Bertahun-tahun lamanya, sedari kecil kita disuguhkan dengan tontonan dan bacaan yang menggambarkan representasi perempuan kejam dan suka menyiksa, yang disebut dengan ‘Ibu Tiri’. Bahkan karya musik yang melantunkan berbahayanya ibu tiri seperti salah satu lagu dangdut asal Indonesia berjudul Ratapan anak Tiri yang populer pada awal tahun 1990-an.

Selanjutnya, sutradara Indonesia dalam berbagai film dan sinetron memproduksi skenario populer yang didalamnya terdapat penyiksaan yang menghadirkan lakon wanita kedua, menikahi pria tampan kaya raya yang memiliki anak ditampilkan dengan sangat epik, membuat penontonnya gemas dan mencaci maki figur tersebut. 

Mengutip jurnal Fatimah (2016) yang berjudul melawan stigma ibu tiri: Kajian sosiologi sastra terhadap novel a thousand splendid suns karya khaled hosseini, cerita mengenai kekejaman ibu tiri telah melegenda di seluruh dunia melalui dongeng seperti Cinderella, Puteri Salju, Klenting Kuning, dan Panji Semirang. Sementara pada kehidupan nyata, kasus kekejaman ibu tiri terhadap anaknya jamak terjadi.

Kisah fenomenal Arie Hanggara (1984), Adit (2013) dari Indonesia dan Charlie Bothuell V dari Detroit AS (2014) adalah beberapa contoh nyata kekejaman ibu tiri. Intinya, Ibu tiri seakan-akan sama mengerikannya dengan sosok monster atau nenek sihir. Pada akhirnya, secara berjamaah kita menelan cerita tersebut tanpa kumur-kumur. 

Di sisi berbeda, terdapat pandangan seorang Cara Zaharychuk dari Athabasca University di Kanada (viva.co.id) yang menyatakan bahwa terkhusus keluarga yang memiliki konflik setelah perceraian, beberapa diantaranya menemukan ibu tiri yang bahkan menjadi support system berharga untuk anak-anak sambungnya.

Menurut Cara, seharusnya media bisa mendukung akomodasi pembentukan keluarga yang sehat dengan tidak melakukan steorotype tentang ibu tiri sebagai orang jahat. Sehingga relasi antara anak dan ibu tirinya tersebut tidak menjadi canggung dengan internalisasi nilai di awal yang melahirkan berbagai asumsi negatif. Seiring berjalannya waktu dan kritik terhadap kejamnya stigma terhadap perempuan yang berada di posisi tersebut, frasa ibu tiri kemudian mulai bergeser dengan frasa baru, yakni ibu sambung.

Baca:  Ketika Perempuan Dihadapkan Pada Mertua Patriarkis

Pandangan patriarkis yang diwariskan turun temurun dalam keluarga seakan-akan membuat perbandingan diantara perempuan yang satu dengan yang lainnya. Menjadi perempuan, baik status yang disandang ibu kandung atau ibu tiri sebenarnya sama-sama menyulitkan posisi perempuan. Tak sedikit stigma masyarakat yang menyalahkan ibu kandung apabila tidak bisa merawat dan mendidik anak-anaknya, terlebih perempuan yang bekerja dan berkarir. Seolah-olah anak dalam pernikahan hanya dibebankan pada seorang ibu, tanpa memperhatikan pentingnya kerjasama antar pasangan yang berumah tangga. Maka, berbahagialah pasangan yang dapat memahami pentingnya peran asuh anak dikerjakan bersama-sama. Lalu bagaimana jika pernikahan tidak dapat dipertahankan, kemudian suami menikah lagi?

Tidak sedikit keluarga yang notabene-nya adalah orang dewasa, mempengaruhi anak-anak dengan menakut-nakuti mereka tentang perilaku ibu tiri yang diberitakan selama ini. Bahkan, tidak sedikit pihak yang mendorong ibu kandung mengambil hak asuh anak dengan mengkambing hitamkan sosok ibu sambung anak-anaknya kelak. Hal ini membuat ibu kandung menjadi cemas, hingga timbul asumsi negatif bahwa anak-anaknya tidak akan bahagia jika mantan suaminya menikah kembali. Pandangan inilah yang membuat perempuan merasa rapuh dan turut membandingkan dirinya dengan sesama perempuan. 

Perempuan yang masuk kedalam kehidupan keluarga lelaki yang pernah menikah kerap kali mengalami kerapuhan dan kecemasan, terlebih jika pasangannya tidak mengkomunikasikan kondisi yang sebenarnya tentang pernikahan sebelumnya. Dalam komunikasi yang tidak setara, pria yang hendak menikah lagi hanya memandang perempuan sebagai objek dan pengasuh sambung bagi anak-anaknya, tanpa memberi dukungan moril dan psikologis. 

Namun sebaliknya, jika laki-laki memiliki pandangan yang setara dan menghormati seorang perempuan, maka ia akan menempatkan perempuan yang dinikahinya sebagai rekannya dan sahabat bagi anak-anaknya. Lebih lanjut, Zaharychuk menemukan bahwa memutuskan untuk menikah kembali adalah salah satu dari enam titik balik utama yang membuat anak-anak merasa seperti mereka memiliki keluarga lagi, terlebih jika sang Ayah dapat menghargai relasi barunya dengan mendampingi pengasuhan dan pendidikan keluarga yang sehat dan setara. 

Baca:  Komersialisasi Poligami: Cara Baru Jualan Agama

Menikah lagi, bukan soal pemenuhan seks bagi lelaki yang sudah bercerai. Bukan juga soal siapa yang akan mengurus sang pria saat tua kelak. Apalagi ini bukan pula soal melimpahkan beban asuh secara tunggal pada perempuan yang dinikahinya, melainkan ini soal melengkapi tugas dan peran utuh keluarga dalam pembentukan karakter anak-anak yang bahagia. Tentu, hal ini harus berdasarkan konsen dan persetujuan anak-anak dengan menjelaskan sebaik-baiknya. 

Dibalik alasan seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu bagi anak-anak dari lelaki yang telah bercerai, tentu ada komitmen dan keyakinan yang dicapai berdasarkan pertimbangan. Sebab menjadi perempuan dengan segala status, baik lajang, isteri kedua, ibu tiri, ibu kandung, atau janda, sama-sama bukan hal mudah dikarenakan kebiasaan masyarakat patriarki yang sering melayangkan stigma.

Penulis, yang notabene-nya belum menikah, memiliki pandangan netral dalam menuliskan narasi ini, mengeksplorasi berbagai jurnal dan artikel yang mengglorifikasi kekejaman ibu tiri, seolah olah dalam konteks keluarga dan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai patriarki, perempuan yang menjadi ibu tiri harus memikul beban yang berat dengan stigma yang dihadapinya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.