Kenapa Pilihan Perempuan Masih Dipertanyakan?

Foto oleh Freshh Connection dari Unsplash

“Disuruh memilih jurnalis atau ibu rumah tangga?”, Kang Deni mencecar Najwa Shihab.

Mbak Najwa menyahut dengan mantap : “Kenapa sih perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan perempuan seolah-olah tak berdaya. Setiap perempuan itu multi peran.”

Pernyataan yang sempat viral ini rasanya mewakili suara hati para perempuan.

Menjadi perempuan memiliki tantangan berat. Perempuan dipaksa untuk memilih, belum lagi cercaan pertanyaan seperti “Kapan nikah?”, “Kok belum punya anak?”. Kasian kaka sendirian, tambah anak lagi aja!”, kok gendutan sih!”, Karir mulu dikejar, jodohnya mana?”. Dan, segala komentar masyarakat yang merasa “paling benar”.

Kabar buruknya adalah, jika kita terus menerus mempraktekan hal-hal ini dan memaksakan diri memilih. Tidak saja kita menjadi bagian dari penindasan itu sendiri, bahkan tekanan-tekanan ini membuat orang menjadi depresi, hingga bunuh diri? Ironi bukan?

Ketika perempuan memilih, ia pun harus menerima berbagai konsekuensi. Tantangan perempuan bahkan sudah dimulai ketika membuka mata di pagi hari, beban mengurus domestik, belum lagi beban-beban di ranah publik yang hampir didominasi oleh laki-laki. Bahkan negara pun tidak bisa hadir memenuhi bahkan melindungi perempuan.

Sayangya beban yang dihadapi perempuan hari ini tidak sama dengan beban lelaki. Lelaki tidak mendapatkan pertanyaan mengenai memilih bekerja atau menjadi bapak rumah tangga. Karena lelaki dikonstruksikan menjadi pencari nafkah dan tak mungkin memilih menjadi bapak rumah tangga yang dianggap hina. Sehingga ia dipaksakan menjalankan peran dan mengabsorbsi nilai-nilai maskulin yang tidak sehat. Dan ketika ia tak bisa memenuhi peran tersebut, ia melampiaskan rasa kekesalannya pada pasangan perempuannya melalui kekerasan.

Satu dari tiga perempuan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh kerabat terdekatnya, belum lagi sebanyak 421 Peraturan Daerah (Perda) yang diskriminatif perempuan.  Bayangkan saja di tahun 2019, WCC Palembang mendampingi korban kekerasan sebanyak 139 orang, belum lagi kekerasan yang dilakukan oleh negara pada warganya. Dan perempuan masih disuruh untuk diam?

Baca:  Melajang adalah Perlawanan

Apakah perempuan harus disuruh memilih lagi ketika sudah dihadapkan dengan kenyataan seperti ini? Ketergantungan ekonomi perempuan terhadap lelaki telah membuat perempuan rentan mengalami kekerasan.

Perempuan di ranah domestik rentan menjadi korban oleh orang terdekatnya, namun di ranah publik ia juga tidak bisa lepas menjadi korban oleh atasannya dan bahkan aturan diskriminatif di ranah publik. Contohnya saja, Negara tidak mengakui adanya nelayan perempuan, Negera beranggapan bahwa nelayan hanya pekerjaan laki-laki, lalu bagaimana dengan perlindungan hak-hak nelayan perempuan yang tergusur oleh reklamasi?

Sayangnya, tidak setiap perempuan bisa menjawab ala Najdwa Sihab. Perempuan di pedesaan sangat rentan terhadap kekerasan dan seringkali mereka tidak memiliki pilihan untuk hidupnya selain bertahan. Jangankan untuk memilih menikah dengan siapa, mereka pun dihadapakan dengan pemiskinan, mereka tidak bisa mengakses pendidikan dan tentu ujungnya jauh dari askes ekonomi.

Saya teringat ketika melakukan pendampingan perempuan muda di desa, saat itu saya begitu berapi-api untuk memberikan materi-materi “sakti”, motivasi bahwa bercita-cita setinggi langit, perempuan harus memiliki ambisi dan mandiri.

Namun, salah satu mereka menyaut “Buat apa mimpi tinggi-tinggi, ntar jatuh malah sakit!, lagian kami nanti mau nikah, ngurus suami dan anak, udah!” Seketika aku pun diam.

Perkataan tersebut mencerminkan bagaimana perempuan tak memiliki pilihan dan dikondisikan untuk tunduk pada keadaan yang ada. Hal ini juga menunjukkan bagaimana negara absen dalam memberdayakan masyarakatnya agar benar-benar mandiri.

Negara pun tidak benar-benar hadir dalam memfasilitasi kebutuhan dan akses perempuan di pedesaan. Baik itu infastruktur dan sumber daya manusia. Semakin mereka jauh dari pendidikan, semakin dekat pula ia dengan pemiskinan. Seolah dunia hanya berputar di lingkaran itu saja dan tidak bisa berhenti.

Baca:  Kamu yang nafsu, kok Tara Basro yang disalahin?

Belum lagi pernikahan anak, angka kematian Ibu yang tinggi, akses Pendidikan yang rendah, kejahatan, dan serta mereka yang harus mengalami KDRT. Ada masalah yang lebih besar dari sekadar pertanyaan ini, namun masyarakat kita lebih suka memilih menutupi boroknya daripada mengobati lukanya.

Apakah kehidupan penuh ketertundukan dan kesengsaraan seperti ini masih menjadi pilihan perempuan?

Tidakkah kita bisa berfikir untuk mencita-citakan kesejahteraan perempuan melampaui pilihan menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga? Toh dua-duanya sama-sama bekerja.

Dan kenapa sih kok kayak gini masih menjadi pertanyaan perempuan hari ini? Atau jangan-jangan memang masyarakat terutama lelaki yang menanyakan hal ini ingin membuat hidup perempuan merana saja sehingga bisa terus berkuasa.

Perempuan energik yang akhirnya memutuskan karir sebagai pengacara yang fokus terhadap isu-isu perempuan, hobi kulineran dan jalan-jalan.

Leave a Comment

%d bloggers like this: