Perempuan, Buruh dan Perjuangan Kolektif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah disebut sebagai buruh. Baik yang bekerja pada perusahaan maupun perorangan, setiap pekerja adalah buruh. Singkatnya karyawan adalah buruh, kuli pun adalah buruh. 

Namun pada praktiknya, masih banyak masyarakat yang mengidentifikasi buruh sebagai pekerja kasar, pekerja harian dan pekerja informal yang tidak punya keahlian. Persis seperti zaman penjajahan Belanda, pekerjaan buruh kerap didentikkan dengan kaum blue collar. Melihat pada realita, baik karyawan maupun pekerja sektor informal/harian banyak mengalami ketakadilan dan hak-hak yang dirampas terutama pada pekerja di sektor informal. Para pekerja harian dan pekerja yang tidak punya keahlian cenderung bekerja mengandalkan tenaga mereka. 

Pekerjaan mereka rata-rata di sektor pabrik, jasa dan bisnis kecil-menengah. Mereka kerap kali diupah secara harian ataupun digaji di bawah upah rata-rata minimum propinsi. Hidup mereka jauh dari kata sejahtera tapi mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk bertahan hidup dan bekerja dengan keterbatasan yang mereka miliki. 

Setiap tahun tepat di tanggal 1 Mei, hari tersebut diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Momen tersebut selalu digunakan para buruh menjadi momen untuk bersuara dan protes kepada pemerintah demi pemenuhan hak-hak mereka. Banyak dari mereka yang dirampas haknya, diintimidasi, bahkan dihilangkan dari dunia ini. 

Kisah Marsinah merupakan salah satu kisah paling mengerikan yang terjadi pada kaum buruh di Indonesia. Marsinah adalah seorang buruh perempuan yang dibunuh dan diperkosa secara tragis. Tepat pada tanggal 8 Mei 1993, mayatnya ditemukan di gubuk pematang sawah. 

Sampai sekarang tidak ada upaya serius dari negara untuk mengusut tuntas permasalahan Marsinah. Sudah 25 tahun berlalu tidak nampak garis terang siapa pembunuh Marsinah, buruh perempuan yang sangat vokal memprotes kebijakan pemerintah supaya kaum buruh mendapatkan upah yang sewajarnya dan mempunyai serikat buruh sendiri. Dunia perempuan dan buruh masih belum bisa dikatakan sejahtera dan indah. 

Baca:  Perawat Berhak Diperlakukan Setara

Mimpi buruk terus menerus dialami oleh kaum buruh perempuan dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan hak mereka. Lalu, berkaca pada zaman sekarang, kita juga sempat dihebohkan dengan kejadian Pabrik  Aice yang dipaksa bekerja berat dengan kondisinya yang sedang hamil padahal ia sudah meminta untuk perpindahan divisi. 

Namun apa yang dia dapat? Dia justri diancam kehilangan pekerjaannya. Karena memilih untuk bertahan, alhasil janinnnya juga tidak bisa diselamatkan dan terpaksa dikuret. Ada banyak kasus keguguran tidak diinginkan yang dialami buruh perempuan, karena pekerjaan mereka tidak toleran dengan kehamilan. 

Banyak perusahaan yang tidak mentolerir kasus perempuan hamil di dalam dunia kerja, apalagi jika perempuan tersebut adalah pekerja sektor informal dan tidak terlatih/profesional. Para buruh tidak terlatih ini kerap kali diperlakukan bukan seperti manusia. Mereka dianggap komoditi yang bisa sewaktu-waktu diganti tanpa diperhatikan kondisi dan hak-haknya sebagai pekerja maupun makhluk hidup. 

Berkaca pada perjuangan perempuan akan keberpihakkan mereka kaum buruh, sesungguhnya sudah dilakukan oleh banyak perempuan selain Marsinah. Ada seorang tokoh bernama Emma Poeradiredja, beliau adalah perempuan dari tanah Sunda yang hidup pada tahun 1900an. 

Kiprahnya layak disejajarakan dengan para pahlawan perempuan lainnya seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika dan Cut Nyak Dien. Salah satu perjuangannya adalah keberpihakkan pada buruh perempuan dan buruh laki-laki. Saat beliau menjadi Direktur Perburuhan di PT Kereta Api Indonesia (nama sekarang), beliau yang menginisiasi yayasan-yayasan sosial terbentuk di bawah bagian Perburuhan untuk melindung buruh dan keluarga buruh. 

Suara Ibu Emma menunjukkan bahwa perempuan juga turut andil dalam melindungi sesama perempuan fokusnya pada kesejahteraan buruh. Setelah melihat perjuangan Ibu Emma Poeradiredja dan Marsinah sebagai buruh perempuan yang vokal memprotes pemerintah terkait hak-hak buruh, apakah ini semua dirasa cukup untuk membuat para buruh perempuan khususnya, keluar dari jerat ketakadilan? 

Baca:  Feminisme Adalah Masa Depan Perempuan Akhir Zaman

Jawabannya belum. Belum cukup. Perjuangan mereka harus turut didukung oleh kesadaran dan perjuangan kolektif. Masalah buruh, masalah perempuan adalah masalah bersama bukan masalah individu. Oleh karena itu pemecahan masalahnya diperlukan perjuangan kolektif. Serikat-serikat buruh harus terus tumbuh menjadi simpul harapan pada setiap buruh sebagai tempat bercerita, mendukung, berlindung dan memprotes bersama. 

Pendidikan untuk buruh harus diberikan terutama terkait dengan kebutuhan buruh perempuan ketika bekerja. Buruh berhak mengerti apa saja hak-hak mereka yang dilindungi dalam Undang-Undang supaya ke depannya, agar para buruh mampu menganalisis permasalahan-permasalahan yang mereka alami. Buruh juga perlu dibekali dengan soft skills seperti berpikir kritis dan bagaimana menghadapi konflik. 

Apabila negara dirasa belum cukup memberikan hak pendidikan untuk para buruh, masyarakat harus bahu membahu memberi dukungan kepada kaum buruh agar permasalahan diskriminasi upah, kesehatan, dan hak-hak buruh lainnya bisa teratasi. 

Seorang penulis baru yang ingin mencoba bersuara untuk mendukung kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Meyakini bahwa perempuan bisa menggapai apapun yang mereka impikan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *