Refleksi Seorang Feminis Kristen atas Kriminalisasi Perempuan

Hari ini ramai di twitter orang membicarakan seorang pesohor bernisial GA yang menjadi tersangka kasus video porno Bersama seorang lelaki berinisial MYD. Pun tak kalah ramainya media seperti Lambe Turah ikut memberitakan secara terbuka siapa GA dan MYD serta perilaku apa yang sudah mereka lakukan. Kolom komentar banjir oleh komentar-komentar nyinyir seperti #savegempi, atau komentar yang melecehkan GA sebagai perempuan.

Saya bukan fans GA, bahkan saya tidak mengenal GA secara personal maupun dari akun media sosial. Pun saya juga tidak ikut menonton video porno 19 detik yang memuat GA dan MYD. Namun dalam konteks peristiwa ini saya mau menyampaikan beberapa hal yang menurut saya patut kita renungkan lagi.

Semestinya penyebar videonya dikenai hukuman yaitu UU Pornografi pasal 4 ayat 1 dan pasal 27 ayat 1 UU ITE. Jika kita merujuk pada pasal 4 ayat 1 UU Pornografi maka pembuat video yang membuat untuk dirinya sendiri (tidak disebarkan) semestinya tidak dapat dijadikan tersangka. Kecuali salah satu dari pembuat video tidak secara tegas menyatakan melarang penyebaran, maka keduanya dapat dijadikan tersangka. Namun jika salah satu secara tegas menyatakan larangan penyebaran, maka hanya salah satu (yaitu orang yang menyebarkan) yang terjerat.

GA hendak dijerat oleh hukum maka bingkainya adalah apakah dalam proses pembuatan video tersebut GA menyatakan dengan tegas bahwa boleh disebarkan atau tidak. Jika benar peristiwa video itu dibuat GA masih menjadi istri mantan suaminya, maka yang berhak menuntut GA adalah mantan suaminya dengan tuntutan perzinahan. Sekalipun demikian, tak seharusnya negara ikut campur dalam urusan ranjang seseorang kecuali jika adanya kekerasan.

Setelah melihat peristiwa ini dari sudut pandang hukum dan bagaimana media massa memiliki daya dan kuasa untuk membuat membingkai berita yang notabene merendahkan perempuan, saya pun kembali bertanya sebagai seorang perempuan Kristen berpendidikan teologi merespon.

Baca:  Dimanakah Ilmuwan Perempuan Indonesia?

Saya teringat kisah seorang perempuan yang kedapatan berzinah di dalam Yohanes 8:2-11. Kejadian ini berlangsung ketika Yesus ada di Bait Allah. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sengaja ingin menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sulit dalam hal ini tentang kasus perzinahan.

Mereka ingin mencari tahu apakah Yesus mempersalahkan perempuan yang sedang berzinah itu? Atau justru membelanya? Sebab kalau Yesus membiarkan kasus perzinahan ini lewat begitu saja maka Ia dianggap melanggar hukum sipil Romawi saat itu. Dan si perempuan tetap akan dihukum rajam menurut hukum Yahudi saat itu. Sebuah situasi sempurna untuk menjebak seseorang bukan?

Tetapi yang menarik, Yesus yang hendak dicobai itu mengerti benar konteks hukum moral dan hukum sipil yang berlaku di masyarakat saat itu, bahkan lebih dalam dari orang lainnya, yaitu bahwa orang-orang yang melaporkan perempuan itu juga sama berdosanya. Namun mereka merasa diri paling bersih dan benar sehingga layak menghakimi perempuan tersebut.

Hal lainnya yang menarik adalah, tidak ada yang tahu apa yang dituliskan Yesus ketika Ia jongkok di atas tanah. Namun saya melihat bahwa sikap Yesus yang jongkok dan menulis di atas tanah adalah sebuah isyarat  bahwa Ia adalah Allah yang menuliskan hukum-hukum itu dengan jari tangan-Nya. Terlebih lagi gestureNya jongkok menyatakan sikap empatik kepada perempuan yang dikerumuni dan diteriaki massa.

Dalam situasi ini Yesus tidak mau terjebak dalam hukum moral atau hukum sipil. Ia membawa kita semua bertanya kepada hati nurani masing-masing, “Adakah kita lebih suci dari orang lain?” Ia telah mengubah kaidah hukum menjadi kaidah moral.

Dan Ia justru “menghukum” para pelapornya dengan hati nurani mereka sendiri (Yohanes 8:7). Apa yang terjadi dari peristiwa yang dicatat Yohanes adalah penggambaran bahwa perempuan di dunia Perjanjian Lama dan Baru sama saja nasibnya, sama-sama didominasi dan didiskriminasi oleh sistem patriarkal.

Baca:  Mengapa Memperkosa?

Dan hendak Yesus menunjukkan kesamaan kedudukan perempuan dan lelaki yang revolusioner pada masa itu. Dengan demikian Yesus menghendaki perubahan paradigma kita terhadap perempuan.

Bukan malah menjadi polisi moral yang sibuk menghakimi tanpa tahu duduk persoalannya dengan baik. Mau sampai kapan kita diam saja menyaksikan perempuan terus-menerus menjadi korban dari para polisi moral dan penghakiman media massa?

Seorang pelukis, introvert yang mencintai feminisme.

Leave a Comment

%d bloggers like this: