Tak Perlu Memuji Lelaki

Dalam konstruksi sosial laki-laki dan perempuan seakan telah diatur sedemikian rupa keberadaannya. Mulai dari cara berpakaian sampai berperilaku. Celakanya, konstruksi masyarakat cenderung jatuh kepada sistem patriarki. Tentu saja perempuan menjadi yang paling banyak dirugikan. 

Salah satunya adalah kesulitan masyarakat mengapresiasi kerja perempuan, dan lebih mampu memberi apresiasi pada kerja laki-laki. Bahkan dalam ranah domestik sekalipun. Konstruksi sosial menganggap bahwa pekerjaan domestik merupakan tanggung jawab perempuan. Seperti memasak, mengatur rumah sedemikian rupa dan mengurusi anak. 

Masyarakat tentu akan menganggap bahwa segala bentuk kerja perempuan di rumah adalah hal yang wajar, biasa saja, dan memang seharusnya begitu. Sehingga masyarakat seakan enggan mempersoalkan, perihal sibuk atau lelahnya perempuan dalam mengurus rumah tangga. Ketika perempuan tidak mampu menjalankan tugas perawatan rumah tangga, maka perempuan akan dilabeli, dan itu pasti. 

Lain hal dengan laki-laki yang tidak dituntut untuk mahir dalam ranah domestik. Jika laki-laki tidak bisa memasak, akan dianggap wajar saja. Laki-laki jarang mau menyapu atau mencuci pakaian, bilangnya itu gak papa. Laki-laki gak bisa ganti popok atau ngurus anak, katanya ya itu tugas utama sang ibu.

 Jujur aja deh, kalau lihat rumah berantakan, anak kecil yang nakal atau nilai sekolahnya jelek, yang lebih sering ditanya si ayah atau si ibu? Pasti si ibu.  Karena nilai yang berlaku di masyarakat, hal tersebut  menjadi bagian dari tugas kodrati perempuan di rumah. Pun ketika seorang ayah sering mengantar jemput anaknya sekolah, atau malah sering kelihatan menemani anaknya, pasti ada saja  yang nyeletuk begini, “Lha ibunya mana? Kok malah ayahnya sih?”. 

Beda soal jika laki-laki dalam rumah tangga berperan untuk melakukan pekerjaan domestik, maka pekerjaan yang ia lakukan jauh lebih diapresiasi. Hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal pekerjaan perawatan, wajib dilakukan bersama dalam kehidupan berumah tangga.

Baca:  Sampai Kapanpun Istri Berhak Menolak Seks

Seperti kejadian yang pernah saya alami, ketika saat membeli nasi bungkus di depan rumah. Lalu ada tetangga menanyakan “Apakah di rumah tidak ada nasi?”. Saya menjawab bahwa beras di rumah belum dimasak adik laki-laki saya karena ia lupa. Memang di rumah saya, yang paling sering menanak nasi adalah adik laki-laki saya. Adik saya bahkan sama sekali tidak keberatan. 

Namun si tetangga justru memarahi saya dengan alas-an, bahwa pekerjaan menanak nasi seharusnya dilakukan oleh perempuan bukan laki-laki. Bahkan si tetangga sempat memuji adik saya yang bisa dan mau melakukan ‘tugas perempuan di rumah’. Sementara saya dirundung ceramah sampai titik darah penghabisan. 

Pun kejadian yang pernah saya lihat di Masjid, ada anak laki-laki dan perempuan sedang menyapu bersama-sama. Kemudian orang lain secara kebetulan melintas dan melihat kegiatan tersebut, yang mendapat sanjungan adalah si laki-laki. Disanjungnya laki-laki tersebut karena mampu, dan murah hati karena mau membantu untuk menyapu. Sedangkan anak perempuan yang melakukan pekerjaan serupa justru tak digubris sama sekali. Miris memang sedari kecil sudah dikotak-kotakan, mana tugas perempuan dan mana tugas laki-laki. Hal ini juga semakin melanggengkan bias gender dan budaya patriarki. 

Bukan hanya saya yang pernah mengalami hal-hal ini, setiap dari kita pasti pernah atau sekadar melihat kejadiannya saja. Namun hal semacam itu harusnya bisa dihilangkan. Meskipun sulit karena sudah mendarah daging, sehingga dianggap sesuatu yang lazim di masyarakat kita. Sayangnya jika pengotak-kotakan ini terus dilanggengkan, maka perempuanlah yang akan rugi. Terutama menyoal pekerjaan domestik. 

Perempuan wajib bisa mengurus rumah tangga sedangkan laki-laki tidak, sebenarnya hanyalah kultur yang tidak memiliki kebenaran mutlak. Kultur ini bisa dibenahi asal dengan semangat kesalingan. Jadi bila laki-laki bisa masak, menyapu, mengurus anak, dan seterusnya, itu adalah hal biasa saja. 

Baca:  Melajang adalah Perlawanan

Membantu perempuan memasak di dapur, mencuci baju, dan mengganti popok, itu bukan tugas suami untuk membantu istrinya. Tetapi  keharusan yang dilakukan bersama, atas dasar tanggung jawab bersama. Bisa diandalkan satu sama lain dan bisa saling mengingatkan

Urusan domestik siapa saja boleh melakukan. Pekerjaan perawatan tidak pernah memilih jenis kelamin. Menanak nasi tidak perlu harus dia yang bervagina. Mengurus anak juga bisa dilakukan dia yang berpenis. Intinya ranah domestik itu bisa saling mengisi. Akan lebih bagus jika saling membantu, tanpa memberatkan satu pihak. 

Untuk perempuan yang masih terkagum-kagum dengan laki-laki rajin cuci baju sendiri, jago masak, mampu membersihkan rumah dsb, hentikan bombardir pujian tidak perlu  pada mereka. Pun urusan seperti itu, tiap manusia harus bisa belajar kan? Semua itu hanya ilmu merawat yang wajib dikuasai oleh setiap insan.

Kita tidak akan jauh dari pakaian, dan pakaian juga tidak akan bersih dengan sendirinya. Makan kalau tidak masak juga tidak akan muncul sendiri. Piring kotor juga tidak akan membersihkan dirinya sendiri. 

Juga untuk para laki-laki di luaran sana, yang ‘mungkin’ merasa bangga sekali dan ‘sempat’ memamerkan di sosial media. Melakukan pekerjaan domestik adalah hal yang sangat biasa dalam rumah tangga, dan sebagai anggota keluarga tersebut tentu kontribusimu adalah sebuah kewajiban, bukan kelangkahan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *