Kenapa Perempuan Saling Membenci?

Suatu hari, ketika membuka Youtube, sebuah video dari seorang influencer favorit saya muncul. Video itu, terasa menampar dan entah bagaimana, membuat saya ketawa penuh ironi. Saat itu, videonya membahas soal Internalized Misogyny atau misoginisme terinternalisasi.

Selama ini, hidup sebagai perempuan membuat saya belajar menilai bahwa perempuan itu identik dengan sosok putri, yang anggun tapi juga lemah. Citra itu, entah bagaimana membuat saya sendiri tidak nyaman mengidentifikasi diri sebagai perempuan yang betul-betul “perempuan”. Mungkin juga akibat trauma-trauma di masa kecil, yang membuat saya tidak mau dipandang sebagai perempuan macam itu.

Sewaktu saya kecil, di depan rumah ada sebuah pohon kersen yang buahnya banyak. Saya dan teman-teman yang usianya lebih muda dari saya, sering bermain di sana. Waktu itu, karena saya sedikit tomboi dan lebih tua dari yang lain, saya bertugas memanjat pohon itu, sementara yang lain memunguti dari bawah. Saya menikmati, betul-betul menikmati saat-saat memanjat pohon itu. Rasanya seperti terapi.

Pada suatu siang, bersama seorang teman, saya memanjat pohon itu lagi. Di seberang, ada ibu-ibu yang entah sedang bergosip apa. Lalu sebelum saya berhasil naik, salah satu ibu itu nyeletuk, “wedok kok penekan” (perempuan kok manjat-manjat). Saya yang kecil dan bodoh itu, terlalu rapuh hatinya. Seketika pegangan saya menyusut dari batang pohon dan masuk ke rumah. Saya menangis. Selama beberapa waktu yang cukup lama, kata-kata itu tetap terasa menyakitkan dan traumatis.

Kalau saya ingat-ingat kembali, saya tidak pernah suka dipuji-puji ketika melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu atau sejenisnya. Perasaan risih pada akhirnya sempat membuat saya tidak mau melakukan pekerjaan rumah apapun. Singkatnya, saya merasa memiliki trauma, dimana saya tidak suka dilihat sebagai perempuan yang ”perempuan”; yang kalem, yang anggun, yang patuh, lemah, dan suka melakukan pekerjaan rumah.

Saya mulai mengidentifikasi diri sebagai perempuan dengan sisi maskulin. Mungkin kalau saya pikir-pikir, hal itu merupakan respon diri saya dalam melawan citra keperempuanan yang feminin lantaran represi yang saya dapatkan sebagai (anak) perempuan.

Baca:  Mental Pemerkosa di Media Massa

Selama 24 tahun, entah betapa intensifnya saya menyuburkan apa yang disebut dengan internalized misogyny tadi. Kate Manne penulis buku Down Girl: The Logic of Misogyny, mendefinisikan misogini sebagai sistem sosial yang memusuhi dan membenci perempuan karena mereka adalah perempuan di dalam dunia laki-laki, sebuah dunia yang secara historis begitu patriarkis.

Sementara menurut Ritta Andrews[1], salah satu ciri internalized misogyny adalah ketika kualitas maskulin dianggap bernila, sementara kualitas feminin sebaliknya. Di videonya, influencer tadi menjelaskan bahwa internalized misogyny justru dilakukan oleh perempuan sendiri, termasuk saya.

Saya sering bilang, ”kok pink, sih, kok pita-pita, sih, kayak cewek aja”,
”aku kan cewek setengah cowok, jadi strong”,
”ribet banget kadang temenan sama cewek, baperan”,
”aku sebenernya nggak kalem-kalem banget, nggak cewek-cewek banget”
“aku, kan nggak manja kayak cewek”.

Budaya patriarki membuat aku dibuat seolah jijik banget diasosiasikan dengan sifat-sifat keperempuanan. Seolah perempuan itu buruk sekali; baperan, manja, lemah, nggak keren.

Apa yang begitu membuat saya merasa seperti sampah dan mentertawakan diri sendiri? Saya menyadari kalau internalized misogyny ada pada diri saya ketika saya telah lama mengikuti isu gender; ketimpangan gender, pemberlakuan standar ganda pada perempuan dan laki-laki, budaya patriarki beracun yang mensubordinasi, dan ekspektasi sosial yang menindas perempuan.  Justru dengan memelihara internalized misogyny, saya adalah korban paling menyedihkan dari budaya patriarki.

Saya sadar, penindasan terhadap perempuan banyak dilakukan dengan cara-cara manipulatif, misalnya bagaimana citra perempuan yang cantik dan menawan dibangun di atas perasaan tidak nyaman dan aman alias insecure terhadap bentuk tubuh sendiri, standarisasi-standarisasi tunggal yang tidak ramah terhadap keberagaman karakter perempuan, atau memberikan atribut-atribut yang menegasikan potensi perempuan.

Baca:  Bidadari Penuh Luka

Sikap memberontak pada bagaimana budaya patriarki mencitrakan perempuan telah mengantarkan saya pada sikap yang beracun juga, selain karna persoalan personal di masa lalu. Ketika ada perempuan yang punya tendensi memberontak, atau memiliki selera yang berbeda, misalnya musik rock, jaket kulit, lipstik bold, atau rokok, kesannya keren sekali. Sebaliknya, kepada perempuan yang pinki-pinki kyuute, alih-alih mengafirmasi karakter mereka, saya malah mendiskreditkan mereka. Meskipun pendiskreditan tersebut terjadi pada wilayah abstrak, bukan menyasar pada seseorang secara spesifik.

Perempuan juga laki-laki, adalah makhluk yang unik, dengan segala keberagaman dan preferensinya masing-masing. Selagi sikap-sikap itu adalah bentuk yang paling otentik dari diri seseorang dan bukan karna ekpektasi sosial yang patriarkis, maka sah-sah saja. Tidak ada standar tunggal bagi perempuan atau laki-laki.

Beberapa waktu belakangan, saya mulai menerima bahwa diri saya memiliki sisi femininitas dan maskulinitas yang sama-sama membentuk karakter saya, yang tidak menegasikan satu sama lain.

Kalau kata kaum libertarian yang mengarusutamakan properti pribadi, maka tubuh dan pikiran (yang menyetir bagaimana kita berpenampilan, misalnya) adalah otoritas kita, alias suka-suka lah mau ngapain dan bagaimana.

Akhirnya, perempuan yang menjadi korban patriarki, perlu mendapat dukungan dari sesama perempuan. Mereka yang menjadi komoditas objektifikasi kaum patriarki perlu digandeng tangannya, bukannya malah dirisaki.

Perempuan-perempuan yang suka pinki-pinki kyuuute yang secara sadar memilih menjadi seperti itu, saya minta maaf, kapan-kapan mari kita foto bersama.


[1] Ritta Andrews, ”Women and Internalized Misogyny”, http://www.lead-her-ship.com/wp-content/uploads/2010/03/WomenandInternalizedMisogyny.pdf. 17 Januari 2020.

Perempuan yang sayang ibu. Punya mimpi bertemu orang utan dan mengunjungi pasar apung di Kalimantan. Meskipun bercita-cita bekerja di LSM Lingkungan, nyatanya malah tercebur di sebuah konsultan sipil di tanah antah brantah.

Leave a Comment

%d bloggers like this: