah akan dipengatuhi latar belakang kehidupan sosial kedua-duanya.

Baca:  Kamu yang nafsu, kok Tara Basro yang disalahin?

Jejak patriarki masih sangat basah di tanah Indonesia, rasanya terasa sulit untuk menghapusnya sekejap saja. Terlebih pelakunya berada di setiap struktur lapisan masyarakat tanpa memandang status usia, jenis kelamin, identitas gender, agama, budaya,dan ekonomi. 

Disisi lain, pelaku dalam riwayatnya juga merupakan korban dari budaya patriarki yang meracuni pikirannya sedari kecil, remaja hingga dewasa dan pada akhirnya nilai-nilai tersebut dimaktubkannya sebagai ideologi sepanjang hidup. Pada akhirnya, penindasan ini terus menerus dibiarkan menjadi merajalela hingga ke lapisan kehidupan yang paling pribadi, terutama ikatan pernikahan.

Kamu, aku, kita semua yang membaca tulisan ini pasti pernah disuguhkan dengan permintaan orang tua atau keluarga yang konservatif dengan keinginan menemukan pasangan yang memiliki bibit, bobot dan bebet baik. Katanya pendidikan sangat menjamin harmonisnya ikatan pernikahan, namun nyatanya tidak sedikit pasangan dengan latar belakang pendidikan yang baik justru memperlakukan kita dengan tidak setara.

Lalu, lebih kejamnya lagi perempuan ditakut-takuti agar bisa masak, nyuci dan ngurus rumah, kalau tidak demikian maka mertua akan memulangkan kita alias menyuruh anaknya menceraikan kita. Sebegitu kerdilnya kah perempuan apabila dihadapkan pada ikatan pernikahan?

Intinya, jika kita siap mengarungi bahtera rumah tangga, memilih pasangan terbaik adalah sebuah keharusan. Tidak masalah jika harus menikah di usia yang matang dimata keluarga dan masyarakat, daripada terjebak selamanya sampai tua bersama pasangan yang superior, posesif, dan kasar.

Tidak jadi persoalan apabila kita melakukan pendekatan atau tidak dengan keluarga besar, karena tentu kita yang punya kapasitas menentukan kenyamanan kita dalam bersosialisasi. Dalam menjawab persoalan diatas,juga penting mempertimbangkan kematangan dan kemapanan dalam hal ekonomi agar kita dapat membeli rumah sendiri, agar tidak menumpang dirumah mertua, apalagi sampai berkonflik.

Baca:  Benarkah Perempuan Butuh Perlindungan Lelaki?

Satu hal lagi, sebagai calon menantu di keluarga besar pasangan, kita juga berhak menentukan apa yang menjadi kenyamanan bagi diri sendiri. Menyampaikan sesuatu dengan sejujurnya dan bersikap seadanya tanpa harus membuktikan diri dengan sikap palsu agar diterima. Kita harus meyakini bahwa semua proses yang kita jalani akan membuahkan hasil yang baik, kalaupun kurang baik jangan sampai kita menyalahkan diri sendiri hingga merasa depresi. 

Merenungkan akibat budaya patriarki yang njlimet tersebut, tentu siapa yang tidak menginginkan punya mertua yang memandang menantunya setara dengan anaknya. Namun kita juga tidak bisa memilih siapa calon mertua kita kelak (bagi yang ingin menikah).

Toh, kita berkenalan dengan anaknya (pasangan kita) dahulu, barulah hadir dalam pertemuan keluarga besar. Menemukan mertua feminis bukan tidak mungkin, pasti ada tapi mungkin presentasenya 1 dari 5.

Asumsi kita mungkin kalau anaknya punya pola pikir yang maju, setara dan adil, pastilah dipengaruhi oleh didikan dan pola asuh orang tuanya yang benar. Atau, kalaulah mertua kita feminis pastilah akan berhasil mendidik anak laki-laki yang setara dan tidak melakukan penindasan. Meski tidak ada jaminan untuk hal tersebut, tentu kita punya harapan.

Lusty Malau pernah memenangkan kategori #WanitaHebat versi Pantene dan Narasi TV pada 2018 oleh karena ceritanya bangkit dari pelecehan seksual hingga menjadi penyintas yang mendirikan Komunitas Perempuan Hari Ini di Medan. Saat ini, menulis untuk blog dan mengajar sembari mengerjakan ruang edukasi bagi perempuan dan anak marjinal.

Leave a Comment

%d bloggers like this: