Berdamai dengan Rasa Cemas di Masa Pandemi

Produktivitas tinggi menjadi tren baru di lingkungan kita selama pelaksanaan karantina, efek pandemi Covid-19. Media sosial dipenuhi unggahan orang-orang yang memasak, menata rumah, melukis, belajar bahasa, berolah-raga, dan aktivitas lainnya. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan ini karena cara menghabiskan waktu ketika karantina adalah pilihan masing-masing.

Tetapi, seringkali kita lupa bahwa sebagai manusia, kita tidak bisa memaksakan diri untuk selalu produktif karena sedang berada di masa penuh “kecemasan”.

Menurut Andrea Sadler, ahli terapi dan psikoterapi di Toronto, bahwa selama karantina kita dikondisikan untuk percaya bahwa menjadi seproduktif mungkin dan menjalani hari-hari dengan cara yang tervalidasi oleh banyak orang adalah cara yang benar. “Ada penilaian yang menarik bahwa semakin produktif maka mereka melakukan produktifitas dengan benar, dan semakin sedikit produktifitas yang dilakukan seseorang maka dia dianggap salah,” kata Sadler

Tren produkivitas ini pun mempengaruhi saya, dan saya mulai mengadopsi cara-cara orang di media sosial. Beberapa kegiatan kulakukan mulai dari mencoba resep baru, menata kamar kosan, menulis artikel di media, mencoba beberapa jenis diet, hingga berolah-raga. Namun akhirnya daftar kegiatan ini hanya menumpang lewat saja karena beberapa kegiatan malah membutuhkan dana yang diluar alokasi.

Sementara kegiatan lain, menimbulkan kecemasan baru karena harus membagi waktu dengan pekerjaan yang jam pelaksanaannya lebih fleksibel selama Work Fom Home (WFH).

Ketika kegiatan-kegiatan “produktif” ini tidak kulakukan lagi secara berkala, anxiety atau rasa cemas mulai hadir. Perasaan ini sering kita hadapi ketika berhadapan dengan situasi atau mendengar berita  yang menimbulkan rasa takut atau khawatir.

Saya mulai cemas melihat angka timbangan yang bertambah. Rasa tertekan ketika melihat unggahan orang mencoba resep-resep baru atau gila olah raga senantiasa menghampiriku.

Baca:  Pekerja Seks Berdaulat: Menyangkal Kejamnya Dunia Prostitusi di Indonesia

Kecemasan ini membuat saya kesulitan tidur dan over thinking akan banyak hal. Dampaknya, saya merasa tidak sehat dan kelelahan tanpa sebab selama WFH.  

Kemudian saya berusaha memahami  kehadiran rasa cemas itu bukan berasal dari diri sendiri. Rasa ini hadir akibat dipengaruhi oleh unggahan-unggahan produktivitas dan kisah kecemasan orang lain. Ini sedang pandemi dan tidak ada aturan untuk harus produktif setiap harinya. Kita bisa berdamai dengan rasa cemas diri kita sendiri.

Saya memahami bahwa rasa cemas tidak selalu buruk dan mencoba mengelolanya dengan pikiran positif. Hanya diperlukan sedikit modifikasi dengan cara sendiri ketika melewati pandemi ini.

Saya pun membuat catatan kecil, mengevaluasi tentang apa yang saya lalui dan hal-hal yang harus dan tidak harus dilakukan selama pandemi. Untuk langkah awal, saya melakukan pengurangan durasi penggunaan media sosial atau platform online lainnya. Kegiatan ini dialihkan dengan menonton film favorit atau tayangan lain di internet yang membantuku merasa lebih rileks.  

Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah melakukan komunikasi dengan keluarga dan menanyakan kondisi teman lama melalui telepon atau Video Call. Challenge-challenge untuk membentuk bagian badan tertentu yang membuat cemas ketika tidak tercapai, saya tinggalkan. 

Olah raga secukupnya murni saya lakukan untuk mengatasi jadwal tidur yang kacau. Saya memilih untuk membaca buku sebelum tidur daripada mengakses internet untuk mendapatkan efek tenang dan membantu tidur lebih nyenyak.

Akhirnya saya menerima diri saya untuk tidak memaksa diri lagi melakukan produktivitas yang sebenarnya tidak saya nikmati. Semisal, saya tidak akan memaksa diri untuk menulis jika memang tidak menemukan waktu yang tepat (cukup menuliskan pokok-pokok ide tersebut di catatan yang bisa di eksekusi kapan saja). 

Baca:  Ketika Negara Tidak Perduli Dengan Korban Anak Kekerasan Seksual

Di saat pandemi seperti ini, hal yang bisa dilakuakan untuk mengurangi rasa cemas adalah meyakinkan diri berulang kali bahwa sebagai manusia biasa, saya membutuhkan rehat sejenak. Melakukan rehat bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Waktu rehat kita bisa menjadi waktu untuk merefleksikan diri dan menata ulang perasaan-perasaan kita.

Kita selalu memiliki pilihan cara untuk melewati pandemi ini. Dengan menjaga jarak, kita sudah berkontribusi banyak hal untuk kehidupan sesama.

Tidak perlu merasa insecure atau merasa tidak percaya diri ketika tidak melakukan hal-hal produktif seperti orang lain. Tidak ada yang tahu kapan kondisi ini akan berakhir. Penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental masing-masing.

Merasa cemas atau anxiety dalam pandemi adalah manusiawi. Tetapi, kita harus mengelola rasa cemas tersebut agar kuat menghadapi pandemi ini. Setiap orang bisa melakukan hal-hal untuk mengatasi rasa cemas dengan caranya masing-masing. Selamat menemukan formula sendiri untuk melewati masa-masa ini dengan tetap bahagia dan berpikiran positif.

Seorang perempuan yang sedang dalam proses menjadi versi terbaik dari diri sendiri serta mencoba peka terhadap suara hati orang di sekitar.

Leave a Comment

%d bloggers like this: