Serial Birthcare Center Menunjukkan Bahwa Momshamming Itu Menyebalkan

Di kehidupan sehari-hari sering kita temui ujaran-ujaran yang dilontarkan kepada perempuan hamil atau yang memiliki anak. Celotehan-celotehan yang katanya bentuk kepedulian, namun, lebih bertujuan pada kritik terbuka yang mempermalukan perempuan tersebut. Beberapa diantaranya seperti 

“Masih 3 bulan perutnya kok gede banget”

“Udah 6 bulan, perutnya masih kecil ya. Khawatir deh bayinya kekurangan berat badan”

“Kok kamu gak kasih asi ke anak”

Itu cuma segelintir saja. Nyatanya, di kehidupan sehari-hari kita menemui lebih banyak lagi celotehan yang katanya peduli tapi bikin sakit hati. Hal ini mengingatkan saya saat menonton Birthcare Center baru-baru ini. Drama ini membuka mata kita pada realita menyebalkan bernama momshamming lewat cara yang jenaka, serta menyelipkan berbagai kritik mengenai kesenjangan yang tidak hanya antara laki-laki dan perempuan, tapi juga perempuan dengan perempuan. 

Dengan mengambil tema kehidupan para perempuan setelah melahirkan di tempat pemulihan post-partum bernama Serenity. Birthcare Center mampu membawa kita melihat pertempuran psikis antar para ibu yang seringkali terjadi, upaya untuk menjadi seorang ibu yang sempurna, namun, malah berakhir menjatuhkan sesama ibu.

Lewat komedinya yang satir, Birthcare Center membuat kita tertawa kecut bagaimana masyarakat membuat kita terus bersaing satu sama lain. Dengan mengilustrasikan khayalan Oh Hyun Jin bahwa Serenity ialah kereta, dimana ia yang merupakan seorang ibu berusia 40 tahun yang juga bekerja. Saat proses bersalin pun ia menggunakan epidural.

Belum lagi kesulitannya untuk memberi ASI serta produksi ASI yang cenderung sedikit. Hal-hal tadi membuat Hyun Jin berada di gerbong barang, dimana akses informasi demi menjadi ibu sempurna sangat sulit didapat, dan para ibu yang ada disana merupakan orang-orang terbuang dan lusuh. Di sisi lain terdapat gerbong VVIP tempat para ibu muda, yang melahirkan secara alami tanpa epidural, memiliki ASI yang melimpah dan berkomitmen selama 24 bulan mengasihi anaknya. Di gerbong ini kelas sosial tertinggi dipegang oleh Eun Joong, salah satu penghuni Serenity dan merupakan gambaran ibu sempurna, cantik, bertubuh ramping walau sudah memiliki 3 anak. 

Baca:  Apakah “Semes7a” Sebagus Kelihatannya?

Mirisnya, persaingan antar kelas yang digambarkan Birthcare Center merupakan hal yang nyata. Dimana demi mencapai kelas-kelas tertentu seorang perempuan yang telah menjadi ibu harus memenuhi standarisasi yang telah terbentuk menjadi konstruk sosial dan sudah mapan di masyarakat.

Kondisi dimana para perempuan didorong untuk terus bersaing dengan sesama perempuan bahkan bila harus dengan menjatuhkan satu sama lain. Perempuan harus menjadi yang terbaik sesuai standaryang ada dimana ia harus menjadi sosok ibu lemah lembut, baik, pandai menyenangkan hati suami, mampu berdandan cantik dan menjaga bentuk tubuhnya setelah melahirkan, tidak lupa mengerjakan kerja-kerja domestik sebaik mungkin.

Dengan ditetapkannya standarisasi seperti itu persaingan antara para ibu menjadi tidak sehat dan membentuk rantai momshamming suatu upaya menegaskan posisi sosialnya lebih baik dari korban shamming. Hal ini sesuai dengan 3 elemen shamming yang dipaparkan Tangney. Yaitu shamming merupakan suatu kritik di hadapan publik, dikarenakan hal tersebut dianggap melanggar nilai dominan atau standar sosial, dan yang terakhir dilakukan oleh mereka yang memiliki otoritas. Lewat rantai momshamming muncul masalah-masalah lainnya pada ibu, seperti memicu depresi, juga babyblues syndrom

Dalam Birthcare Center Oh Hyun Jin harus berjuang melawan dirinya sendiri, dimana ia secara konstan merasa bahwa setelah melahirkan ia kehilangan jati dirinya, tidak lagi merasa bahwa ia seorang manusia yang utuh, tidak pula seorang ibu yang sesuai standar sosial. Oh Hyun Jin mendambakan bekerja, sebagai seorang perempuan dengan karir memukau Hyun Jin merasa menjadi seorang ibu di Serenity menghilangkan identitasnya sebagai manusia dan malah merasa menjadi sapi perah.

Segala kegiatan yang bertujuan demi ASI, semua menu yang bertujuan supaya ASI yang diproduksi melimpah. Belum lagi dengan statusnya yang merupakan ibu di gerbong barang menjadikan Hyun Jin sosok yang tepat sebagai korban momshamming oleh Eun Joong dan beberapa ibu lainnya. Yang menurut Foucault Oh Hyun Jin terjebak di situasi panoptisme. Dimana ia terus menerus merasa diawasi, kemudian ia juga mengawasi dirinya sendiri secara berlebih sehingga memicu stres hingga depresi. Hal ini semata-mata dilakukan supaya ia tidak keluar dari koridor keibuan yang dibangun konstruk sosial. 

Baca:  Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana

Tapi seperti fenomena shamming lainnya yang terjadi di lingkungan kita. Eun Joong pelaku yang sering melakukan momshamming tidaklah sempurna dan bahagia, ia melakukan momshamming semata-mata demi mengamankan status sosialnya.

Semakin lama kita mengikuti Eun Joong kita akan dibawa pada sisi lain kehidupan ibu yang sempurna ala Eun Joong. Mengenai struglingnya menghadapi anak kembar yang nakal dan sering hilang kendali, hal ini membuat ia harus mendapat kritik keras dan dipermalukan oleh mertuanya bahwa ia tidak mampu mendidik anak. Penggambaran yang sempurna mengenai rantai momshamming, bahwa ia akan terus menerus berkelanjutan dan memakan korban lain jika tidak dihentikan sedini mungkin. 

Walaupun akhir cerita Birthcare Center dibuat semanis mungkin. Akhir yang bahagia dimana semua orang  sadar dan menemukan kebahagiaan versi mereka. Hal ini membawa pada kesimpulan bahwa menjadi seorang ibu yang sempurna itu tidak mungkin, tapi menjadi ibu yang bahagia dan saling membantu satu sama lain merupakan suatu pilihan dalam memudahkan hidup satu sama lain.

Seorang perempuan yang sedang belajar mendalami isu keadilan gender.

Leave a Comment

%d bloggers like this: