Maaf Ayah, Cita-citaku Bukan Tiket Neraka

Kata orang ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Tetapi aku tidak sama sekali setuju. Hari itu, aku benar-benar meragukan ketulusan cinta ayah kepadaku. Masih terbesit dalam ingatan, bagaimana rasa kecewa itu tak mau hilang.

11 Mei 2016 hari dimana aku sama sekali tidak diberi kebebasan untuk memilih. Padahal setiap manusia memiliki hak untuk mengambil keputusan terbaik dalam hidupnya. Dengan mudah ayah menentang pilihan yang sudah ku perjuangkan sejak lama.

Diterima pada salah satu perguruan tinggi dengan jurusan yang sudah ku incar sejak aku berusia 14 tahun, adalah kabar bahagia, untukku sendiri, ya.. aku sendiri, bukan untuk ayah.  Dia marah besar lantaran keputusanku yang gegabah dan terlihat sia-sia.

 “Kamu lepas saja. Saya tidak pernah setuju dengan apa yang kamu pilih. Tidak usah diambil jurusan itu. Mau jadi apa? Sastrawan dan budayawan mau jadi apa? mana ada uangnya! Boro-boro balik modal dan balas jasa orang tua, bertahan idup aja belum tentu bisa. Jadi dokter saja! Supaya hidup aman dan cepat kaya,” gertaknya.

Harusnya hari ini aku bahagia, merayakan keberhasilanku dengan minum teh hangat sembari mempersiapkan diri menyambut babak baru. Bagaimana tidak? Mendengar pengumuman aku diterima saja sudah bisa membawa angan-angan ku pada buku-buku kuliah. Aku seperti menimang cita-cita, ku belai dia, lembut.. menggemaskan.

Namun bayangan itu sekejap sirna, ancaman ayah untuk menghentikan biaya kuliah seketika merenggut cita-cita itu dari pelukanku. Aku seperti ibu yang dipisahkan dari anaknya. Ayah.. ah ayah… mengapa kau tak juga paham! Hanya karena anak itu tidak sesuai dengan harapan, bukan berarti ia sumber masalah!

“Kalau kamu tetap pada pilihanmu, saya tidak akan biayai kamu berkuliah. Kamu boleh kuliah jika masuk kedokteran. Jangan jadi pembangkang, Tidak ada surga bagi anak yang melawan orang tuanya,” Lanjutnya dengan angkuh.

Baca:  Benarkah Perempuan Butuh Perlindungan Lelaki?

Alasan demi alasan, janji demi janji ku tawarkan, tak sedikitpun dapat ku sangsikan atas apa yang telah aku pilih. Tetapi ayah tetap melabeli aku durhaka mengancamku neraka, jika aku bersihkukuh pada citaku sendiri.

Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar ayah merestui. Pun dengan ibu, ia juga tak bisa membantuku. Membantah keputusan ayah, berarti tidak patuh, dan perempuan harus tunduk pada suami. Akupun begitu, aku hanya mampu berjalan ke arah kamar, mengunci diri sendiri, memohon bantuan pada sang Kuasa.

Dari balik pintu kamar, aku bisa mendengar perdebatan ayah dan ibu, telingaku penuh, dan sesak dengan nada-nada tinggi. Rasa bersalah pun berkali-kali menghujam jantung, “Gara-gara aku, ayah ibu bertengkar,”. 11 Mei 2016 berlangsung lebih lama dari biasanya. Aku hanya pasrah, berharap Tuhan beri jawaban atas doaku di esok hari.

Keesokan harinya aku belum berani berjalan keluar dari kamar. Kegiatan yang aku lakukan masih sama. duduk dan berdoa pada Tuhan, berharap Ia dapat memberikan pertolongan. Tiap detik masih ku lalui dengan duka, mengenang timangan cita-cita yang dipaksa lepas.

“Kedokteran katanya, yang benar saja,” gumamku. Sudah barang pasti aku tau sejauh mana aku punya kemampuan. Akupun tau, setiap orang punya hak untuk mempertahankan keputusan. Disisi lain aku tidak berdaya. Sesekali terlintas di benakku “Ya Tuhan, sulit sekali ternyata menuntut ilmu,”

Hari berganti malam, tiba-tiba ayah menyuruhku untuk menghadapnya. Dengan pasrah, merasa tidak tau arah, dan ketakutan akan amarah ayah, aku berdiri dihadapannya. Aku tidak tau apa yang merasukinya hingga ia berkata Saya izinkan kamu pergi dengan pilihanmu, tapi dengan beberapa syarat. Jika kamu tidak bisa memenuhi bahkan satu diantaranya, silahkan kembali pulang dan pikirkan Universitas mana yang masih mau menerima kamu sebagai mahasiswi kedokterannya,”

Baca:  Standar Kecantikan

Tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan dengan matang semua syarat yang dibebankan, rasa syukur dan terima kasih pada Tuhan membanjiri relung hatiku. Dalam hati ku berteriak, “Bisa atau tidak memenuhi belasan syarat berat tersebut, yang penting pilihanku direstui dahulu. Kedepannya aku akan mengusahakan semuanya, dan aku yakin aku bias,”

Pertama kali aku merasakan euphoria dalam tangisan, terasa sangat berat tapi aku senang. Ku timang lagi cita-cita itu, ku susui dia, ku peluk dan ku rawat hingga kini. Cita-cita, sekarang engkau sepenuhnya milikku. Tumbuhlah, dengan sehat, dan digdaya, agar tak satupun bisa merebutmu lagi dari pelukan ku, tidak orang lain bahkan ayahku.

Kata orang, tiap orang tua pasti menyayangi anaknya, tapi tiap kali diri memiliki keputusan yang berbeda, tak jarang mereka berteriak “durhaka sekali kau jadi anak”. Katanya, cinta yang paling tulus ialah cinta orang tua, tetapi saat diri belum mampu cepat balas jasa, nasihat-nasihat cintanya penuh dengan kata neraka.

Inilah aku, ibu cita-cita dari milikku sendiri.

Saya adalah penyendiri tetapi suka bersosialisasi. Budaya dan Bahasa adalah hal yang saya hal yang menarik bagi saya untuk dipelajari.

2 Replies to “Maaf Ayah, Cita-citaku Bukan Tiket Neraka”

  1. Puan, keputusanmu benar, orangtua utama tapi bukan berarti tak bisa kau pilih cita citamu, puan teruslah semangat sampai nafas terakhir berhembus, kau tau, kau punya hak sama dengan yg lain dalam menentukan pilihanmu sendiri, puan jangan larut dalam sedih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *