Misbehaviour: Gerakan Perempuan Melawan Kontes Kecantikan

Film Misbehaviour yang dibintangi oleh Keira Knightly dan Gugu Mbatha-Raw menceritakan tentang kisah nyata gerakan perempuan di Inggris yang berupaya melaksanakan protes pada penyelenggaraan kontes kecantikan Miss World tahun 1970. Saat itu, kontes kecantikan Miss World menuai banyak protes karena dianggap mengobjektifikasi dan menseksualisasi perempuan.

Film ini menceritakan berbagai sudut pandang yang menarik. Berangkat dari Sally Alexander (diperankan Keira Knightly) yang berupaya melawan seksisme di tempat ia kuliah, ia terinspirasi oleh orasi perempuan yang menyerukan agar perempuan tidak tunduk terhadap sistem patriarki dan memprotes diselenggarakannya kontes kecantikan. Adapula Jennifer Hosten (diperankan Gugu Mbatha-Raw), salah satu finalis Miss World dari Grenada yang merupakan perempuan berkulit hitam.

Sally memiliki perjuangannya sendiri. Di rumah, ia memiliki anak perempuan yang terpengaruh oleh kontes kecantikan di TV, dan ibunya menolak aksi-aksi yang ia lakukan dan menentang pemikirannya. Namun itu semua tidak menghalanginya untuk datang ke rapat-rapat aksi, dan mempersiapkan teman-temannya untuk melakukan protes.

Sedangkan Jennifer merasa tidak percaya diri, karena media tidak menaruh banyak perhatian pada dirinya. Media sangat mengunggulkan dan menyanjung Miss Sweden yang tinggi dan pirang, Maj Christel Johansson. Walaupun demikian Jennifer dan Maj membentuk pertemanan yang saling mendukung satu sama lain.

Tentunya gerakan perempuan dikritik habis-habisan oleh media di masa saat itu. Sally pun diundang untuk mengutarakan pendapatnya di TV nasional, namun penyelenggara Miss World yang dipegang oleh Bob Hope (diperankan Greg Kinnear) tetap menyelenggarakan acaranya walaupun demonstrasi berlangsung di luar gedung acara.

Tentunya film ini sangat ringan bagi yang ingin memahami esensi gerakan perempuan. Kamu enggak akan dibuat pusing dengan deretan teori. Kamu tetap terhibur dan teredukasi mengenai isu perempuan dan eksploitasi yang terjadi pada perempuan.

Selain isu perempuan, isu ras sangat bersinggungan erat dalam film ini. Adalah negara Afrika Selatan yang mengirimkan dua peserta. Satu dari Afrika Selatan yang merepresentasikan masyarakat kulit putihnya dan satu dari Selatan Afrika yang merepresetasikan masyarakat kulit hitam. Di saat itu negara Afrika Selatan masih berada di bawah sistem Apartheid atau sistem yang memisahkan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih dari awal abad 20 hingga tahun 1990.

Baca:  Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana

Isu ras yang diangkat dalam film menjadi pengantar untuk memahami rasisme walau tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun hal ini penting untuk disampaikan karena rasisme yang ada diinstitusikan dan diterapkan dalam sistem negara.

Ada adegan yang menarik bagi saya, yaitu adegan dimana Sally tak sengaja bertemu dengan Jennifer. Jennifer mengkonfrontasi Sally tentang aksi protes yang dia lakukan terhadap acara Miss World, ia merasa Sally sedang menyerang perempuan. Namun Sally tetap berusaha menjelaskan bahwasannya ini bukan tentang menyerang perempuan yang tergabung menjadi peserta Miss World, namun gerakan perempuan menentang sistem yang membuat perempuan hanya sekedar objek dan melihat perempuan dari tubuhnya saja.

Tentunya kontes kecantikan ini dapat berdampak kepada kehidupan perempuan. Kontes kecantikan membuat perempuan saling berkompetisi untuk terlihat paling cantik menurut standar kecantikan tertentu. Pada kenyataannya, lelaki lah yang menciptakan kontes kecantikan tersebut untuk membuat perempuan merebutkan gelar perempuan tercantik sedunia, dan ini bisa kita lihat dari karakter Bob Hope dalam film yang senantiasa mengobjektifikasi perempuan. Kita bisa melihat bagaimana Bob Hope di dalam film mengambil keuntungan dari berbagai pihak hanya untuk menyelenggarakan kontes kecantikan.

Terlepas apakah protes yang dilakukan oleh Sally dan teman-temannya berhasil atau tidak, bagi mereka yang penting pesannya tersampaikan. Aksi mereka menjadi sebuah pernyataan publik karena keresahan yang perempuan-perempuan alami. Gerakan perempuan akan selalu ada selama ada sistem yang mensubordinasi perempuan melalui sistem dan produksi media masa yang menarik keuntungan dari standar-standar kecantikan yang diproduksi oleh masyarakat patriarkal.

Gerakan perempuan tidak akan berhenti untuk memperjuangkan agar perempuan terbebaskan dari segala bentuk penindasan yang melukai dirinya. Tentunya kontes kecantikan membuat sekat-sekat baru seolah-olah menyiratkan bahwa untuk menjadi berarti dan memiliki nilai di masyarakat, perempuan haru cantik layaknya ratu kecantikan. Hal ini juga mengajari anak perempuan mengenai citra tubuh dirinya dan menggantungkan validasinya pada kecantikan, bukannya memberdayakan diri untuk menjadi berdikari dan mandiri.

Baca:  Serial Ini Bikin Kamu Ingin Jadi Astronot (Lagi)

Kontes-kontes kecantikan hanya akan membuat kefrustrasian baru dan mengakibatkan perempuan menderita berbagai masalah psikologis dari body dismorphia, anorexia, bullimia dan sederetan masalah kesehatan lain. Obsesi pada tubuhnya akan membuat perempuan melakukan perubahan dengan tindakan bedah plastik hingga menyuntik dirinya dengan zat pemutih. Tentunya ini sangat merugikan perempuan dan memiskinkan perempuan hanya untuk memenuhi standar kecantikan tertentu.

Film ini sangat menarik dan patut ditonton bagi seluruh kalangan dan umur, baik perempuan ataupun lelaki. Yang membuat film ini makin otentik adalah usaha produser dan krunya untuk mereplikasikan panggung Miss World pada tahun 1970 di Inggris.

Tentu film ini banyak kekurangan yang musti dikritisi, namun film-film seperti ini dapat menjadi edukasi dan cara yang ringan untuk memulai pembicaraan mengenai isu dan gerakan perempuan.

Seorang feminis Jawa yang sesekali melakoni sebagai dokter gigi serta melawan segala ketidakmungkinan untuk menemukan cinta, kehidupan, dan semangat hidup.

Leave a Comment

%d bloggers like this: