“Tapi Dia Kan Emang Cakep”: Tara Basro dan Sulitnya Menyampaikan Pesan Self Love

Tara Basro dalam Perempuan Tanah Jahanam

Beberapa waktu lalu, Tara Basro menjadi pembicaraan hangat. Pasalnya, ia mengunggah foto “berani” di media sosialnya. Pertama, ia mengenakan pakaian two piece dalam jepretan tersebut, dan pada foto yang lain ia tampil polos tanpa sehelai benang. Kedua, ia dengan sengaja memfokuskan foto pada area perut dan menunjukkan area pahanya yang memiliki stretchmark. Ini mungkin menjadi hal yang aneh, terutama dalam masyarakat yang menganggap pertanyaan basa-basi seperti “kok gendutan?” merupakan hal yang wajar.

Benar saja, tak lama setelah fotonya viral, Kominfo menyebut Tara Basro berpotensi melanggar UU ITE. Beberapa warganet pun mengecam Tara Basro yang menganggap perbuatannya memamerkan aurat tidak pantas.

Menurut saya apa yang Tara Basro lakukan wajar saja, terutama ia memang sedang menyoroti standar kecantikan yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Tapi ya, memang standar moralitas tiap orang bisa berbeda. Bahkan satu hari saja tidak cukup untuk membicarakan tentang moralitas.

Jujur saja, alih-alih berkata “idih”, respon pertama saya ketika melihat unggahan foto tersebut adalah “Wah, gila. Berani banget ini orang!”. Dalam foto tersebut, Tara Basro menulis caption yang tak kalah powerful.

Intinya, butuh waktu lama bagi Tara untuk sampai pada titik dimana ia mampu mencintai tubuhnya sendiri. Menurutnya, ia telah terbebaskan dari ekspektasi-ekspektasi yang mengekangnya selama ini.  

Hegemoni standar kecantikan di Indonesia adalah kulit putih, badan langsing, dan postur tinggi. Ini diperkuat oleh model di media masa yang didominasi oleh orang berkulit terang atau keturunan Eurasia, serta iklan produk peninggi badan yang hilir mudik di Instagram.

Ini adalah bentuk perlawanan Tara Basro terhadap hegemoni itu. Tentu, akan ada pro dan kontra yang menyertai. Usaha Tara Basro untuk mendobrak standar kecantikan tunggal tersebut sedikit terganjal oleh komentar seperti “Ya tapi dia kan emang cakep, coba gue”. Ini adalah komentar beberapa orang yang saya kenal dan beberapa warganet.

Baca:  Meghan Berlari, Harry Mengikuti

Komentar ini merupakan suatu paradoks, karena di satu sisi dapat dianggap sebagai pujian, sementara di sisi lain si penutur mempertentangkannya dengan kondisi diri sendiri atau orang lain dengan nada negatif. Orang-orang yang berkata demikian berarti belum meresapi secara mendalam pesan Tara Basro tentang self-love dan penerimaan.

Ternyata, komentar semacam ini umum terjadi. Jameela Jamil, seorang penulis sekaligus aktris asal Inggris juga mengalami hal serupa. Ia memelopori gerakan ‘I weigh’ di Instagram untuk mengajak para perempuan menghargai keunikan masing-masing dan kontribusi mereka terhadap masyarakat, karena nilai seorang perempuan tidak dinilai dari angka yang tertera pada timbangan.

Ia mengaku kerap menerima komentar seolah-olah ia tidak pantas untuk berpartisipasi dalam kampanye self-love karena ia masuk dalam kategori cantik. Menurut Jameela Jamil, jika Anda umumnya tidak dianggap menarik, maka orang akan mengatakan Anda hanya cemburu. Sebaliknya, ketika Anda dianggap cantik secara umum, Anda tidak pantas membicarakan tentang self love dan acceptance karena memiliki terlalu banyak privilege.

Wah, padahal untuk menerima diri sendiri tidak mudah. Terkadang afirmasi dari orang lain bahwa kita cantik pun tidak cukup. Kita tidak pernah tahu, mungkin saja ada model Victoria’s Angels atau ‘ratu sejagat’ macam Miss Universe yang struggling dengan penampilan mereka. Karena kebanyakan manusia memang tidak pernah merasa cukup. Hal yang harus mendapat lebih banyak perhatian adalah bagaimana menciptakan standar kecantikan yang infklusif dan bahu membahu meningkatkan kepercayaan diri satu sama lain alih-alih menjadikannya kompetisi.

Ketidakpuasan terhadap penampilan ada kaitannya dengan penggambaran citra-citra kecantikan ideal yang terkadang tidak realistis. Hal ini memengaruhi perempuan sampai kita menganggap tubuh sebagai suatu kekurangan yang harus didisiplinkan untuk mencapai kesempurnaan melalui beragam cara.

Baca:  Berdamai dengan Rasa Cemas di Masa Pandemi

Akan tetapi, tubuh perempuan juga dapat menjadi sarana resistensi terhadap obyektifikasi tubuh dalam consumer culture. Menurut tesis Samantha Yee Yee Fo yang berjudul “The Beauty Trap: How The Pressure to Conform to Society’s and Media’s Standards of Beauty Leave Women Experiencing Body Dissatisfaction”, analisis data menunjukkan bahwa perempuan mampu menghargai diri sendiri ketika berbagai tipe badan diterima oleh media dan masyarakat. Pujian dan dukungan dari teman sebaya dan keluarga juga penting untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Banyak literatur yang menggarisbawahi bahwa media memiliki peran besar untuk menciptakan ketidakpuasan terhadap penampilan. Tapi ternyata media juga dapat berperan positif untuk mempromosikan keragaman citra kecantikan. Tara Basro memahami hal itu. Oleh sebab itu ia mengambil langkah ini untuk membuka diskusi tentang standar kecantikan yang inklusif. Terlebih ia adalah seorang figur publik yang memiliki audiens luas. Maka ia memanfaatkan saluran tersebut.

Andaikata anda termasuk orang yang mengkritisi foto Tara Basro, saya berharap Anda juga sempat membaca caption dan meresapi pesan yang terkandung di dalamnya. Siapa tahu ada pelajaran yang dapat diambil dari sana. Selain itu, berlomba-lombalah dalam kebaikan, bukan menjadikan penampilan fisik sebagai ajang kompetisi.

Akhir kata, Terimakasih, Tara Basro.

Perempuan sederhana yang berusaha mempraktikan filosofi Jawa“Memayu Hayuning Bawono," untuk bisa mencapai keadilan dan kesejahteraan untuk semua.

Leave a Comment

%d bloggers like this: