Forum Pemberdayaan Perempuan yang Memperdaya

Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan pola pikir perempuan, banyak sekali forum-forum perempuan yang lahir. Visinya sih ‘mewadahi’ perempuan-perempuan untuk terus berpikir dan melawan patriarki. Misinya membuat agenda-agenda yang ‘katanya’ progresif. Tapi, apakah wadah tersebut benar-benar mewadahi para pemikir perempuan?

Wadah-wadah ini perlu dicurigai dan kita perlu lebih jeli pada penyelenggara acara.

Mengapa para perempuan perlu mencurigai misi forum perempuan yang giat sekali diadakan pada masa ini? Karena tak jarang, penggeraknya adalah para penganut patriarki yang masih menginginkan perempuan untuk patuh pada sistem yang menomorduakan perempuan. Dibalut dengan redaksi “Pemberdaayaan” untuk memikat hati, tetapi tujuannya masih menyuruh perempuan patuh pada konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dibawah laki-laki.

Suatu ketika, teman saya berbagi cerita melalui Direct Message di twitter. Dia bercerita dengan penuh gairah, disertai dengan amarah kepada saya. Dia bercerita bahwa Badan Eksekutif Mahasiswa di fakultasnya membuat program kerja baru ‘khusus’ perempuan yang dinamai “Forum Pemberdayaan Perempuan” dibawah Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia.

“Awalnya aku excited mbak pas dikasih tau ini” katanya. “Lha tapi pas ikut rapat internalnya BEM dan bahas agendanya kok yo rodok asu” imbuhnya dengan penuh emosi.

Saya belum paham mengapa dia berkata “rodok asu” sebelum akhirnya dia menjelaskan agenda program kerja tersebut secara rinci. Dia mengatakan bahwa ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia ini adalah seorang laki-laki yang sangat patriarkis sekali. “Kalau mau diskusi, jangan cari pemateri yang feminis feminis banget”, “Diskusinya seputar motivasi-motivasi meraih mimpi secara general aja”, “Jangan sampai sampe bikin kajian yang melawan-melawan banget nanti kalau diprotes dekanat bisa repot”, “Nanti dibuatkan agenda kelas memasak dan kelas menjahit”, “Cari topik aman-aman aja buat diskusi, nggak usahlah sexual harassment sexual harassment”. Kira-kira kata-kata ini yang keluar dari mulut sang ketua divisi.

Baca:  Ideologi

Pantas saja, teman saya geram sekali. Ungkapan “rodok asu” disebutnya, saya rasa pantas sekali. Tidak terlihat sama sekali bentukan ‘wadah’ yang mewadahi pemikiran perempuan. Tidak terlihat sama sekali agenda-agenda kemajuan, berhaluan ke arah perbaikan keadaan perempuan. Pember-DAYA-an Perempuan, alih-alih berdaya, forum ini malah memperdaya perempuan untuk patuh pada patriarki.

Pembicaraan saya dan teman saya berlanjut, tetap dalam Direct Message di twitter. Bangga sekali saya pada teman perempuan satu ini. Ia menentang mentah-mentah Forum ‘sok’ Pemberdayaan Perempuan ini dengan tegas dan lantang sekali. “Ya aku marah mbak. Aku bilang lebih baik tidak usah diadakan forum permberdayaan perempuan jika otak dan penggeraknya adalah laki-laki patriarkis seperti ini” katanya.

Ya memang benar, tidak perlu memaksa kami untuk memasuki wadah yang katamu progresif, tapi sebenarnya mengurung kami pada konstruksi-konstruksi sosial yang penuh diskriminasi. Boro-boro mau bahas dan menelusuri isu-isu perempuan dan misoginisme yang masih sangat sering terjadi, ini malah meminta kami melanggengkan mindset bahwa perempuan harus patuh, tidak boleh melawan dan keluar dalam deritanya sendiri.

Yang tidak kalah konyol, perkara urusan domestik, memasak dan menjahit seharusnya tidak dimasukkan dalam program kerja yang katanya ‘khusus’ perempuan karena memasak dan menjahit adalah general skill, untuk manusia, tidak peduli apa jenis kelaminnya.

Memang tidak semua Forum Pemberdayaan Perempuan kondisinya seperti ini. Tetapi, forum perempuan yang dibangun oleh kaki-kaki patriarki akan terus melanggengkan konstruksi-konstruksi sosial yang diskriminatif terhadap perempuan, meskipun nama forumnya seakan-akan memihak pada perempuan yang selalu berusaha berdikari. Bahkan tak jarang lelaki yang sudah progresif dan dikatakan kiri sekalipun masih suka mendelegitimasi dan mendikte perempuan tentang bagaimana cara memberdayakan dan melawan penindasa.

Baca:  Perempuan Resah

So girls, jangan langsung tertarik dengan diskusi pemberdayaan apalagi kalau dimotori dan digagas oleh lelaki, baik itu lelaki yang patriarkis atau bahkan yang kiri sekalipun. Kita harus pintar-pintar pada siapa dan dengan siapa kita berguru, jangan mau didikte kembali.

Selama lelaki ingin memajukan perempuan dengan cara mereka, maka selama itulah lelaki akan berupaya melanggengkan dominasinya atas nama progresifitas.

Saya adalah penyendiri tetapi suka bersosialisasi. Budaya dan Bahasa adalah hal yang saya hal yang menarik bagi saya untuk dipelajari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *