Perlukah Istilah Emansipasi dan Feminisme Diperdebatkan?

Hari itu, sebetulnya sudah lama sekali, namun saya baru sempat menuliskannya. Saya ingat, untuk pertama kalinya berdebat dengan seseorang tentang feminisme dan emansipasi. Saya belum berani mengatakan bahwa saya seorang feminis, sebab saya merasa masih harus banyak belajar tentang apa itu feminisme, tujuannya, dan efek keberadaannya untuk kehidupan, khususnya di Indonesia – negara yang saya rasa belum menempatkan perempuan setara dengan laki-laki.

Terlepas pengetahuan saya tentang feminisme, saya merasa apa-apa yang disuarakan mereka (baca: feminis) seringkali memiliki suara yang sama. Saya sepakat bahwa sesama perempuan, kita harus saling menguatkan, mendukung, membantu selama hal itu postif. Saya juga setuju bahwa beberapa standar yang dikonstruksi sosial kerap menyusahkan, bukan hanya perempuan tapi semua gender.

Perdebatan kami waktu itu sepele saja, sebetulnya. Dengan sedikit nada agak meremehkan (setidaknya itu yang saya rasakan) dia bertanya, “Aku tahu kamu lagi concern sama feminisme dan hal-hal yang berkaitan dengan kesetaraan gender atau apalah itu. Tapi kenapa kamu tuh menggunakan istilah ‘feminisme’ dan terkesan lebih bangga dari pada menggunakan ‘emansipasi’?”

Saya tidak tersinggung sama sekali dengan pertanyaannya. Sebaliknya, saya satu dari sekian orang yang senang berdiskusi soal gender. Tapi, karena saat itu kami bicara lewat telepon dan saya menangkap nada bicaranya begitu, saya merasa sedikit menyayangkannya.

Feminisme dan emansipasi apakah kedua hal yang berbeda? Jujur saja, saya masih mencari jawaban yang betul-betul valid. Tapi, barangkali kelak saya akan menemukannya.

Pertanyaan itu saya jawab, “Ini bukan soal lebih bangga menggunakan ‘feminisme’ atau ‘emansipasi’. Alasannya, aku lebih karib dengan istilah feminisme daripada emansipasi. Aku lebih banyak membaca istilah tersebut daripada emansipasi.”

Baca:  Apakah Meneladani Nabi Harus Dengan Poligami?

Kita tahu istilah emansipasi itu sendiri hadir sejak Kartini dan perempuan lain menyuarakan hak pendidikan bagi perempuan. Sedangkan feminisme, sudah ada bahkan jauh sebelum Kartini lahir. Dari sana, saya cuma mengambil satu kesimpulan bahwa kedua istilah tersebut saling berkaitan.

Untuk memastikan definisi kedua istilah tersebut, saya pun akhirnya membuka KBBI. Sebab, mau tak mau memang pertanyaan sederhana darinya cukup menarik.

  • Feminisme: Gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.
  • Emansipasi: 1). Pembebasan dari perbudakan; 2). Persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria).

Dari sana, saya pun mengambil premis bahwa keduanya adalah istilah yang ditujukan buat sebuah aksi dalam mewujudkan pembebasan dari ketidakadilan gender.

Namun, penjelasan saya pun tidak membuatnya puas. Dia masih memperdebatkan hal yang sama: mengapa saya sebegitu bangganya menggunakan istilah feminisme? Mengapa saya sepertinya tidak mau menyebut istilah emansipasi? Saya kehilangan kata-kata, atau barangkali saat itu memang cara saya menjelaskan perbedaan istilah itu tidak lantas sampai. Apakah penjelasan saya (walaupun subjektif) tentang lebih karib dengan istilah feminisme dengan emansipasi ini tidak cukup menjawab segalanya?

Orang yang memantik perdebatan itu adalah orang terdekat, orang yang saya respect padanya dalam ikatan emosi maupun hal di luar itu. Saya tak ingin bersikap arogan terhadap pertanyaan sederhana yang saya anggap terkesan meremehkan ketertarikan serta concern saya pada feminisme. Toh, sikap yang salah pada suatu hal justru akan memperburuk situasi. Saya tak mau jika hanya perkara kesalahpahaman seperti itu akan membuat kami canggung nantinya.

Kami pun menghentikan perdebatan ketika saya bilang bahwa kami hanya berputar-putar di sana saja. Saya pun menunjukan protes saya, kenapa manusia itu lebih senang memperdebatkan kata-kata dan cangkangnya saja? (Hal ini tidak berlaku bagi istilah “mudik” dan “pulang kampung” karena konteksnya beda). Kenapa tidak kita fokus pada inti dan isi? Banyak isu yang lebih krusial, saya bilang.

Baca:  Mengapa Memperkosa?

Terlepas dari perdebatan kami tempo hari, saya senang mendapatkan pertanyaan tersebut, setidaknya pertanyaan itu membuat saya makin berhati-hati menggunakan istilah. Makin bisa memaknai kata dengan lebih detail. Saya pun tidak pernah menafikan bahwa penting sekali menerjemahkan satu istilah supaya tidak ada orang yang salah paham. Toh pada dasarnya, untuk memahami sesuatu seseorang perlu arti, kan? Namun, kembali lagi, rasanya hal tersebut tidak perlu diperdebatkan terlalu dalam. Ada banyak hal yang lebih perlu disuarakan. Sebetulnya, hanya itu yang saya sesalkan terkait perdebatan kami.

Di luaran sana, masih banyak perempuan yang dibungkam karena mengalami, pelecehan seksual, hubungan yang toxic dan abusive, diskriminasi di tempat kerja, dan masih banyak lagi. Juga, di luaran sana masih banyak laki-laki yang terjebak dengan toxic masculinity atau bahkan ternyata mereka awam dan tanpa sadar pernah melecehkan perempuan.

Terakhir, menjadi feminis atau bukan, manusia hanya perlu menyuarakan keadilan. Tugas kita sebagai manusia masih banyak.

Ingin banyak menulis cerita.

Leave a Comment

%d bloggers like this: