Kamu yang nafsu, kok Tara Basro yang disalahin?

Seorang pemain film bernama Tara Basro ramai diperbincangkan netizen terkait unggahan terakhirnya dalam media sosial Instagram. Unggahan foto tubuhnya disertai pesan menyentuh yang ia sampaikan melalui caption foto kepada followersnya untuk mencintai tubuhnya sendiri mengundang banyak respon positif.

Mulai dari dukungan, ucapan terimakasih karena telah mengingatkan banyak orang untuk mensyukuri bentuk tubuhnya sendiri. Respon simpel melalui emoticon love di dalam kolom komentar sampai disebar ulangnya unggahan Tara Basro di sosial media oleh para netizen. Berikut isi pesannya :

Dari dulu yang selalu gue denger dari orang adalah hal jelek tentang tubuh mereka, akhirnya gue pun terbiasa ngelakuin hal yang sama.. mengkritik dan menjelek2an. Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang tidak kita miliki. Setelah perjalanan yang panjang gue bisa bilang kalau gue cinta sama tubuh gue dan gue bangga akan itu. Let yourself bloom ?✨”

Dalam foto tubuh disertai caption yang mengandung pesan body positivity ini, Tara Basro berusaha menyampaikan kepada khalayak bahwa berbanggalah kalian pada tubuh yang kalian miliki mulai dari warna, bentuk, ukuran. Akan banyak hal positif yang kita dapatkan jika kita bersyukur dengan cara menerima dan menghargai bentuk tubuh yang kita punya tanpa perlu melakukan perubahan demi terlihat sempurna berdasarkan standar sosial, tanpa perlu menghiraukan komentar negative yang dilontarkan orang-orang.

Hal ini tentu saja dapat memberi semangat dan pancaran positif kepada semua orang, terutama mereka yang masih membenci tubuhnya sendiri, korban perundungan bentuk tubuh atau body shaming yang bahkan dapat mempengaruhi kondisi mental seseorang, “let yourself bloom”, katanya.

Baca:  Dimana Hak Politik Perempuan Dalam Islam?

Namun, ditengah ramainya respon positif terhadap unggahan tersebut, ada satu respon yang dapat membuat dahi berkerut. Respon itu berasal dari KOMINFO. Tanpa pikir panjang, mungkin juga tanpa membaca caption, Humas Kominfo Ferdinandus Setu menyatakan bahwa konten yang diunggah Tara Baso dapat dijerat UU ITE pasal 27 ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan”. UU ITE, lagi-lagi UU karet nan bias ini selalu konsisten untuk berprasangka buruk dalam memperkirakan suatu nilai dan kejadian.

Betapa lemahnya orang-orang yang memperkarakan unggahan Tara Basro ini dalam mengendalikan nafsunya yang ada dikepalanya. Karena nafsu dan tuduhan jahatnya, bahkan mereka seakan akan tidak bisa membaca sedikitpun penjelasan mengenai foto tersebut.

Alih-alih meresapi pesan positif yang terkandung didalam caption unggahan, tubuh Tara Basro dalam foto malah dijadikan fokus utama untuk dihardik disertai tuduhan “konten mengandung pornografi”. Berlaku tidak adil sejak dalam pikiran, mengutamakan nafsu dan mengenyampingkan pesan yang dapat dicerna dengan akal sehat dalam melihat lekuk tubuh perempuan. 

Lagi-lagi, menyalahkan tubuh, pikiran, dan keputusan perempuan.

Setiap orang memiliki otoritas terhadap tubuhnya sendiri, termasuk menyebarkan pasan positif tentang body positivity atau pesen tubuh positif, tetapi hal menyedihkan masih terjadi lagi, yaitu belenggu patriarki, belenggu yang memandang perempuan tidak lebih dari sekedar objek seksual.

Lekuk tubuh yang ditunjukan untuk mendukung pesan dalam caption positif sulit dicerna dengan positif, malah diancam oleh undang-undang yang menyatakan bahwa Tara Basro menyebarkan konten pornografi. Apakah isi kepala kalian hanya birahi?

Teruntuk kalian yang berpihak pada pernyataan humas kominfo, mungkin kalian perlu cuci otak. Ada banyak cara positif untuk menganalisis sebuah konten selain melalui pendekatan fantasi seksual. Lagipula, eksistensi tubuh perempuan TIDAK diciptakan untuk lelaki. Perempuan mengunggah realita fotonya tidak untuk memancing birahi para penganut patriarki yang mudah terpancing hasrat seksual.

Baca:  Ketika Perempuan Mencibir Sesama Perempuan

Unggahan Tara Basro ini disertai penjelasan dalam caption. Coba dibaca kembali apa isi pesan dalam caption tersebut. Setelah caption dibaca, coba juga difikirkan kembali sebelum bereaksi, yang salah konten unggahannya atau otakmu?

Tentu saja, yang salah adalah otakmu yang tidak bisa menahan nafsu dan menyalahkan orang lain karena tidak bisa menahan nafsu!

Saya adalah penyendiri tetapi suka bersosialisasi. Budaya dan Bahasa adalah hal yang saya hal yang menarik bagi saya untuk dipelajari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *