Audisme, diskriminasi pada teman-teman tuli, adalah kata yang mungkin baru belakangan sering terdengar, padahal praktik diskriminasi kepada teman-teman tuli sudah sejak lama mengakar dan terinternalisasai dalam setiap aspek kehidupan. Dari sekian banyak faktor yang menghadirkan diskriminasi pada teman-teman tuli, di Indonesia, nampaknya teologi menjadi salah satu kontributor terkuat. Ya, memang soal “power” lagi-lagi menjadi penentu suara yang di dengar, sayangnya ableisme, diskriminasi pada teman-teman dengan disabilitas, seringkali justru datang dari teologi yang berakar pada standar tubuh dari kultur normal (normate culture).

Teologi agama memiliki power yang kuat dan hadir secara halus (subtle) namun pasti, dalam cara berpikir dan bertindak masyarakat Indonesia umumnya. Tidak selalu secara terang-terangan, tetapi juga dalam bentuk kecil yang disebut sebagai mikro-ableisme (micro-ableism) dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang Menteri yang belakangan melakukan audisme kepada teman-teman tuli di Hari Disabilitas Internasional, menjadi contoh yang mudah untuk kita akses. Tindakan audisme yang memaksakan teman tuli untuk tidak menggunakan Bahasa isyarat, sayangnya dilakukan oleh seorang pemimpin, dan mirisnya di Hari Disabilitas Internasional. Akan tetapi, audisme tidak hanya dilakukan oleh beliau seorang. Teman-teman tuli di Indonesia mendapatkan diskriminasi atas cara mereka berkomunikasi dan berelasi hampir dalam setiap dimensi kehidupan mereka. Hal ini tentu saja berdampak pada keterbatasan atau penghilangan akses atas pendidikan, kesehatan, spiritualitas, pekerjaan, hiburan, dan berbagai kebutuhan fundamental sebagai manusia.

Di dalam teologi Kristen misalnya, “kata” (word) menjadi konsep yang dianggap penting. Dalam buku “Theology without Words: Theology in the Deaf Community,” Wayne Morris mencatat bahwa “kata” dalam teologi Kristen Barat seringkali dihubungkan dengan pengetahuan intelektual, bahkan seringkali bermakna Ilahi. Frasa “Firman Tuhan” (word of God) dihubungkan dengan Alkitab dan bahkan Yesus Kristus disebut sebagai Sang Firman; Sang Kata (The Word).

‘Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah sendiri’ (Yohanes 1:1). Ayat pembuka dalam Injil Yohanes ini paling dikenal dan paling sering digunakan sebagai pernyataan-pernyataan Kristologis dari Alkitab dan Tradisi Gereja. Teologi Kristus sebagai “Sang Firman,” berakar dari tradisi Filsafat Helenistik (Yunani) yang cenderung diasosiasikan dengan hakikat Allah yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus, yang juga berada dalam paradigma konsep Barat, bahwa ‘kata’ adalah akal budi dan kemampuan intelektual. Allah pada esensinya adalah Allah yang Sang Ada yang intelektual, maka kualitas intelektual manusia dianggap sebagai bukti Gambar Allah. Dalam tradisi lainnya ‘firman Tuhan’ adalah frasa yang digunakan untuk mendeskripsikan Alkitab. (Wayne, xiii)

Dampak dari tafsiran Teologi Kristen Barat yang berpusat pada “kata” adalah teman-teman yang tidak menggunakan kata dianggap cenderung bodoh, karena tidak mendapatkan akses terhadap pengetahuan versi kultur normal, dan akhirnya dianggap kurang spiritual karena Gambar dan Rupa Allah (Image of God) diasosiasikan dengan kata dan intelektualitas. Tentu saja ini melahirkan stigma yang perlu dihilangkan!

Baca:  Mengapa kita saling membandingkan?

Padahal Teologi Kristen sendiri lebih dari “kata,” tetapi juga pengalaman tubuh yang melampaui kata dan intelektualitas. Maka, makna kalimat “memaksimalkan pemberian Tuhan,” seperti yang disampaikan oleh Menteri kita, mestinya menerima dan menghargai berbagai cara berkomunikasi dan berelasi yang juga adalah pemberian Tuhan. Seluruh tubuh adalah pemberian Tuhan, bukan hanya suara, tetapi juga tangan. Bahasa Isyarat juga adalah pemberian Tuhan!

Kondisi disabilitas sangat beragam, dan tidak mudah untuk menjadi seorang yang mengerti secara mendalam cara berkomunikasi orang lain. Tapi paling tidak, kita bisa menghargai cara berkomunikasi dengan setara. Tentu saja kita akan keberatan jika Bahasa Indonesia dianggap tidak setara dengan Bahasa Inggris misalnya. Lagi-lagi standar dari kultur normal yang dihasilkan oleh pemilik kuasa, perlu untuk selalu dipertanyakan.

Teman-teman dengan disabilitas intelektual yang berkomunikasi dan berelasi dengan cara non-verbal, tentu saja juga tidak bisa dibatasi cara berelasinya dengan Tuhan dan sesama. Tidak harus menjadi tuli dulu baru bisa menerima bahwa Bahasa Isyarat adalah cara berkomunikasi dan berelasi yang setara. Juga tidak ada gunanya spiritualitas yang berpusat pada kata dan intelektualitas, jika relasi dengan Tuhan dan sesama menjadi rusak.

Saya ingat seorang teolog disabilitas yang mempresentasikan tulisannya di sebuah konferensi teologi. Ia mengutip sebuah refleksi dari seorang teolog tuli: “Ketika saya mati, Allah menyambut saya di Surga dengan Bahasa Isyarat!”

Sumber rujukan:
Wayne Morris, “Theology without Words: Theology in the Deaf Community,” London, Routlege, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *