Realita Perempuan Desa Menyebabkan Sulitnya Pemberdayaan

Beberapa waktu lalu, saya sempat mengobrol ringan dengan ibu saya perihal sebuah gagasan untuk memberdayakan perempuan, khususnya di desa saya. Setelah menjelaskan panjang lebar siapa saja sasarannya, akan seperti apa kegiatannya, tujuannya apa, dan sebagainya, akhirnya ibu saya hanya menjawab, “Itu tidak akan berhasil. Pasti.” Walaupun sedikit kecewa dengan pendapat beliau, saya masih penasaran, bertanya mengapa tidak akan berhasil? Ternyata jawabannya sangat dekat dengan keadaan di sekitar saya.

Orang Tua Menghendaki Anak Perempuan Menikah Muda

Ketika anak perempuan sudah menginjak kelas 6 SD, banyak ibu-ibu mulai memikirkan gaya busana, produk kecantikan, dan memikirkan uang untuk biaya pernikahan anaknya untuk beberapa tahun kemudian. Mereka sudah sibuk menabung untuk si anak yang akan menikah tidak lama lagi. Saat anak perempuannya duduk di bangku SMP—bagi yang melanjutkan, mereka akan mulai dibebaskan untuk berpacaran, atau disuruh mencari pacar, berkencan hingga larut malam, atau sekadar menunggu si lelaki bertandang ke rumah.

Semakin dewasa si anak perempuan, mereka akan semakin dibebani dengan pertanyaan, “Sudah punya pacar atau belum?” yang tidak hanya keluar dari mulut tetangga, tetapi dari mulut orang tuanya. Ungkapan seperti “Kapan nyusul? Jangan lama-lama” akan sering kita dengar. Keinginan anak di masa puber untuk berinteraksi dengan lawan jenis, juga didukung oleh pola pikir orang tua yang menganggap bahwa jika perempuan sudah baligh maka harus segera menikah.

Minimnya Kesadaran Orang Tua Tentang Pentingnya Pendidikan

Tingkat pendidikan perempuan di desa teramat sangat sangat sangat rendah. Sebagian dari perempuan sebaya saya hanya tamat sekolah dasar, seperempat bagiannya adalah tamatan SMP, SMA, sisanya tidak tamat SD. Yang berhasil mengenyam pendidikan sarjana dapat dihitung dengan jari sebalah tangan.

Orang tua dengan pendidikan terbatas cenderung berfikir bahwa anak perempuannya tidak memerlukan pendidikan. Namun sebenarnya mereka hanyalah korban dari sistem yang meminggirkan mereka. Saya tidak menyatakan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan menuju itu kehidupan yang lebih baik, tetapi pendidikan adalah indikatornya.

Baca:  Perawat Berhak Diperlakukan Setara

Ketika perempuan tidak berpendidikan, maka secara otomatis mereka kehilangan lapangan kerja yang layak, kendati hanya sebagai buruh kasar di pabrik. Perempuan desa yang tidak berpendidikan, akhirnya banyak yang menjadi buruh migran di usia muda.

Tak jarang kita sering menemukan suami dari perempuan pekerja buruh migran telah memiliki istri baru di kampung, anak mereka telantar, harta yang dicari tidak menggunduk, lalu bercerai. Anak dari hasil perceraian akan dititipkan pada nenek dan kakeknya yang juga dalam kondisi ekonomi buruk.

Pilihan perempuan untuk bertahan hidup, menjadi pekerja seks atau pergi menjadi buruh migran dan sedihnya lagi terjebak karena diperdagangkan sebagai budak seks di sana. Atau mereka mengulangi siklus yang sama yaitu menikah lagi, punya anak, cerai, titipkan lagi anak, menikah lagi, punya anak, cerai, titipkan lagi anak, menikah lagi … dan begitu seterusnya. Inilah pola yang memiskinkan perempuan dan keluarganya.

Karena minimnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, orang tua cenderung lebih suka membeli emas, padi, dan tanah saja supaya kaelak bisa dipakai pamer, atau yang lebih baik untuk jadi warisan, dibandingkan harus mengeluarkan biaya pendidikan bagi anak perempuan.

Kurangnya Pendidikan Seks untuk Membangun Agensi Perempuan

Minimnya pendidikan seks mengakibatkan anak-anak terutama perempuan muda di desa memilih pernikahan dini sebagai jalan untuk mengatasi gairah seks di usia puber. Inilah yang mendasari, mengapa banyak pernikahan dini, hamil di luar nikah, dan sebagainya. Dengan doktrin agama yang dipahami orang tua, perempuan muda di desa memilih menikah karena menganggap pernikahan adalah sebuah jalan singkat meraih puncak kenikmatan seksual. 

Banyak kasus dimana perempuan di usia 18-an, jika mereka bukan janda, maka mereka adalah perempuan bersuami yang sudah menjadi janda tiga kali. Perceraian rentan terjadi. Minimnya pemahaman mengenai kehidupan pernikahan di usia muda menyebabkan pasangan muda tak memiliki kecakapan emosi serta komitmen untuk menjalankan pernikahan apalagi memiliki anak. Karenanya kekerasan dalam rumah tangga juga tak jarang kita jumpai.

Baca:  Perlukah Istilah Emansipasi dan Feminisme Diperdebatkan?

Tanpa adanya pendidikan seks yang dengan komprehensif memberikan pengetahuan mengenai tubuh perempuan, maka perempuan akan sulit untuk menentukan nasibnya sendiri. Pilihannya menjadi terbatas sehingga ia tak bisa memahami bagaimana ia dapat berperan aktif untuk memahami gejolak seksual yang terjadi ketika remaja.

Ilusi Pernikahan

Sayangnya masyarakat di desa cenderung mengabaikan dan menutup mata terkait kasus kekerasan dalam rumah tangga, angka perceraian, kematian ibu anak hingga gizi buruk. Mereka masih menganggap bahwa pernikahan adalah jalan absolut menuju kebahagiaan takbersyarat.

Tak ada yang memikirkan jalan lain menuju kebahagiaan. Seolah perempuan akan menderita dan tak mampu hidup jika tidak menikah segera. Perempuan wajib mengorbankan apa pun demi menikah, demi janji-janji hidup bahagia. Tak pernah ada pilihan soal menjadi berpendidikan, menjadi perempuan yang memiliki penghasilannya sendiri, dan menjadi manusia yang merdeka.

Sistem yang ada hari ini meminggirkan perempuan di desa dan meninggalkan mereka dalam partisipasi aktif membangun desa. Selama negara terus menerus mengambil dan menjual lahan-lahan di desa kepada korporat hingga perempuan kehilangan pekerjaan mereka di desa, maka selama itu pula perempuan desa akan terus tertinggal. Mereka akan terpinggirkan dan menjadi buruh migran untuk bertahan.

Perempuan desa juga tak punya kuasa untuk menolak ini semua karena kuatnya doktrin agama. Seandainya mereka menolak pun, mereka tak punya daya untuk menghidupi dirinya sendiri. Dengan pendidikan yang tak cukup, tak ada pencapaian, tak ada modal, tak ada dukungan, ke mana kami mesti berlari? Lingkaran setan ini akan terus dipelihara bahkan oleh negara.

Seorang mahasiswa di salah satu universitas di Jawa Tengah. Saat ini sedang tertarik pada isu-isu perempuan, senang menulis juga membaca tidak lupa menari dan menyanyi.

Leave a Comment

%d bloggers like this: