Berbicara Mengenai Perempuan Melalui Sastra

Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan perkawinan. Kelak ketika dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. (Ayu Utami, Saman)

Kutipan di atas adalah hal yang pertama kali membuat saya (yang kala itu berusia tujuh belas tahun) membenarkan dalam hati. Persundalan yang hipokrit, katanya. Frasa itu terdengar cukup kurang ajar jika disandingkan dengan perkawinan—sinonim dari pernikahan, meskipun banyak yang menafsirkan perkawinan dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda.

Guru bahasa Indonesia saya, entah yang lama atau baru, selalu ribut merecoki Saman, Saman, dan Saman. “Ibu rekomendasikan Saman. Coba kamu baca Saman ketika sudah cukup umur,” sampai saya ingat betul bahwa saya perlu memasukkan Saman ke dalam daftar panjang buku yang belum saya baca. Seperti wanti-wanti para guru bahasa Indonesia yang berkata bahwa bisa saja novel ini mengoyak-oyak moralmu, saya mengakuinya.

Saat membaca itu, rasa-rasanya saya hendak sungkem pada Ayu Utami sebagai penulisnya. Kalau bisa, memotong tumpeng lengkap dengan lauk-pauk yang aduhai bikin lapar. Sejak membaca Saman lah, saya mulai mencari-cari lagi bacaan tentang perempuan. Tidak harus yang perempuan sekali, yang penting berbau perempuan. Oleh karena Saman juga, saya lebih dekat dengan feminisme dan mencari tahu tentangnya.

Selepas Saman, saya mulai membaca Larung. Masih dengan euforia kaget yang sudah tidak terlalu berlebihan, saya mengenali keragaman seksualitas perempuan yang diluar heternormatifitas. Nantinya, saya menemukan bahwa patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat merupakan cikal bakal dari gerakan perempuan yang berupaya membebaskan perempuan dari kukungan seksualitas yang sangat heteronormatif. Dalam beberapa perspektif feminisme radikal, mereka melihat bahwa lebih baik menjalin hubungan dengan sesama perempuan karena ada rasa aman dan senasib sepenanggungan di sana.

Baca:  Ketika Hak Atas Bahasa Dirampas

Larung mengantarkan saya pada karya penulis perempuan lainnya: Ratih Kumala. Di dalamnya, bias gender dituliskan secara implisit dalam dialog dan respons tokoh pada sebuah kejadian. Sebagai contoh, Idroes Moeria si pengusaha klobot, lebih menginginkan anak laki-laki sebagai penerus usahanya. Ia berharap anak laki-laki dapat mewarisi dan mengelola pabriknya dengan baik. Meski di tengah cerita ia mulai menerima anak perempuan, karena anak ia tumbuh menjadi seseorang yang kuat, pemberani, dan mandiri.

Selain itu, ada Tarian Bumi milik Oka Rusmini. Rasa kaget saya yang sudah cukup mereda di sesi Larung dan Gadis Kretek mendadak membuncah tak terkendali. Sebenarnya, cerita tentang perlawanan perempuan Bali terhadap kasta dan takdir hidupnya cukup membuat saya simpati. Darinya, saya lebih mengenal perihal apa-apa yang disembunyikan di balik kemegahan pariwisata Pulau Dewata. Pelanggaran adat yang digambarkan merupakan kritik bagi budaya itu sendiri—dan patut diacungi jempol untuk keberanian mengangkatnya. Terlepas dari itu, berikut adalah kutipan favorit saya:

Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko. (Oka Rusmini, Tarian Bumi)

Lebih lanjut, relevansi sastra Indonesia dengan perempuan adalah persoalan-persoalan di dalamnya yang bagaikan representasi dunia nyata. Ketimpangan dan bias gender, patriarki, perilaku seks, pemerkosaan, dan beragam masalah sehari-hari yang menjadi PR kita bersama. Penulis-penulis itu tentu memiliki maksud lain dalam menulis karyanya—selain keuntungan materi, kepuasan batin, dan popularitas—yaitu menyampaikan kritik.

Penulis tidak menggambarkan patriarki dan bias gender semata-mata hanya-menambahkannya-saja untuk-melengkapi-deskripsi-cerita, tetapi juga sebagai bentuk protes. Sebagaimana judul buku Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, sastra bertemakan perempuan seolah menyuarakan apa yang tidak disuarakan oleh media.

Baca:  Naik Angkot di Ibu Kota, Menyelami Permasalahan Kaum Miskinnya

Pengesahan RUU PKS (rancangan undang-undang penghapusan kekerasan seksual) yang tarik ulurnya membuat orang emosi, contohnya. Oleh karena tidak masuk ke dalam Prolegnas, media konservatif tentu ogah membuat berita tentangnya. Hanya satu media independen dan beberapa media alternatif bermodalkan donasi dari para dermawan saja yang masih setia menggembar-gemborkannya. Sisanya? Diam.

Berita, diskusi, dan liputan perihal RUU PKS tidak membawa audiens dan keuntungan sedemikian rupa. Sementara penulis, melalui karya sastranya, mencoba mendobrak sistem dengan cara lain yang lebih humanis. Menyalurkan idealisme-idealisme pada para pembaca — terutama sesama perempuan—dan membentuk jaringan solidaritas tak kasat mata dari berbagai daerah.

Mengesampingkan karya sastra bertemakan perempuan yang jumlahnya tak terhitung, pendekatan penulis pada pembaca terkait permasalahan perempuan (dan gender) adalah langkah yang baik. Meskipun karya sastra bersifat multitafsir, dapat disalahpahami semudah membalik telapak tangan, itulah tugas dari para pengkaji garis miring mahasiswa sastra dan kritikus sastra untuk meluruskan dan mengedukasi. Walaupun, lagi-lagi, benar dan salah merupakan sesuatu yang subjektif.

Seorang mahasiswi sastra biasa di kampus yang biasa-biasa saja. Gemar menulis, membaca, dan mengamati apa saja.

Leave a Comment

%d bloggers like this: