Perempuan dan Usia 30

Usia hanyalah angka, namun entah bagaimana, ketika seorang perempuan memasuki usia tiga puluh, dua angka sederhana ini (3 dan 0) bertransformasi menjadi momok menakutkan yang sangat berurat-berakar di masyarakat. Semua orang setuju bahwa usia tiga puluh adalah saat di mana “harga” seorang perempuan terempas. Saat di mana dirinya tak lagi “laku”, saat di mana dirinya sudah kehabisan waktu. Sudah terlalu sering kaum perempuan diberondong kalimat-kalimat seperti:

“Kalau sudah umur 30, sudah wajib beli anti-aging skin care, biar tetap laku.”
“Jangan ngaku umur 30 kalau kencan, nanti cowoknya kabur.”
“Di umur 30, sel-sel telur kamu sudah mau expired. Kapan beranak? Jangan egois dong.”
“Sudah umur 30 kok masih belum menikah? Makanya jangan urusin karir melulu.”
“Umur 30 kok masih sekolah terus? Nanti kan ujung-ujungnya di dapur juga.”

Angka sederhana ini, yang seharusnya hanyalah angka, kemudian dianggap menjadi “garis batas” kehidupan seorang perempuan, seolah-olah kehidupan ini berjalan dengan sedemikian linearnya dan kita bisa seenaknya menarik garis begitu saja dalam lika-liku kehidupan orang. Hasilnya, banyak sekali perempuan yang kemudian ikut dilanda kecemasan ketika hendak berulangtahun yang ketiga puluh, karena masyarakat mengharuskan dia untuk cemas.

Perempuan kemudian diyakinkan bahwa setelah usianya masuk kepala tiga, dirinya jadi kurang berharga dibandingkan ketika masih kepala dua. Ketika para lelaki dianggap memasuki masa jayanya di usia tiga puluh, karena saat itu mulai ada kemapanan finansial dan peningkatan jenjang pendidikan, justru perempuan yang memasuki siklus hidup yang sama malah ditakuti dan dihindari.

Cerita yang sering kita dengar adalah, ketika perempuan sudah berusia tiga puluh, mereka takkan lagi diinginkan lelaki. Lelaki-lelaki hanya menginginkan perempuan yang masih muda dan ranum. Usia tiga puluh sudah tak lagi cantik, dan keriput sudah mulai bermunculan. Narasi demikian, yang merupakan contoh tersering objektifikasi yang melihat perempuan hanya dari kecantikan fisiknya saja, juga memiliki motif lain di baliknya: faktanya, masih banyak lelaki yang tak mau menjalin hubungan dengan perempuan yang “dewasa” karena lebih sulit dikontrol.

Baca:  Omnibus Law Bikin Pekerja Perempuan CiLaKa

Perempuan-perempuan muda yang gullible lebih menarik karena lebih gampang dimanipulasi. Ada aspek relasi kuasa yang tak bisa dihilangkan. Selain mengimpi-impikan trophy wife yang biasanya muda, manut, serta bisa dijadikan ajang pamer objek, masih banyak lelaki dengan ego rapuh yang tak mau melihat perempuan berfokus mengembangkan karir atau meningkatkan level akademiknya, karena seolah-olah perempuan yang sukses akan merusak kejantanannya sebagai laki-laki.

Karena itulah, bagi dunia yang dipenuhi maskulinitas toksik, perempuan berusia tiga puluh yang masih lajang, berkarir, dan menjadi dirinya sendiri, dianggap arketipe modern dari The Wicked Witch yang ditakuti semua orang.  

Selain itu, masih ada lagi sindiran soal kapan kawin dan kapan beranak. Menyindir perempuan soal biological clock adalah sebentuk gambaran dari masyarakat yang hanya menilai seseorang dari fungsionalitasnya, tanpa melihat manusia seutuhnya. Betul, kita semua memiliki fungsi dan peran serta dalam bermasyarakat, namun peran serta tersebut harus sepaham dengan hak asasi dan tidak selayaknya dipaksakan.

Hanya karena orang bisa kawin, bukan berarti dia harus kawin. Hanya karena seseorang memiliki rahim dan berpotensi menghasilkan keturunan, dia tidak wajib mengikuti paksaan siapa-siapa atas organ tubuhnya. Kita tidak harus mereduksi makna diri seorang perempuan dan hanya melihatnya dari fungsionalitas organ rahim dan kelenjar susu, tanpa menyadari bahwa esensi manusia tak cuma rahim dan susu.

Pandangan fungsionalisme begini juga kemudian akan mendiskreditkan perempuan yang tidak punya rahim sebagai manusia yang “tidak sempurna”, seolah-olah dia tak layak diterima sebagai perempuan seutuhnya. 

Sudah saatnya perempuan tak lagi takut memasuki usia tiga puluh. Usia ini justru adalah fase baru yang amat menarik dalam hidup kita: saat ketika kita semakin mendewasa dan memahami diri kita sendiri, ketika kita meninggalkan gaya hidup usia dua puluhan dan semakin matang dalam mengatur kehidupan. Semakin matur kita, semakin pula kita mengenal diri sendiri, agar kita mengerti apa yang diri kita inginkan.

Baca:  "Kamu Gak Kayak Cewek Lain": Wujud Kebencian Terhadap Perempuan

Kita menjadi lebih apresiatif terhadap apa yang kita miliki dan apa yang bisa kita lakukan demi aktualisasi diri, alih-alih mengejar idealisasi mustahil yang dielu-elukan masyarakat. Seorang perempuan harus mengambil keputusan sendiri, untuk dirinya sendiri, mengenai semua aspek dalam jalan hidupnya.

Perempuan boleh memilih apakah ingin bekerja di kantor, menjadi homemaker, atau kedua-duanya, atau bukan semuanya. Inilah saatnya untuk meninggalkan kemelut gegap-gempita membingungkan di era 20-something dan menjalani hidup dengan sudut pandang baru yang lebih matang, untuk berfokus pada ketenangan batin dan kesehatan jiwa kita.

Tidak selayaknya kematangan diri malah dianggap tabu. Tidak selayaknya usia menjadi batas harga diri. Tidak selayaknya penuaan fisik dianggap momok menakutkan, sebab penuaan adalah proses alamiah dan terjadi pada semua makhluk hidup. Kalau ada lelaki yang menolak Anda karena alasan usia, tinggal bilang: ke laut aja. Ada lebih banyak hal baik yang menanti Anda di era hidup yang baru.

Di usia tiga puluh, laki-laki memasuki masa jayanya. Perempuan juga harus begitu.

Seorang pecinta kucing yang suka penasaran. Cita-cita terbesarnya adalah membangun animal shelter dan pergi ke Mars.

1 thought on “Perempuan dan Usia 30”

Leave a Comment

%d bloggers like this: