Perawat Berhak Diperlakukan Setara

Menjadi perawat tidak sesederhana yang dibayangkan hanya dengan memakai hairnet, nurse cap, hingga berseragam putih. Tetapi disisi lain, ada sejumlah beban ganda yang dihadapinya.”

“Suster” sapaan dan panggilan paling akrab ditelinga, saat berada di Rumah Sakit ataupun di Klinik kesehatan lainnya. Suster selalu identik dengan seragam berwarna putih, memakai hairnet, hingga sejumlah tampilan paling klinis dengan memegang jarum suntik.

Profesi ini dianggap paling banyak diminati oleh pekerja perempuan. Fakta paling dekat dengan profesi ini antara lain, para perawat sehari-hari bekerja untuk keselamatan dan pemulihan pasien, bekerja dalam tiga shift hingga nyaris tidak mendapat libur saat weekend ataupun tanggal merah. Iya gak?

Profesi yang satu ini paling rentan terhadap infeksi nosokomial, ataupun terpapar penyakit menular. Pengen bilang untuk para sejawat; “stay safe yaw, jangan lupa pake APD.”

Disisi lain, perawat juga rentan terkena pelecehan seksual, karena pasti pulang kerja larut malam, hingga harus selalu bersedia kapanpun saat dipanggil untuk urusan layanan kesehatan (on call).

Menjadi perawat bukan hanya harus mengerti berbagai hal tentang penyakit, pencegahan hingga penanganan dalam kerja-kerja proses keperawatan atau lebih dikenal dengan asuhan keperawatan. Selain itu, perawat harus bersedia menahan emosi kapanpun, sabar, lemah lembut, demi terlaksana komunikasi terapeutik dan “trust” yang terbangun antara perawat dan pasien. Emang sih, enggak bisa jutek kalo jadi perawat, bakal diomelin pasien hehehe.

Hal yang paling penting dan perlu diperhatikan sebagai perawat juga menjaga privasi pasien, setia, adil, bertanggungjawab, jujur, hingga menghargai hak pasien. Bagian integral dari kewajiban ini, adalah hal-hal paling vital dalam kode etik keperawatan.

Jadi, kalo kalian ingin tahu jawaban mengapa dan bagaimana, harusnya perawat berlaku pada pasien dengan tanpa pandang bulu, tanya aja. Mereka mengerti, apalagi perawat IGD yang selalu punya strategi paling pamungkas dalam memilah pasien untuk ditangani.

Baca:  Mengapa Memperkosa?

Namun, apakah kalian pernah berpikir bahwa, ada banyak hal yang menjadi tanda tanya, setelah perawat tercatat sebagai salah satu profesi paling banyak dengan tenaga kerja perempuan? bagaimana melihat mekanisme perlindungan kerja, stigma hingga beban ganda yang dialami perawat?

Sebagai seorang perawat, tentu dia harus kerja ekstra untuk merawat orang lain dan merawat diri sendiri. Ini memang tidak bisa diterjemahkan secara resiprokal, tapi acapkali dapat pertanyaan “kamu kan perawat, kok bisa sakit?” rasa-rasa pengen pasang infus sama diri sendiri guys ☹ Sebuah pertanyaan yang memaksa kita membantah dengan segala rasionalisasi bahwa kita juga manusia.

Pernah ingat kasus kematian Mantri Patra di daerah Pedalaman Papua? Satu-satunya contoh kasus paling menyedihkan, fakta dan potret buram atas ketiadaan perlindungan bagi tenaga kerja perawat.

Dari Stigma hingga Beban Ganda

Dulu, perawat sering disebut sebagai pembantu Dokter. Namun, pernyaatan yang menjuarai ajang diskriminasi ini, bisa perlahan dihilangkan melalui UU (undang-undang) Kesehatan yang menjabarkan bahwa unsur tenaga kesehatan didalamnya ada Dokter, Perawat, apoteker, ahli Gizi dan lainnya. Ini bisa menjadi sandaran baku yang bisa mengenyahkan narasi bias itu, bahwa relasi tidak sehierarkis itu. Perawat, Dokter, dan tenaga kesehatan lainnya merupakan mitra kerja. Lebih egaliter kan?

Dan memang seharusnya begitu. Lingkungan kerja dalam hal ini rumah sakit harus bebas dari lingkaran feodal, bahkan senioritas. Jangan samakan dengan perilaku kampus-kampus di Indonesia yang mengadopsi tatanan bobrok dengan adat senioritas itu.

Ini juga bagian dari kesalahan sistem pendidikan yang kerap merawat adat feodal. Sumpah! Pengen minum domperidon, saat membayangkan pendidikan seperti itu, sudah membuat saya mual. Rumah sakit ya tempat untuk layanan kesehatan yang inklusif, dan tentunya perlu didukung dalam kesetaraan kerja antar tenaga kesehatan.

Dalam tulisan yang pernah diulas oleh Susana Blackburn, mengatakan bahwa sektor yang memiliki jumlah buruh perempuan paling besar adalah perawat. Namun, organisasi perawat acapkali dipimpin oleh kaum laki-laki karena perempuannya minim keterampilan berorganisasi hingga terhalangi stereotipe gender. Tentu, karena dianggap secara fisiologi anatomi adalah “perempuan.”

Baca:  Mental Pemerkosa di Media Massa

Stereotipe ini, telah memproduksi banyak penindasan baru, yang banyak dirasakan perawat dalam ruang kerja. Ya, eksploitasi tenaga kerja. Sadarkah, bahwa perawat kerap dieksploitasi dengan beban kerja yang tinggi, upah yang rendah, jam kerja yang lebih, lembur yang tidak dibayar, hingga PHK sepihak?

Nah.. Dengan situasi yang kerap dieksploitasi, kebayang enggak, kalo perawatnya mengambil langkah mogok? Dari dulu, sudah dibangun propaganda hal semacam ini bahwa tuntutan buruh dari sektor keperawatan bisa seprogresif dari yang kita bayangkan.

Pekerjaan perawat yang harus dikerjakan selama 8 jam per hari, kerap dibenturkan dengan jam kerja lebih. Ini merupakan “nilai lebih” yang menguntungkan rumah sakit, yang didapat dari jam kerja perawat yang lebih dari 8 jam hingga pada akhirnya tidak dibayar. Padahal, perawat butuh waktu istirahat untuk kembali bekerja dengan kondisi yang fit.

Sebagai perawat perempuan, pulang ke rumah atau ke kosan bukan hanya sekedar untuk istirahat, mereka harus bekerja menyelesaikan pekerjaan domestik. Seperti memasak, merawat anak, yang pada dasarnya bisa dilakukan oleh siapapun bukan hanya perempuan.

Hal yang paling tidak disadari dalam lingkungan keperawatan adalah kita belum memiliki serikat yang benar-benar menampung suara perawat, hingga advokasi kepentingan perawat di lingkungan kerja.

Kita menjauhkan diri dari sektor gerakan sosial, dengan rasionalisasi bahwa ilmu eksakta itu berbeda dengan ilmu politik. Sereceh itu. Padahal jika ditelisik kedalam, perawat adalah kelas buruh yang kerap dieksploitasi atas nama layanan kesehatan tetapi jauh dari asas kepentingan kelas pekerja, perlindungan, hingga kesejahteraan.

Seorang perawat dan juga Aktif di DPP API Kartini, sebuah organisasi Perempuan yang bergiat dalam memperjuangkan kesetaraan gende

Leave a Comment

%d bloggers like this: