Isu kekerasan berbasis gender (KBG) yang masif digaungkan di media sosial membuat banyak korban KBG speak up. Kebanyakan dari mereka mengaku menjadi korban ketika berada di ruang pendidikan. Menjadikan saya teringat kembali pada kejadian KBG beberapa tahun yang lalu saat masih di bangku SMK. 

Yakni, ketika seorang teman saya mendapatkan kekerasan karena identitas gendernya perempuan. Miris, menyadari bahwa ruang kelas saya tidak cukup aman dan nyaman. Saya mulai menyadari apabila ada problem di dalam ruang pendidikan. 

Permasalahan mendasar dari isu KBG di ruang pendidikan adalah relasi kuasa. Bagi Michel Foucault, relasi kuasa selalu ada dalam hubungan manusia. Kerja kuasa diaktualisasikan melalui pengetahuan yang dimiliki seseorang atas orang lain. 

Jika relasi kuasa ini ditarik pada wilayah ruang pendidikan, maka bisa terjadi di antara sesama peserta didik. Relasi kuasa terjadi karena adanya superioritas. Contohnya di SMK tempat saya pernah menempuh pendidikan, kasus yang saya soroti. Mengingat peserta didik perempuan lebih sedikit jumlahnya, terlebih di jurusan teknik, menjadi ada superioritas siswa terhadap siswi.

Imbasnya, siswa merasa berhak melakukan kekerasan kepada para siswi. Seperti candaan atas tubuh, bullying, catcalling, hingga pelecehan seksual. Perasaan superior menyebabkan kebutaan penghormatan terhadap tubuh orang lain, consent, bahkan kesetaraan. 

Sebagai korban, para siswi tidak bisa bersuara akibat masih berlakunya pemikiran tabu terhadap persoalan seks. Ada pelekatan nilai negatif pula, seperti dianggap sering melakukan hubungan seks jika perempuan membincang perkara seksual. Mitos-mitos tentang seksualitas tidak pernah ramah terhadap perempuan.

Kasus KBG dari siswa hanya ditafsirkan sebagai candaan, iseng, atau main-main saja. Dampaknya, bila siswi vokal, alih-alih didukung, ia justru dinilai baper. Bila korban melapor, korban malah diarahkan untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan dengan pelaku.

Baca:  Memutus Rantai Patriarki, Membangun Cinta Setara

Di sini, korban berpotensi mendapatkan victim blaming. Ia akan disalahkan, dianggap telah memberi celah pada pelaku. Dituduh telah berpakain terbuka, berdandan berlebihan, hingga menggoda. Rape culture di ruang pendidikan membuat KBG dinormalisasi tanpa peduli dengan korban. 

Hingga saat ini tidak ada ruang bagi korban untuk melapor. Tidak ada regulasi yang memayungi secara jelas. Padahal KBG sangat problematis karena sangat berdampak pada korban. Dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Meliputi masalah psikologis, fisik, kesehatan reproduksi hingga cara berperilaku sosial. Maka dari itu, permasalahan KBG tidak bisa dianggap enteng begitu saja. 

Menciptakan ruang aman

KBG di ruang pendidikan merupakan potret gagalnya sekolah dalam melindungi peserta didiknya. Sekolah perlu berupaya menciptakan ruang aman, membentuk sistem yang terintegrasi, serta menyusun program-program pencegahan KBG. 

Seperti pendidikan seks yang komprehensif dan disesuaikan dengan usia, pendidikan terkait KBG, serta langkah-langkah melaporkannya. Dalam hal ini, kampanye No! Go! Tell! bisa menjadi acuan. Yang mana berfokus melawan kekerasan seksual.

Mengutip dari magdalene.co, No! adalah berani berkata tidak pada kekerasan seksual. Mengingat banyak remaja kesulitan mengatakan tidak ketika di posisi bahaya. Go!, sebagai ajakan menjauhi pelaku kekerasan seksual dan tempat-tempat yang tidak aman.

Tell!, tindakan untuk berani melaporkan peristiwa KBG kepada pihak yang dipercaya. Seperti lembaga layanan yang menaungi kasus KBG dan mengakomodasi ruang aman. Melalui kampanye ini, diharapkan bisa menjadi bekal diri para remaja.

Kemudian perlu unit-unit untuk menanungi korban kasus KBG di sekolah. Misal, dibentuknya layanan pengaduan KBG dengan menyediakan hotline, BK atau psikolog khusus, dan tim investigasi. Tujuannya untuk memberikan ruang pada peserta didik agar bisa melaporkan kejadian KBG. Tentu harus dengan mekanisme pelaporan yang jelas agar mempermudah korban ketika melapor. 

Baca:  Suami Saya Bapak Rumah Tangga dan Saya Bangga

Peserta didik mesti ikut andil dalam menekan KBG juga. Turut menciptakan ruang aman bagi temannya. Terutama untuk siswi dan peserta didik yang rentan. Kesadaran untuk saling support, melindungi, mencegah dan melawan perlu ditumbuhkan. 

Pengalaman saya dan teman-teman perempuan ketika di SMK dulu, turut melawan tindakan pelecehan seksual. Yakni dari teman laki-laki saya kepada seorang teman perempuan. Kami berusaha merangkul korban. Beberapa teman laki-laki di kelas juga turut memberikan support untuk melindungi. Ini secara tidak langsung bisa mendukung empowering korban KBG. Memberikan kepercayaan bahwa dia tidak sendirian.

Ruang pendidikan memang belum aman. Kasus KBG di dunia pendidikan selayaknya fenomena gunung es. Masih banyak yang belum muncul ke permukaan. Bahkan malah berusaha dikaburkan.

KBG bukan lagi problem norma ataupun etika, tapi problem kemanusiaan. Bentuk pelanggaran atas hak seseorang untuk belajar di lingkungan yang aman, kebebasan dari penyiksaan serta kesehatan. Bagaimanapun, KBG adalah kejahatan terhadap integritas tubuh dan seksualitas korban. Ruang pendidikan harus menjadi ruang berekspresi.

Mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam. Tertarik dengan isu gender dan perempuan. Bisa dihubungi melalui IG @venellayha.