Jika Perempuan Selalu Benar, Kenapa Masih Menyalahkan Kami?

Kerap kali, ketika saya memberanikan diri berargumen terhadap isu yang ada justru dinilai banyak bicara. Ketika saya lebih asertif untuk menunjukkan argumen mereka mengatakan, “Perempuan memang selalu benar”, dengan nada culas dan sering menjadikan saya bahan gurauan. Seketika saya diam, kehilangan fokus terhadap apa yang sebelumnya diperjuangkan. Perempuan yang berani bersuara dan berekspresi dinilai tidak sopan, benarkah demikian?

Terlebih lagi remaja perempuan seperti saya, selain melekatnya stereotipe “Perempuan selalu benar” ada lagi yang lebih ironi, yaitu minimnya ruang perempuan bersuara karena dinilai masih muda dan tidak tahu apa-apa. Mereka menganggap feminisme adalah paham yang tidak pantas untuk saya pertahankan.

Feminisme menurut saya adalah hak untuk memerdekakan diri, bukan hanya untuk perempuan, namun untuk laki-laki juga.

Jika perempuan dianggap selalu benar, kenapa ketika kami berani bersuara dan berekspresi dinilai salah?

Jangan harap kita akan setara jika perempuan yang lantang bersuara dianggap sebagai ancaman, melanggar peran gender atau menyalahi kodrat Tuhan dan hanya menempatkan perempuan sebagai pelaku kerja sumur, dapur dan kasur.

Kita harus bisa mendengarkan suara perempuan dan melibatkan pengalaman perempuan dalam berbagai hal sehingga persepektifnya menjadi norma baru bagi kita. Karena seringnya perspektif perempuan tidak dilibatkan dalam penyelesaian berbagai masalah, maka tak heran masalah yang ada terus bermunculan.

Dari berbagai perspektif, laki-laki dan perempuan tidak akan benar-benar sama secara fisik, biologis maupun psikologis, kami kentara memiliki perbedaan, namun dapat diusahakan untuk egaliter atau sederajat. Egaliter yang saya tekankan adalah ketika laki-laki memiliki akses untuk aktualisasi diri, perempuan-pun memiliki kesempatan yang sama dengan mengakomodasi kebutuhan perempuan. Bukan karena perempuan manja, namun ada hal yang tidak dialami lelaki namun dialami perempuan, seperti menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui dan menopause.

Baca:  Salahkah Ibu Merasa tak Bahagia?

Katakanlah saya utopis, di mana tidak pernah ada yang mengalami pelecehan seksual. Namun, sayangnya tidak. Seringkali saya mendapatkan pelecehan melalui akun instragram saya. Mereka menganggap bahwa tubuh perempuan ada untuk digoda lelaki.

Mirisnya, narasi tersebut terkadang datang dari sesama perempuan yang melecehkan saya karena pakaian saya. Tentunya pelecehan tidak ada hubunganya dengan pakaian. Pakaian yang saya kenakan pun sudah tertutup bahkan saya berjilbab.

Katanya perempuan selalu benar? Kenapa ketika saya melakukan perlawanan justru dikesampingkan?

Catcalling bukan hanya saya yang mengalaminya. DearCatcallers.id pada Februari 2018, mengungkapkan dari 221 responden, 96% diantaranya pernah mengalami catcalling di ruang umum, 95% dari mereka menganggap catcalling bukanlah pujian. Dan, 83%  perempuan yang ada tidak mendapat bantuan untuk melawan catcalling. Penelitian serupa pernah dilakukan Benard dan Schlaffer tentang street harassment–pelecehan di ruang umum–pada tahun 1981, perempuan yang berada di jalanan Wiena mengalami pelecehan seksual dengan tanpa memperhatikan umur, berat badan, pakaian, atau ras oleh laki-laki yang berasal dari pelbagai ras serta strata sosio-ekonomi.

Sebesar apapun jumlah perkara pelecehan seksual hal ini pun mash diragukan dengan cara mendiskreditkan – merendahkan – korban pelecehan seksual dengan mempertanyakan pakaian. Contohnya korban pelecehan seksual yang mengenakan abaya di dalam Prambanan Ekspres, kronologi tersebut dilansir dari akun Instagram @ayunitafrdsa melalui instastory. Ternyata sudah berpakaian syar’i, kok tetap digerayangi?

Narasi akan “Perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah” adalah pandangan yang mengerdilkan dan meliyankan perempuan sebagai manusia yang utuh. Seiring meningkatnya perempuan yang berani bersuara, hal ini dianggap menggelisahkan bagi orang yang hendak menundukkan perempuan.

Kenapa narasi tersebut justru mengerdilkan perempuan yang punya akal? Kontradiksi, bukan? Kalimat yang terkesan positif, terkadang dekat dengan konotasi negatif. Kiranya mengaku kalah, kalimat tersebut justru menggemburkan tanah patriarkis untuk mencari pembenaran terhadap tindakan argumentatif perempuan adalah kesalahan. Saya menyebutnya gaslighting atau tindakan melemahkan rasa percaya diri sehingga kita cenderung meragukan kebenaran pikiran dan perasaan sendiri.

Baca:  “Tapi Dia Kan Emang Cakep”: Tara Basro dan Sulitnya Menyampaikan Pesan Self Love

Jangan menganggap perempuan baper hanya karena kami mengatakan apa yang menjadi kegelisahannya. Jangan mengatakan “Perempuan selalu benar”, jika ingin berpendapat lakukan dengan elegan tanpa membuatnya dikerdilkan.

Feminisme mendiskreditkan laki-laki? Tentu tidak. Justru feminisme memberikan ruang kepada lelaki untuk tak megikuti standar kelaki-lakian yang dipaksakan oleh masyarakat. Dunia ini bukan atas hitam dan putih saja, Bung! Feminisme idealnya memperbaiki relasi gender, bukan memperkuat salah satu dengan mengorbankan yang lainnya.

Kita adalah perempuan dan kita harus bersuara untuk itu? Iya, kita harus menggaungkannya hingga ke ujung dunia, jika bukan saat ini, maka kapan lagi?

Karena, kita adalah perempuan yang enggan terbelenggu oleh hegemoni patriarkis dan misoginis! Khususnya untuk anak muda, jangan biarkan mereka memaksamu untuk diam hanya karena kamu masih muda.

berusia 18 tahun, saat ini merupakan pelajar SMK. Salah satu perempuan yang ingin menjadi ratu filosofi. Menyukai aroma petrichor dan buku baru serta film.

Leave a Comment

%d bloggers like this: