Dunia Sastra masih banyak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tidak sedikit yang berpikir bahwa sia-sia melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi untuk mendalami Sastra karena pada akhirnya ilmu tersebut tidak bisa dipakai di dunia kerja.

Banyak orang tua maupun lingkungan sekitar mengarahkan anak-anak mereka untuk mengambil jurusan ilmu eksak dibandingkan ilmu humaniora. Sastra dipandang sebatas novel, puisi maupun cerita pendek. Padahal, suatu karya sastra adalah lebih dari sekedar itu. Ia mampu menghujam jantung pembacanya, membangkitkan amarah, membawa sendu, dan menciptakan perlawanan yang dapat mengubah sejarah. 

Ketika diminta untuk mendeskripsikan apa itu karya Sastra, hanya satu kata yang selalu tertanam di benak saya. “Refleksi”. Sastra merupakan refleksi kehidupan. Refleksi yang berarti pantulan atau cerminan dari hidup sebagai manusia.

Ketika mengenal karya Sastra Indonesia, otomatis kita diperlihatkan dengan budaya-budaya Indonesia, yang kalau diperkenalkan sejak dini bisa mengokohkan identitas generasi penerus bangsa untuk cinta tanah air dan bangga dengan warisan karya-karya Sastranya. 

Namun kenyataannya karya Sastra kepunyaan negeri sendiri pun tidak populer di generasi muda zaman sekarang. Nama-nama Sastrawan besar Indonesia seperti NH Dini, Leila S. Chudori, Ayu Utami, Marianne Katopo, dll mungkin hanya sebatas pernah dengar saja bagi kebanyakan anak muda zaman sekarang. Tapi mereka tidak membaca karya-karya Sastrawan Indonesia ini.

Melihat pada kultur patriarki yang ada, perempuan sudah banyak yang hidup menderita baik secara ekonomi maupun secara psikis. Perempuan dijadikan kelas ke dua dalam masyarakat dan sudah sangat sering diremehkan dan tidak diberikan hak yang setara dengan laki-laki.

Akses untuk menuju kemerdekaan sendiri masih sulit digapai. Jerat doktrin agama, budaya yang patriarkis kerap membuat perempuan tidak berdaya dan tidak tahu bagaimana untuk melawan. Perempuan tidak punya ruang atau wadah untuk berekspresi. Oleh karena itu, sastra hadir sebagai wadah perlawanan yang bisa dipakai perempuan.

Sastra juga banyak yang berbicara tentang feminisme, perjuangan perempuan terhadap lingkungan, dan lainnya. Sastra bisa menjadi rekam jejak kisah perlawanan perempuan. Sastra bisa dijadikan media bagi perempuan untuk berekspresi dan melawan.

Perempuan penting untuk memperoleh akses mempunyai buku dan membaca banyak karya Sastra. Banyak penulis perempuan yang melawan lewat tulisan untuk mengekspresikan penindasan yang mereka alami sejak dari zaman dulu hingga sekarang.

Baca:  Apakah Meneladani Nabi Harus Dengan Poligami?

Contohnya, lewat RA Kartini, para perempuan bisa belajar pemikiran-pemikiran tentang kesetaraan gender dan meyakini bahwa perempuan bisa mendapatkan pendidikan dan hak-hak hidup yang lain sama seperti laki-laki.

Lewat Leila S. Chudori dalam Laut Bercerita kita bisa melihat bagaimana sadis dan pilu kisah para mahasiswa aktivis ’98 dalam menggulingkan Orde Baru. Novel tersebut juga mendapatkan penghargaan Southeast Asia (S.E.A) Writer Award tahun 2020.

Karya lain yang tidak kalah menarik dari Leila S. Chudori adalah “Pulang”. Pulang berkisah tentang perjalanan empat sekawan eksil politik, Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf yang menetap di Perancis dan butuh waktu lama untuk dapat kembali pulang ke Indonesia. Tokoh utama dalam novel tersebut adalah Dimas Suryo. Lewat Dimas Suryo, pembaca diajak merasakan kisah pilu dan diskriminatif yang dialami para eksil politik yang ternyata begitu kompleks, pelik dan nyata.

Mulai dari kisah Dimas sendiri dan pengalaman langsung anak semata wayangnya Lintang Utara. Dari adik kandung Dimas yang ada di Indonesia yaitu, Aji beserta isteri dan anak-anaknya yang harus hidup bersembunyi dan tidak terlalu menonjol di dalam masyarakat karena label “komunisme” yang menyerang mereka.

Pembaca juga akan menyaksikan dampak  psikologis dan mental yang remuk yang dialami oleh para keluarga eksil politik dan tahanan politik di Indonesia. Dari kisah Surti, isteri sahabat Dimas Suryo, pembaca juga akan mendengarkan kesaksian mengerikan, penyerangan mental dan kekerasan yang dialami perempuan setelah peristiwa 1965. Novel Pulang akan membawa pembaca mengerti makna tanah air dan rumah bagi seseorang yang rindu pulang.

Karya sastra yang dituliskan oleh perempuan yang lain adalah “Dari Dalam Kubur”. Novel karya Soe Tjen Marching. Soe Tjen Marching adalah seorang novelis Indonesia keturunan Tionghoa yang mencoba menuliskan kisah 180 derajat berbeda dari apa yang kita tahu sejak bangku sekolah dasar. Perspektif sejarah ini menyuguhkan kisah kelam orang-orang minoritas yaitu etnis Tionghoa serta kisah orang-orang yang dituduh Komunis pada zaman Orde Baru.

Baca:  Saatnya Feminis Mengecam Produk Dengan Tes Hewan

Kisah yang ditulis oleh Soe Tjen Marching adalah kisah penuh amarah, terlalu nyata dan sedih untuk dinikmati dari sebuah novel. Buku ini menceritakan soal pengalaman tertindas dan tertawan selama puluhan tahun. Kisah tentang penyiksaan terhadap perempuan.

Mengutip kalimat pembuka dalam Novel Dari Dalam Kubur, “Kisah ini bukan fiktif belaka. Nama tokoh, tempat, dan peristiwa bahkan lebih nyata dari segala kisah nyata.” Soe Tjen Marching mengatakan bahwa novel ini disusun berdasarkan kesaksian seorang tahanan perempuan, yang dituduh sebagai komunis dan mengalami pemerkosaan masal.  

Mengenal tulisan dan membaca karya dari para perempuan ataupun laki-laki yang memihak pada kesetaraan adalah suatu bentuk bahaya. Bahaya bagi orang-orang yang selama ini nyaman dengan menindas perempuan. Karena apabila banyak perempuan bersentuhan dengan karya-karya Sastra, perempuan dapat membuat simpul perlawanan kolektif menggunakan media Sastra untuk menyuarakan apapun yang mereka rasakan.

Para perempuan bisa saling bahu membahu merawat eksistensi kaum puan dengan terus membaca dan menciptakan karya lewat tulisan. Tulisan tersebut bisa diekspresikan menjadi suatu artikel, naskah teater, film, musikalisasi puisi, lagu atau apapun. Lewat Sastra, perempuan bisa melawan. Lewat Sastra, perempuan bisa menemukan kebebasan. 

Oleh karena itu, setiap perempuan harus membaca. Setiap perempuan harus mengenal Sastra sehingga sesama perempuan bisa memberikan tongkat estafet ini supaya perempuan bisa menulis dan melawan secara bersama. Karya Sastra bisa dijadikan sebuah media perjuangan kolektif. Hanya dengan memulai membaca dan mencintai aktivitas itu, para perempuan bisa mengubah dunia. 

Seorang penulis baru yang ingin mencoba bersuara untuk mendukung kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Meyakini bahwa perempuan bisa menggapai apapun yang mereka impikan. 

2 Replies to “Upaya Perlawanan Sastra dan Perempuan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *