Perempuan Kepala Keluarga itu Ada Dimana-mana

Selama hidup saya, sudah tidak bisa dihitung jari berapa banyak kalimat yang saya dengar perihal perempuan yang keberadaannya dikerdilkan dalam ranah publik maupun privat. Mulai dari perempuan tak bisa jadi pemimpin, perempuan tak bisa berdiri di atas kakinya sendiri, perempuan pasti membutuhkan laki-laki, perempuan itu lemah, perempuan tak akan bisa menjadi kepala keluarga dan masih banyak lagi. Saya tahu semua itu hanya mitos belaka karena ibu saya merupakan panutan yang mematahkan semua mitos itu.

Semenjak saya lahir, Bapak sudah sepuh dan sakit-sakitan, namun beliau adalah sosok yang gagahnya masih bisa terlihat dari tubuhnya yang tidak lagi kokoh dan tegap. Bagi saya, bapak adalah representasi laki-laki sempurna yang saya lihat ketika umur saya baru menuju 5 tahun. Namun ingatan saya akan bapak saya tidak banyak. Bapak meninggal pada tahun 2005. Pada saat itu, saya tidak tahu apa saja yang akan terjadi pada kehidupan keluarga saya selanjutnya. Bapak dikubur dan akan masuk surga, itu saja yang orang-orang ucapkan kepada saya. 

Sejak 2005, Ibu saya mengambil seluruh peran Bapak dalam keluarga dan tetap menjadi Ibu untuk ketiga anaknya. Perannya menjadi ganda dan saya tahu itu sangat tidaklah mudah. Belum lagi stigma buruk terhadap seorang janda berumur 40 tahunan awal kala itu. Saya tahu Ibu bersusah-susah payah menghadapi kehidupannya yang sulit di umur yang terbilang masih cukup muda. Beliau harus melanjutkan menghidupi dan menafkahi ketiga anaknya yang saat itu masih bersekolah dan mengurus urusan di dalam rumah.

Pensiunan Bapak pun masih tidak cukup untuk menghidupi kami sekeluarga. Maka dengan segala keterampilan dan kemampuannya, Ibu saya berjualan apapun yang ia bisa. Dari mulai berdagang di pasar, berjualan bakso dan masakan siap saji di kompleks rumah, berdagang sayuran di rumah, hingga mencoba usaha-usaha lain demi menghidupi ketiga anaknya. Belum lagi Ibu harus tetap mengurus urusan di dalam rumah, menyiapkan makanan, pakaian dan segalanya yang terbaik untuk kami. 

Baca:  Tak Perlu Malu Menjanda

Maka Undang Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 31 ayat 3 yang berbunyi: “Suami adalah Kepala Keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga.” Sungguhlah tidak relevan bagi kehidupan Ibu saya. Beliau menjalani keduanya, beliau adalah perempuan yang mempunyai dua peran: menjadi kepala keluarga dan ibu rumah tangga. Namun, seringkali Ibu saya tetap tidak diundang ketika ada acara rukun warga setempat dan semacamnya, padahal beliau adalah pengganti peran Bapak. Ibu adalah Kepala Keluarga kami. Hal tersebut terjadi karena perempuan yang tidak dilihat sebagai kepala keluarga sehingga ia tak diperhitungkan dalam urusan rapat dan ikut membuat keputusan. 

Kalimat-kalimat perkerdilan dan stigma buruk terhadap perempuan yang dari dulu hingga kini sering saya dengar, sungguhlah hanya omong kosong bagi beliau. Ibu saya mematahkan segalanya dengan membuktikannya. Beliau berhasil menjadi kepala keluarga dan Ibu yang baik selama ini. Namun sayangnya perempuan janda yang berjuang menjadi kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga sering dipandang sebelah mata.

Seorang janda biasanya dianggap perempuan yang tidak bisa memberdayakan dirinya sendiri dan hanya menjadi benalu untuk lelaki atau bahkan lelaki beristri. Padahal dari apa yang saya tahu, banyak sekali janda yang menjadi manusia yang berhasil: menjadi Ibu sekaligus menjadi Bapak. Mereka memerankan dua sosok dalam satu tubuh, fikiran dan hati.

Saya tentu tidak bisa merasakannya tapi saya tahu itu adalah hal yang sangat luar biasa. Dari sini saya tahu dan bisa mengatakan: tidak lagi perlu membangun narasi negatif untuk janda hanya demi mengukuhkan narasi perempuan membutuhkan lelaki. Justru janda berdaya adalah seorang yang pantas kita jadikan panutan untuk anak-anak perempuan agar mereka tidak perlu takut jika suatu saat nanti mereka berpisah dengan pasangannya. Banyak janda yang membuktikan ia dapat hidup sendiri dan menjalani dua peran sekaligus. 

Baca:  Dilema Gerbong Perempuan

Adanya stigma buruk terhadap janda justru menimbulkan persoalan yang lain. Banyak perempuan yang bertahan dalam kehidupan rumah tangga yang buruk hanya karena takut mendapatkan stigma tersebut ketika mereka memutuskan untuk bercerai dari suaminya. Ini sungguh merugikan perempuan. Tanpa adanya stigma terhadap janda, akan semakin banyak perempuan yang merdeka.

Selain itu dengan adanya Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga makin memperkeruh dan mempersulit janda-janda yang menjadi kepala keluarga. Pasalnya peran perempuan makin dikukuhkan kembali hanya menjadi pengurus rumah tangga. Lantas siapa yang akan menafkahi keluarganya jika perempuan hanya boleh mengurus rumah tangga saja?

Selama belasan tahun bahkan hampir puluhan tahun lamanya, kartu keluarga saya tertulis: nama Ibu saya sebagai Kepala Keluarga dan ini adalah bukti bahwa baik UU perkawinan dan RUU Ketahanan Keluarga sudah sangat tidak relevan lagi dengan masyarakat kita hari ini. Yang kita butuhkan adalah reformasi UU Perkawinan agar lebih relevan dengan keragaman keluarga perempuan hari ini.

Perempuan adalah manusia yang utuh. Ibu saya mungkin tidak membaca literatur feminisme tetapi beliau adalah representasi sosok feminis yang saya kagumi. Ia berpesan, “Nduk, jadilah perempuan yang mandiri dan berani, janganlah bergantung pada laki-laki.”

Seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam. Aktif di salah satu komunitas yang fokus di persoalan isu perempuan dan kekerasan seksual.

Leave a Comment

%d bloggers like this: