Perkosaan tak Seharusnya Menjadi Budaya

Perempuan, dimanapun keberadaannya, bagaimanapun posisinya, berapapun umurnya, apapun perannya dan statusnya di masyarakat tidak pernah berjalan baik baik saja. Rentetan panjang kasus kekerasan seksual yang terjadi adalah bukti bahwa sudah tidak ada lagi ruang aman bagi perempuan.

Saya termasuk salah satunya, menjalani hidup sebagai seorang perempuan memang penuh luka dan rasa sakit. Bagaimana tidak, dulu sekali waktu saya baru berumur 5 tahun saya ingat, nenek saya pernah menitipkan saya kepada seorang tetangga, bapak bapak,  waktu itu seingat saya umur orang tersebut sekitar 40 tahunan. Saya diantarkannya berangkat ke sekolah dengan sepeda motor miliknya, dijalan bagian tubuh saya yang menurut saya adalah bagian paling memalukan pada saat itu disentuhnya dengan sangat berani. Tangannya tak berhenti menelusuri bagian tubuh saya tersebut. Badan saya panas, darah seakan berkumpul semua di kepala saya, saya ketakutan, saya tidak mengerti apa yang terjadi pada saat itu.

Jangankan untuk berteriak, menceritakannya kepada keluarga atau orang terdekatpun hingga saat ini belum pernah saya lakukan. Ini kali pertama saya berani bercerita mencoba sekuat tenaga lewat tulisan saya ini dan bagi saya ini adalah pengalaman traumatis yang saya miliki, bertahun tahun saya menyimpannya sendirian dan berjuang melawan ketakutan serta trauma yang tiap kali datang ketika orang tersebut berada disekitar saya.

Untungnya, selepas lulus sekolah menengah pertama, saya memutuskan pindah keluar kota, memilih tinggal bersama ibu saya dan suami barunya yang sekarang menjadi ayah tiri saya. Saya mulai melupakan rasa sakit tersebut walau sepenuhnya saya masih terus berjuang seorang diri menyimpan rapat rapat luka itu.

Pengalaman kekerasan seksual yang saya alami tersebut sebenarnya bukan satu satunya, sepanjang perjalan hidup saya bahkan hampir setiap hari saya terus mendapatkannya.  Di jalan,  di rumah, di tempat tempat yang saya kunjungi, di sekolah, di kantor atau dimanapun itu seperti sudah menjadi makanan sehari hari bagi saya, ya memang se-tidak aman itu keberadaan perempuan.

Baca:  Mental Pemerkosa di Media Massa

Sayangnya pada saat itu saya belum paham bahwa apa yang saya alami tersebut adalah bentuk bentuk dari kekerasan seksual. Kekerasan seksual memang telah merenggut hak dan kehormatan perempuan ditambah hingga hari ini tidak pernah dianggap sebagai satu kejahatan yang mengancam harkat dan martabat manusia sebagaimana kita tahu negara kita masih mengabaikannya dengan tidak kunjung mengesahkan regulasi hukum yang berkeadilan terhadap siapapun korban kekerasan seksual.

Saya yakin amat saya yakin, dibelahan bumi manapun, setiap perempuan pasti pernah mengalami kekerasan seksual. Hidup dalam budaya yang terus melanggengkan perkosaan adalah suatu penderitaan bagi kaum perempuan. Budaya perkosaan itu sendiri artinya adalah suatu keadaan dimana ada korban yang menjadi sasaran pelaku memuaskan nafsu dan pikiran mesumnya yang terus terjadi dan menjadi kebiasaan sehingga apabila hal tersebut terjadi, orang orang akan memakluminya.

Misalnya, kita hampir telah terbiasa menemui dipersimpangan jalan segerombolan laki laki yang terus memoncongkan mulutnya dan mengeluarkan suara seperti peluit yang nyaring ke arah perempuan yang sedang berjalan sendirian, hari ini kita menyebutnya dengan istilah “catcalling atau siul siul”. Hal tersebut seperti dianggap normal oleh masyarakat kita, bagi mereka itu adalah bentuk pujian karena perempuan yang disiul siul adalah sudah pasti dianggap cantik dan pantas digoda. Padahal, tentu tidak seperti itu seharusnya, catcalling bukan sebuah bentuk pujian,tapi kata-kata yang dilontarkan oleh segerombolan laki laki tersebut lebih ke arah intimidasi dan kadang punya maksud dan tujuan tertentu di balik siul siul tersebut.

Bagi saya catcalling adalah hinaan juga upaya untuk merendahkan tubuh seorang perempuan. Untuk siapapun yang masih sering melakukan ini tolong berhentilah, perempuan berhak atas ruang yang aman dan tenang. Sikap menormalkan dan memaklumi perilaku catcalling inilah salah satu bentuk dari budaya perkosaan.

Selanjutnya ada banyak bentuk lain dari budaya perkosaan tersebut dan sangat mudah ditemui, menyalahkan pakaian korban perkosaanpun adalah budaya perkosaan. Framing media soal pemberitaan kasus perkosaan dengan fokus simpati kepada pelaku daripada kepada korban adalah budaya perkosaan dan masih banyak yang lainnya.

Baca:  Persetan Kau

Kalau saya berani menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang pernah saya alami waktu saya berumur 5 tahun seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kamupun berhak menceritakan pengalaman kekerasan yang kamu alami juga, harapan saya semoga kedepan semakin banyak perempuan yg berani berbicara, bertindak sekecil apapun untuk menunjukkan bahwa kamu, kita, menentang kekerasan seksual dalam bentuk apapun karena memang tidak ada yang remeh dan sepele selama itu adalah kekerasan seksual juga mengikis budaya perkosaan yang telah hidup lama di masyarakat kita.

Memutus mata rantai kekerasan seksual memang perlu upaya dari banyak pihak, yang paling pertama adalah dimulai dari diri kita dahulu.  Beberapa upaya sederhana untuk berpihak pada korban kekerasan seksual bisa dimulai dari dengarkan korban, berpihaklah, carilah informasi dan dukungan serta peluklah ia erat erat.

Katakan kepadanya bahwa dirinya tidak sendirian dan tidak bersalah. Dan sudah saatnya kita sebagai korban keluar dari persembunyian, berteriak dan melawan segala bentuk kekerasan seksual.

Sudah waktunya kita akhiri budaya perkosaan yang menjalar subur ini. Sudah waktunya kita menuntut negara untuk menganggap kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap Hak Asasi Manusia dan segera mengesahkan regulasi yang berpihak pada korban.

Perempuan Indonesia, Ayo Lawan Kekerasan Seksual ! Rebut kembali ruang aman kita karena diam tidak akan menyelesaikan apapun !

Sudah waktunya kita akhiri budaya perkosaan yang menjalar subur ini. Sudah waktunya kita menuntut negara untuk menganggap kekerasan seksual adalah kejahatan terhadap Hak Asasi Manusia dan segera mengesahkan regulasi yang berpihak pada korban. Perempuan Indonesia, Ayo Lawan Kekerasan Seksual ! Rebut kembali ruang aman kita karena diam tidak akan menyelesaikan apapun!

1 thought on “Perkosaan tak Seharusnya Menjadi Budaya”

Leave a Comment

%d bloggers like this: