Poligami Bukan Solusi

Poligami

Sudah sejak lama praktik poligami menjadi polemik dikehidupan masyarakat Indonsia. Kisah-kirah rumah tangga poligami tidak jarang diajdikan sebagai cerita inspirasi berbentuk sebuah novel sebuah film. Beberapa minggu kemarin kisah rumah tangga poligami kembali menjadi viral karena kisahnya nyata dan viral.

Hal ini berawal dari video tik-tok sang istri pertama yang mengantar suaminya dan menyiapkan segala urusan pernikahannya. Tidak lama kemudian sang istri pertama memberikan klarifikasinya lewat laman facebook pribadinya katanya : “Hanya karena dia kewalahan mengurus pesantren dan perusahaannya, maka dari itu sang istri pertama mempunyai ide untuk mencarikan istri untuk suaminya agar saat dia mengurus kedua hal tersebut jauh terasa lebih ringan.”

Saya sebagai perempuan kaget, tertegun, lantas bertanya akan klarifikasi itu. Muncullah pertanyaan “Apa tidak ada cara lain selain menyuruh suami menikah lagi?” Bukankah untuk meringankan beban kedua urusan tersebut bisa mencari cara lain, seperti membuka lowongan kerja untuk mencari karyawan perusaahan? Tentu hal ini membantu mengurangi pengangguran, untuk permasalahan pesantren solusinya tidak jauh berbeda atau bisa memanfaatkan santri-santri yang ada untuk membantu.

Terlepas jika perempuan sendiri yang memilih untuk dipoligami atau tidak, tak baik jika poligami dijadikan alat propaganda untuk mensubordinasi perempuan. Cotohnya “ISTRI SHOLEHAH ADALAH ISTRI YANG MAU DIPOLIGAMI” kemudian ditambah iming-iming “JIKA ISTRI MAU DIPOLIGAMI MAKA PASTI SYURGA YANG DIDAPAT”.

Narasi sepertini sama halnya dengan manipulasi psikologis yang berupaya menjebak perempuan untuk mau tunduk. Jadi girls, jangan mudah percaya dengan narasi tersebut.

Perempuan dapat dikatakan menjadi istri sholehah tidak harus mau di POLIGAMI. Kesholihan perempuan tidak dapat diukur hanya karena dia mau untuk dipoligami. Kesholihan perempuan hanya dapat diukur melalui ketaqwaannya terhadap Tuhannya. Seperti kata pepatah mengatakan Banyak Jalan Menuju Roma lantas Banyak Jalan Menuju Surga, tidak hanya memalui POLIGAMI saja.

Baca:  Saatnya Feminis Mengecam Produk Dengan Tes Hewan

Apakah perempuan-perempuan tahu? Jika ada tafsir yang lebih adil dari ayat yang selama ini melegitimasi laki-laki untuk  bisa berpoligami. Tafsir tersebut menyatakan bahwa ayat tersebut sebenarnya menjungjung tinggi asas MONOGAMI.

Dr. Nur.Rofiah dosen pasca sarjana Prodi Ilmu Tafsir di institut PTIQ Jakarta sekaligus Founder Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) dalam youtube Video Jurnal perempuan yang berjudul “Sejarah Poligami dan Islam” mengatakan bahwa perempuan itu dahulu hanya dianggap sebelah mata bahkan seperti barang karena bisa diwariskan, sehingga tidak jarang perempuan dahulu menjadi bagian dari harta rampasan perang. Maka laki-laki jaman dahulu mempunyai banyak istri menjadi hal yang biasa apalagi setelah laki-laki tersebut menang dalam perang.

Kemudian datanglah Islam hadir untuk menyelamatkan Harkat dan Martabat manusia termasuk didalamnya Perempuan karena sejatinya perempuan dan laki-laki itu sama, sama-sama makhluk yang utuh. Turunlah ayat yang selama ini menjadi legalitas praktik poligami tapi jauh lebih dalam tafsir itu mengantarkan kepada asas pernikahan Monogami.

Awalnya laki-laki bisa memilki istri lebih 10 atau bahkan lebih, lalu dibatasi menjadi 4, tentunya harapannya dan tujuannya bukan sekedar membatasi jumlah dengan membolehkan beristrikan 4 orang perempuan saja melainkan untuk menikahi satu perempuan  saja. Skema logika yang seharusnya dibangun adalah dari 4 menjadi 3, dari 3 menjadi 2, sehingga dari 2 menjadi 1.

Jika memang maksud ayat itu memberikan peluang laki-laki untuk beristri lebih dari 1 seharusnya semenjak awal ketika ada laki-laki yang beristri 10 atau lebih maka Islam akan mengabaikannya atau bahkan tidak akan memberikan batasan karena dari yang awalannya 10 bahkan lebih menjadi 4 namun itupun jika mampu bersikap adil. Sehingga tidak mungkin jika loginya dari yang awalnya memiliki istri 1, kemudian betambah 2, betambah lagi 3, dan bertambah lagi 4. Telah menjadi jaminan yang pasti apabila kalian memilih praktik poligami, kalian tidak akan mampu bersikap adil meskipun kalian ingin.

Baca:  Melawan Sistem dengan Suara Kesetaraan

Penjelasan Bu.Nyai Nur.Rofiah selaras dengan penjelasan Kyai.H Husein dalam tulisannya yang berjudul “Poligami Bukan Tradisi Islam”, beliau mengatakan bahwa pernyataan Islam atas praktik poligami bertujuan untuk mengeliminasi praktik ini selangkah demi selangkah. Islam itu ingin menghilangkan praktik poligami secara berproses karena tentunya Islam itu datang sebagai rahmat baik bagi baik laki-laki maupun perempuan.

Menghilangkan praktik poligami berarti mengingatkan laki-laki bahwa kalian tidak akan pernah bisa berlaku adil, dengan itu juga kalian dijauhkan dari perbuatan aniaya terhadap perempuan. Sedangkan bagi perempuan itu merupakan salah satu bentuk keadilan yang diberikan guna menyelamatkan perempuan dari ketertindasan.

Selain itu Kyai. H. Husein mengatakan bahwa poligami membawa dampak negatif apalagi jika telah ada anak/buah hati, tentunya hal ini sudah tidak sejalan dengan misi perkawinan yang digariskan oleh Al-Qur’an yaitu Sakinah (Tentram), Mawadah (Cinta), dan rahmah (kasih sayang). Perempuan punya hak untuk mengajukan cerai apabila tidak ingin dipoligami atau bahkan menjadikan ini sebagai salah satu syarat sebelum melaksanakan perkawinan.

Untuk teman-teman perempuan dimanapun kalian berada jangan pernah ragu untuk menolak apa yang tidak kamu kehendaki, jangan pula memaksakan diri untuk mengikuti apa yang sebenarnya belum kamu yakini itu benar. Hidup hanya sekali, mari jangan menyiksa diri karena kamu mempunya hak untuk memilih dan mengambil keputusan yang dapat mengantarkan kebahagian kepadamu.

Seorang Sarjana Hukum dan Relawan TIM APP di LBHM  Garwita Jember. Bercita-cita ingin menjadi Penulis feminis.

Leave a Comment

%d bloggers like this: