Rumah

Diam-diam sepasang mata gadis kecil mengawasi dari sudut rumah besarnya. Ada kekosongan yang merajah dada hingga nadi gadis itu…

Gadis kecil itu, Soca Rahmawati. Hari-hari Soca dipenuhi dirinya yang meringkuk sendirian di sudut rumah pemberian kakek dan neneknya yang kata orang punya duit melimpah. Dilihatnya ibunya sibuk bersandar di bahu para lelaki yang berganti-ganti rupa. Pada satu lelaki, ibunya bersandar selama beberapa bulan, menangis kemudian lantas berganti lelaki lain lagi. Pikir ibunya, salah satu dari mereka yang pernah ia sandari bahunya itu bakal mengisi kekosongan yang sepanjang hidup merajah darah dan nadinya. Saban hari, Soca mulai menabung pikiran untuk mengisi kekosongan serupa dengan cara yang sama seperti sang ibu kelak.

Namun hari itu ternyata lain, Soca memang meringkuk di sudut rumah seperti biasa. Ibunya, para lelaki beda rupa dan tangisan itu semuanya memang sama. Namun kali itu sebuah tangan mengulur tepat di depan mata Soca. Tangan itu punya garis yang serupa miliknya, pula tulang yang sama besarnya. Tidak ada rupa, hanya potongan tangan bagian kanan. Dan tangan itu pula yang mulai digenggam Soca lantas membuatnya beranjak dari duduk. Perlahan-lahan Soca pun meninggalkan sudut rumahnya. Suara ibu dan para lelaki juga makin tertinggal di belakang punggung Soca.

Ia terus berjalan hingga di kiri dan kanannya bukan lagi dinding rumah, melainkan cermin setinggi manusia dewasa yang berbaris-baris. Semakin Soca berjalan maju, tinggi tubuhnya juga makin bertambah hingga nyaris menyamai barisan cermin. Satu yang tetap saja serupa, mata hitamnya. Pinggul dan dadanya mulai pula menyembul dan seorang lelaki muncul dari arah belakang berusaha meraba dada dan pinggul Soca.

Soca terenyak, ada rasa hangat di dadanya yang melebihi upaya membuat para guru marah di sekolah, sedang lelaki itu nyatanya tidak merasakan hangat di dada yang serupa. Hanya ada rasa keras dan panas dari bawah pusarnya hingga ia pun terus merabai dada dan pinggul gadis itu.

Baca:  Namanya Senyap

Mendadak Soca melihat ke sekelilingnya. Potongan tangan kecil itu masih ada di sana ternyata, menggandengnya dengan erat. Tangan itu pula yang kini berukuran jauh lebih kecil ketimbang tubuh remajanya. Dari barisan cermin, Soca melihat perutnya sendiri menyembul perlahan-lahan. Lelaki itu tetap erat memeluknya dari belakang sambil sesekali mengerang. Namun ketika menunduk dan melihat perutnya sendiri, disadari Soca, perutnya hanya menyembul di dalam barisan cermin. Lelaki itu pun juga hanya ada di dalam sana.

Si tangan kanan kecil tiba-tiba mengentak. Kali ini sepotong tangan kiri kecil menyusul muncul di hadapan Soca. Payung digenggam tangan itu dan diserahkannya kepada Soca. Ia pun meraih payung tanpa warna dan bergagang hitam itu dengan keheranan. Lantas di dalam barisan kaca, dilihatnya lelaki itu tetap menempelkan tubuhnya, namun perut Soca yang menyembul pelan-pelan justru malah mengempis, semakin ia merentangkan payung di atas kepalanya. Mendadak payung itu pun dilempar Soca bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang makin mendedas di dada. Apa yang sesungguhnya ia cari? Apa yang sesungguhnya ia ingin? Pertanyaan demikian yang membuat Soca meninggalkan bayangan si lelaki dan berjalan lebih cepat menyusuri cermin dengan digandeng dua potong tangan kecil, kanan dan kiri.

Lantas si kanan kembali mengentak hingga memaksa Soca berhenti. Kali ini, si tangan kiri justru membawa batu bata merah dan menyodorkannya pada gadis itu. Soca meraih batu bata dengan mantap dan mulai melepas gandengan tangan kanan kecil yang selama ini membawanya menyusuri ruangan yang entah mesti dinamakan apa.

Pelan-pelan, barisan kaca di kanan dan kiri gadis itu pun mulai retak dan luruh. Ada padang rumput dan sinar matahari terhampar di hadapan Soca. Sinar matahari sempat membuat matanya pedih namun ia tahu mesti melakukan apa. Diletakkannya batu bata merah di tengah padang rumput. Diketuknya batu itu hingga jumlahnya berkali lipat. Sendirian, Soca menata batu-batu tadi serupa ruangan persegi. Bentuknya tidak begitu apik namun ia terus saja berupaya membentuk pintu dan jendela pada ruangan persegi itu.

Baca:  Jika Kalian Kucing dan Kami Ikan Asin

Ketika daun pintu akhirnya jadi, Soca dengan tubuh berkeringat dan nafas terputus-putus tidur terlentang di tengah ruangan. Dengan berbisik, Soca mengatakan tempat itu ia namakan rumah meski hujan ternyata masih merembes ke dalamnya. Dan daun pintu yang jauh dari simetris itu pun mendadak diketuk. Dengan masih mengatur nafas yang terputus-putus, juga kelelahan yang luar biasa, gadis itu pun membuka pintu.

Seorang bocah dengan mata hitam menggenggam serpihan batu bata di tangannya. Soca melihat kekosongan merajah dada hingga nadi bocah itu. Dipeluknya si bocah yang memiliki rupa jauh berbeda dengan dirinya itu dan dipersilahkannya masuk ke dalam rumah buatannya. Si bocah juga dibimbing Soca meletakkan serpihan batu bata di antara bangunan yang telah ia buat.

Hingga hari-hari berikutnya, bocah-bocah dengan mata hitam juga rupa yang berbeda-beda, terus saja datang bersama serpihan batu bata di tangan. Jika dulu tubuh remaja Soca hanya bisa memeluk satu bocah, kini tubuh dewasanya bisa memeluk sekaligus lima bocah, kelak barangkali tubuh tuanya bahkan bisa memeluk sekaligus dua puluh bocah. 

Yang terjadi ketika pintu diketuk pun memang selalu sama, datang anak-anak bermata hitam dengan serpihan batu bata di tangan. Soca memeluk mereka, membiarkannya masuk dan bersamanya, bocah-bocah itu meletakkan serpihan-serpihan batu bata di antara bangunan yang sudah ada. Lama kelamaan, bangunan itu mulai memiliki bentuk yang simetris juga, hingga tidak ada lagi hujan yang bisa merembes di antara sela-selanya…

Bagian dari Women Writer bersama Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, 2018. Bermukim di https://semangkaaaaa.blogspot.com

Leave a Comment

%d bloggers like this: