Masih banyak masyarakat Indonesia yang salah kaprah dalam memahami relasi pasangan lesbian. Mereka pasti kepo dan menanyakan mana yang berperan menjadi laki-laki dan mana yang berperan menjadi perempuan dalam hubungan lesbian. Memang, kita mengenal adanya istilah seperti butch yang merujuk ekspresi individu berjenis kelamin perempuan dalam hubungan lesbian yang terlihat maskulin dan femme yang merujuk pada ekspresi individu berjenis kelamin perempuan dalam hubungan lesbian yang terlihat feminine. Namun, hubungan lesbian tidak saklek harus terdiri dari butch dan femme dan penggambaran berbeda ini disajikan oleh Pearl Next Door.

Pearl Next Door adalah web series asal negara Filipina yang merupakan spin off dari web series Game Boys yang tayang di Netflix dan Youtube. Pearl Next Door memang tidak ikut tayang di Netflix juga, tapi kita bisa menontonnya di channel youtube the IdeaFirst Company. Jumlah episodenya terbilang sangat sedikit, hanya 8 episode dengan masing-masing berdurasi kurang lebih 30 menit. Saya pribadi cukup menikmati web series ini ditengah banyaknya gempuran web series bertema boys love asal Thailand dan Filipina yang terkadang menyajikan kisah cinta yang cukup toksik, Pearl Next Door rasa-rasanya adalah angin segar.

Pertama kali tayang pada 2020 lalu, web series ini memiliki 3 tokoh utama yang menjadi sentral cerita yaitu Adriana So yang memerankan Pearl Gatdula, Iana Bernandez yang memerankan Karleen Gregorio dan Rachel Coates yang memerankan Alex Aguirre. Setting ceritanya masih berkaitan dengan kondisi dunia yang saat ini masih pandemic juga, sehingga para pemeran pun lebih banyak melakukan adegan seperti kencan online melalui zoom. Ini juga alasan mengapa mudah sekali bagi saya untuk jatuh cinta dengan jalan cerita Pearl Next Door.

Pearl yang digambarkan sebagai perempuan yang blak-blakan dan super extrovert memulai channel youtubenya sendiri di tengah masa pandemi ini. Ia kemudian bercerita bagaimana ia menginginkan cinta sejati. Selama masa pandemi, Pearl seringkali melakukan panggilan video dengan teman-temannya, seperti Fonzy Hermoso yang diperankan oleh Philip Hernandez dan Karleen.

Baca:  Lewat Yoon Yi Suh, Kita Diingatkan Menjadi Perempuan Berdaya

Sampai suatu ketika Pearl menyadari bahwa ia tertarik pada Karleen yang jika dilihat-lihat memiliki penampilan feminin dengan rambut panjangnya. Pearl kemudian menyatakan perasaannya, namun Karleen masih belum yakin dengan perasaannya sendiri. Kemudian datanglah Alex yang meskipun memiliki rambut pendek juga masih terlihat feminin dengan make up dan gaya berpakaiannya. Alex kemudian juga menyatakan perasaannya pada Pearl. Maka dimulailah kisah cinta antara Alex, Karleen dan Pearl.

Pada akhirnya, saya sendiri tidak tahu siapa yang dipilih Pearl, karena di akhir episode ke delapan, Pearl mengatakan, “because right now, I am very happy. Still single but very happy.” Mungkin Pearl sama sekali tidak memilih Karleen atau Alex atau mungkin dia memerlukan lebih banyak waktu untuk berpikir, siapa yang tahu.

Tetapi yang jelas bagaimana hubungan romantis yang tercipta antara Pearl, Alex dan Karleen mengingatkan kita kembali bahwa hubungan lesbian itu tidak melulu antara butch dan femme. Memang ada yang seperti itu tapi tidak harus seperti itu. Dalam hubungan lesbian pun tidak ada yang perlu berperan sebagai laki-laki dan perempuan, karena mencoba membuat pasangan lesbian seperti hubungan heteronormatif dimana yang satu harus lebih maskulin dan berperan sebagai laki-laki itu adalah pikiran patriarki terselubung yang mencoba menyelinap masuk.

Ketika kita mencoba memaksa pasangan lesbian atau pasangan gay kedalam konstruksi ala heteronormatif, kita justru berisiko mengalienasi individu-individu yang lagi-lagi tidak sesuai dengan konstruksi tersebut dan ujung-ujungnya diskriminasi kembali. Ini juga pernah dibahas oleh the conversation dalam sebuah artikel berjudul the Trouble with Making LGBTIAQ People Live on Heterosexuals’ Term.

Di Afrika Selatan, salah satu murid dari penulis artikel mengadakan sebuah studi pada aplikasi dating yang digunakan oleh individu gay. Data yang belum di publikasikan dalam studi itu menunjukkan white male lagi-lagi berkuasa dan mengatur ruang hubungan tersebut. Beberapa bahkan secara eksplisit menolak untuk berbicara pada individu lain yang mereka anggap memiliki badan yang besar dan terlihat bergaya femme – laki-laki gay yang merepresentasikan dan mengekspresikan diri mereka dengan cara yang feminin.

Baca:  On the Basis of Sex: Ketika Lelaki Mendapatkan Diskriminasi

Fenomena itu tentu saja mereplikasi fenomena patriarki yang terjadi di masyarakat yang lebih luas, dimana masyarakat ditempatkan dalam strata-strata sosial berdasarkan tubuh atau eskpresi mana yang dianggap pantas dan diinginkan. Dalam artikel the conversation tersebut bahkan menganggap bahwa dalam komunitas gay sendiri mereka mengadopsi bentuk patriarkinya sendiri yang disebut penulis sebagai “gaytriarchy”.

Karena tujuan besar kita bersama adalah menghapuskan patriarki secara keseluruhan dan tuntas. Hal-hal seperti memaksakan konstruksi heteronormatif juga perlu dihentikan, mengingat patriarki bisa berubah bentuk juga menjadi gaytriarchy.

Memang begitulah patriarki dia berusaha masuk dan beradaptasi dalam segala sendi kehidupan kita dengan segala kelicikannya. Maka mulai dari sekarang, stop bertanya, “siapa yang jadi laki-laki dalam hubungan lesbian atau hubungan gay? Atau siapa yang jadi perempuannya?” dan cek kembali alam bawah sadar kita jangan-jangan disitu bercokol pemikiran-pemikiran ala patriarki.

Mahasiswa yang memiliki banyak ketertarikan mulai dari isu gender, feminisme, komunikasi, human rights, dan lain sebagainya. Dulunya aktif siaran di stasiun radio lokal dan sekarang masih berjibaku dengan tugas akhir. Doakan saja lulus dengan baik dan ilmunya berguna bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *