Tak Perlu Malu Menjanda

Apa yang terbesit di pikiran kalian ketika mendengar kata janda? Perempuan lemah? pelakor? miskin? Gampangan? Sudah miskin, lemah, tak tau harus berbuat apa dan akhirnya berusaha mendapatkan suami baru untuk menaikkan martabatnya. Katanya sih begitu.

Umumnya itu yang biasanya terlintas pada benak masyarakat tentang perempuan janda. Namun stigma-stigma yang dilekatkan pada janda merupakan wujud cerminan masyarakat kita yang misoginis dan tak pernah berpihak pada perempuan.

Rasanya tak adil jika pola pikir masyarakat menghakimi perempuan yang berstatus janda namun tidak dengan lelaki yang berstatus duda. Lihat saja, setereotipe yang ada lebih banyak menunjukkan bahwa duda itu keren, namun tidak dengan perempuan janda.

Masyarakat sangat menseksualisasi perempuan janda dan menjadikan bahan candaan yang memojokkan perempuan yang statusnya sudah rentan secara ekonomi. Buktinya tak ada habisnya tulisan di belakang truk yang memuat kata-kata “Kutunggu Jandamu.”

Ibuku sendiri seorang janda. Ketika ayah meninggal, dunia kehidupan ibu berubah seratusdelapanpuluh derajat. Tak punya pekerjaan, tapi harus membiayai hidup sehari-hari dan biaya sekolah anaknya hingga akhirnya berujung hutang dimana-mana. Ditambah dengan cemooh dan pandangan sebelah mata dari tentangga-tetangga. Tau sendiri kan kehidupan di Indonesia itu kerjaannya nyinyirin orang lain.

Sejak saat itu, saya belajar bahwa saya tak mau menggantungkan hidup pada siapapun, termasuk orang tua, saudara, teman dekat, atau mungkin suatu saat nanti suami. Menjadi berdaya, adalah keharusan karena kita tak akan pernah tahu kehidupan kita kedepannya seperti apa.

Menjadi janda bukanlah pilihan. Mana ada perempuan yang mau jadi janda, kemudian mendapatkan stigma negatif dari masyarakat? Tapi ketika Tuhan menghendaki dirimu untuk menjalani kehidupan sebagai seorang janda baik itu karena perceraian atau karena kematian, kita harus sudah siap kapan saja itu terjadi pada diri kita.

Baca:  Omnibus Law Bikin Pekerja Perempuan CiLaKa

Oleh karenanya, perempuan harus berdaya menghidupi dirinya sendiri baik ketika ia masih lajang, menikah atau setelah ia berstatus janda. Jangan sampai menggantungkan keuangan kita kepada pasangan kita atau mengharapakan lelaki menyelamatkan kita dari keterpurukan ekonomi. Ketika kita ditakdirkan menjadi janda kelak, kita sudah siap menghadapai tantangan kehidupan selanjutnya.

Ditinggal pasangan meninggal, menjadi janda dan menjadi tulang punggung memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Saya sering mendengar istilah seperti ini, “seorang ibu bisa menjadi ibu sekaligus ayah, tetapi seorang ayah bisa menjadi ayah dan belum tentu bisa menjadi seorang ibu”. Hal ini menandakan memang benar perempuan itu adalah ciptaan Tuhan yang kuat.

Mencari suami baru untuk menggantungkan kehidupan kita bukanlah jawaban atas persoalan stigma janda yang melekat pada perempuan janda. Mempertemukan dua keluarga asing sebelumnya untuk dijadikan satu kembali, belum tentu berhasil, toh banyak janda menikah dengan duda atau dengan seorang lajang sekalipun, tetap dipandang “buruk”. Siapa yang dipandang buruk? Pasti selalu perempuannya kan?

Belum lagi dengan masalah dari keluarga masing-masing, anak-anak yang harus adaptasi dengan orang baru, keluarga besar yang nyinyir, dan masih banyak lagi.

Saya ingin seorang janda juga punya status yang sama seperti seorang duda, coba pikirlah selama ini apa ada seorang duda dipandang sebelah mata?

Jarang sekali bukan?

Seorang janda selalu dilekatkan dengan anggapan bahwa ia menerima dan terbuka melakukan seks dengan siapa saja karena asumsi bahwa janda haus akan kasih sayang, sehingga ia akan tergoda dengan lelaki siapa saja bahkan mau dengan lelaki yang sudah menikah sekalipun. Anggapan ini salah besar dan berakar dari seksualisasi tubuh perempuan.

Baca:  Standar Kecantikan

Tentunya jika seseorang memang sudah punya niat untuk selingkuh dan berhubungan seks, tak perlu janda, seseorang yang sudah berstatus menikah pun bisa melakukannya dengan siapapun yang ia mau.

Jika memang harus menjalani hidup sebagai janda, itu bukanlah masalah. Karena tak ada yang salah dengan status berpisah dari pasangan atau ditinggal pasangan.

Memilih untuk menikah kembali setelah menjanda adalah hak setiap orang. Tak sepatutnya kita menghakimi pilihan orang, namun kita harus yakin bahwa pilihan kita untuk menikah bukan karena untuk memenuhi standar sosial. Alasan untuk menikah adalah karena kita yakin bahwa orang tersebut adalah orang yang tepat untuk menemani kita menjalani hidup bersama.

Sudah seharusnya masyarakat dan negara memberi dukungan moril serta subsidi bagi orangtua tunggal sehingga kita tetap bisa dapat berdaya dan merawat anak yang kelak menjadi penerus bangsa. Jika kita tak memiliki sistem pendukung maka orangtua tunggal terutama perempuan akan terus mendapatkan stigma oleh masyarakat dan negara. Hal ini juga akan menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Karena janda, duda dan orang-orang yang ditinggalkan pasangannya bukanlah aib melainkan cara semesta untuk mengajari kita merangkul sesamanya di dalam masyarakat.

Perempuan kelahiran Jakarta ini adalah seorang anak tunggal yang tinggal di Bekasi berdua dengan Mamanya tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *