Rumah

Seperti ribuan anak-anak lain yang gagal diaborsi semasa masih jadi segumpal darah, Soca Rahmawati hidup dalam kekosongan yang tidak pernah bisa ia ungkap dalam puisi paling rumit sekalipun. Ibunya delapan belas, ketika terpaksa melahirkannya dan setelah itu, ibunya mengira cinta dari lelaki adalah solusi dari laranya setelah ditinggal bapak Soca yang menikahi tidak sampai delapan bulan lamanya.

Hari-hari Soca dipenuhi dirinya yang meringkuk sendirian di sudut rumah pemberian kakek dan neneknya yang kata orang punya duit melimpah. Dilihatnya ibunya sibuk bersandar di bahu para lelaki yang berganti-ganti rupa. Pada satu lelaki, ibunya bersandar selama beberapa bulan, menangis kemudian lantas berganti lelaki lain lagi. Bisik-bisik yang Soca dengar dari orang-orang, siapa yang tidak mau dengan ibunya yang meski janda, masih sangat muda, anak tunggal, memenuhi standar ayu di masyarakat dan punya orang tua berduit luar biasa?

Di sekolah, guru-guru mengeluhkan tingkah Soca yang sering abai dengan perintah dan sengaja pura-pura tidak mengerjakan tugas dengan baik. Kabarnya, gadis kecil bergigi gingsul itu hanya cari perhatian saja. Meski demikian, guru-guru kerap tidak sabar hingga membentaknya. Namun bagi Soca, semua bentakan itu justru menghangatkan hati, seperti mengganti pengharapannya saban hari ketika meringkuk di sudut rumah, pengharapan dipeluk sang ibu. Ah, bahkan dibentak pun tidak mengapa. Pokoknya, mesti ibunya yang melakukan.

Menahun kemudian, ketika orang-orang bilang pantat dan pinggul Soca mulai menyembul, seorang lelaki coba menyentuh tangannya sambil mengucap kata cinta. Dada gadis berambut keriting itu menghangat. Saban hari, ia dihujani kata cinta yang membuat rasa hangat di dadanya, dirasa lebih awet ketimbang upaya membuat para guru marah. Elusan tangan itu lama-lama makin naik ke payudara dan pada satu waktu, lelaki itu mengatakan akan cinta Soca selamanya sambil mulai membuka celana dalamnya.

Perut Soca mulai terasa menyembul dan berat setelahnya. Pil-pil yang disarankan teman-teman sekolah hanya membuat perutnya nyeri luar biasa dan pada muaranya, ia dinikahkan dengan lelaki yang hidup dengannya tidak sampai delapan bulan itu. Ada kekosongan dalam dada Soca dan ia sibuk bersandar dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Bahagia dalam beberapa bulan, menangis kemudian, seterusnya demikian.

Diam-diam sepasang mata gadis kecil mengawasi dari sudut rumah besarnya. Ada kekosongan yang merajah dada hingga nadi gadis itu…

Baca:  Berdosakah Tak Peringati Hari Ayah?

Bagian dari Women Writer bersama Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, 2018. Bermukim di https://semangkaaaaa.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *