Tumbuh menjadi seorang perempuan di masyarakat patriarki apalagi dalam kelompok masyarakat agamis yang gemar memanfaatkan narasi berbalut agama untuk mengurung gerak perempuan tidaklah mudah. Selain dibatasi dalam ranah publik serta dipenjara lewat berbagai narasi agama bahwa perempuan yang baik ialah mereka yang berdiam di rumah, melayani suami, serta mengerjakan tugas domestik tanpa mengeluh. Kemudian saat pasangan datang maka perempuan harus mampu membuat hangat rumah tangga mereka dengan menggoda dan melayani kebutuhan seksual sang suami.

Segala penjara tadi terus menerus didengungkan lewat tafsir-tafsir agama yang dinarasikan secara misoginis sehingga membuat perempuan sulit untuk mengembangkan dirinya diluar rumah. Yang membuat mereka dipaksa serta terpaksa tanpa pilihan lain untuk memenuhi peran yang disebut sebagai kodrat seorang perempuan.

Selain membatasi perempuan dalam ranah publik. Masyarakat patriarki tak kunjung puas. Hingga ranah paling pribadi dan intim milik perempuan pun harus turut serta diintervensi dengan dalih perempuan haruslah baik sebab ia yang akan menadi penjaga serta pendidik supaya masyarakat taat norma.

Perempuan dan seksualitasnya sering kali dianggap tidak patut. Seorang perempuan harusnya tak paham mengenai seks, dibuat seolah tidak memiliki hasrat seksual, perempuan harus polos serta menjadi subjek yang melayani serta menerima saja. Praktik-praktik seperti khitan perempuan pun dilakukan dengan dasar supaya perempuan tidak memiliki hasrat seksual yang besar sehingga ia tidak akan menjadi perempuan nakal, binal, serta liar dan menggandrungi seks.

Perempuan dan seksualitasnya tidaklah diberi ruang yang cukup dalam pandangan masyarakat patriarki. Berbagai ilusi dibangun terhadap perempuan dan ketubuhannya. Sehingga perempuan merasa sangatlah tidaklah pantas jika mereka sebagai perempuan terpapar dengan pemahaman serta pembelajaran mengenai seks. Bahkan untuk hal-hal dasar mengenai tubuh perempuan sendiri pun dianggap tidak layak untuk dibicarakan.

Masturbasi Hanya Untuk Laki-laki

Dalam konstruk masyarakat patriarki masturbasi dianggap sebagai hal yang tabu. Apalagi ketika dilakukan oleh seorang perempuan. Hal ini bahkan amat sangat jarang terdengar, dan tentunya sangat wajar. Para anak perempuan telah dikekang untuk merasa malu bahkan pada kondisi biologis terdasar yang terjadi pada mereka.

Baca:  Ketika Perempuan Dihadapkan Pada Mertua Patriarkis

Stigma terhadap perempuan dengan pengetahuan mengenai pendidikan seks yang mumpuni dianggap sebagai perempuan nakal. Perempuan yang berani bicara tengan masturbasi akan disebut sebagai penganut paham seks bebas.

Berbanding terbalik ketika laki-laki menjadi pelaku masturbasi, masyarakat cenderung menganggap hal tersebut wajar dan berkata boys will be boys. Laki-laki dianggap sangat wajar untuk melakukan masturbasi  karena laki-laki sering diasosiasikan sebagai pihak dengan hasrat seksual yang besar serta tidak terkontrol, juga pelaku seks yang dominan.

Sedangkan perempuan tidak seharusnya berpikir apalagi melakukan masturbasi sebab menurut masyarakat patriarki  perempuan yang baik dan memenuhi norma masyarakat adalah mereka yang mampu menyembunyikan hasrat seksual mereka, atau bahkan dianggap tidak memiliki hasrat seksual. Singkatnya perempuan dan hasrat seksualnya tidaklah memiliki ruang untuk dibicarakan.

Malam Pertama Pasti  Menyakitkan

Salah satu dampak dari segala keterbatasan akses mengenai pendidikan seksual komprehensif. Perempuan memiliki bayangan akan  malam pertama yang menakutkan. Atau setidaknya itulah yang terlihat dari banyak perbincangan serta apa yang sangat sering muncul di internet pertanyaan mengenai hal ini sangat sering beredar khususnya melaui menfess di base Twitter, atau Quora.

Para perempuan merasa takut dengan kisah-kisah yang dibagikan sesama perempuan kalau malam pertama akan menjadi pengalaman yang mengerikan, menyakitkan, dan tidak memberikan kenikmatan seperti yang mereka harapkan. Ketakutan ini terbentuk bukan hanya pada satu atau dua perempuan saja. Berbanding terbalik dengan bagaimana para laki-laki memandang situasi ini.

Perempuan dengan segala ketidaktahuannya tentang tubuh mereka didukung juga dengan pasangan yang tidak mendapat pendidikan seks yang mumpuni tentunya akan menjadikan momen ini mengerikan. Belenggu tak  terlihat yang dibuat oleh masyarakat sepanjang hidup perempuan membuat mereka tak mampu untuk mengkomunikasikan hal ini kepada pasangan karena dipenuhi rasa malu sebab membicarakan seks ialah hal yang tabu.

Baca:  Kurus atau Gemuk, Semua Berhak Mencintai Tubuhnya Sendiri

Ketimpangan gender bahkan terlihat di atas ranjang. Karena suara perempuan sudah diredam sejak dini ketika bicara mengenai seks. Diperburuk dengan berbagai narasi kalau dalam hubungan seksual bagi perempuan ialah memperhatikan kepuasan pasangannya. Sangat sedikit sekali pembicaraan yang terjadi mengenai bagaimana seorang perempuan seharusnya berhak untuk mendapat kepuasan yang sama.

Perempuan, ketubuhan, serta seksualitasnya terus menerus direpresi dengan dalih supaya tidak merusak moral masyarakat serta generasi penerus. Anggapan bahwa perempuan yang memiliki kesadaran seksual sebagai sesuatu yang tabu dan kotor sudah seharusnya dihentikan.

Masturbasi bukanlah sesuatu yang hanya dan bisa dilakukan oleh laki-laki, ia adalah pilihan yang diambil seseorang baik ia perempuan ataupun laki-laki. Mengatakan perempuan yang aktif melakukan masturbasi sebagai perempuan nakal ialah sesuatu yang salah apalagi ketika laki-laki menjadi pelaku masturbasi maka akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Perempuan sudah seharusnya mulai memperkaya diri dengan pengetahuan mengenai pendidikan seks, tidak hanya supaya ia berdaya di ranah privat. Namun juga karena bagaimanapun perempuan sama berhaknya untuk mendapat pendidikan mengenaai ketubuhannya sendiri serta seksualitas. Lagipula bukankah sebagai penjaga gerbang norma masyarakat, maka perempuan itu sendiri  harus menjadi cerdas, berdaya dan mampu mendidik.

Seorang perempuan yang sedang belajar mendalami isu keadilan gender.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *