Bukan #TimIstriSah tapi #TimDukungPerempuan

Perempuan saling membantu sesama perempuan

Para perempuan yang memberi (atau diberi) label ‘istri sah’ dengan sengaja membawa kamera dan mendokumentasikan perlakuan kasar atau mengintimidasi terhadap perempuan yang ditengarai sebagai ‘pelakor’ lalu menyebarkan di media sosial pribadi mereka atau mengirimkan ke akun media sosial yang memiliki angka follower fantastis dengan harapan video tersebut dibuat viral. Tidak sedikit akun media sosial yang konon #TimIstriSah akhirnya turut menyebarkan video tersebut dengan caption provokatif.

Sayangnya saya belum pernah melihat perlakuan yang sama dilakukan sang ‘istri sah’ ke suami-suami mereka yang notabene berselingkuh. Komentar-komentar netizen-pun hampir semua menyudutkan si wanita ‘pelakor’ seolah-olah kalau dia tidak ada, kehidupan rumah tangga pasangan itu akan baik-baik saja. Lebih sedih lagi, hampir semua komentar menyalahkan si wanita ‘pelakor’ datangnya dari sesama perempuan.

Sedih ya?

Saya juga dulu diselingkuhi mantan suami. Tidak pernah sekalipun terbersit di benak saya untuk mendatangi si perempuan dan mempermalukan dia atau melampiaskan kemarahan saya. Buat apa? It takes two to tango.

Mantan suami saya (menurut saya) lebih bersalah dibanding perempuan itu. Salah satu perempuan muda lainnya yang juga jadi selingkuhan mantan dan jadi teman tidurnya-pun pernah datang ke rumah saya, meminta maaf dan memohon saya mengampuni dia. Tidak sedikitpun saya berkata kasar atau memukulnya atau apapun. Buat apa? Saya tahu dia juga korban, dia terlalu naif untuk sadar kalau saat itu dia sedang dipermainkan.

Buat saya pribadi, kalau suami atau pacar selingkuh, yang diajak bicara atau ajak berantem ya pasangan kita. Jangan perempuan yang kita anggap ‘merusak’ hubungan kita. Saat laki-laki kita tidak mau menundukkan kepalanya, jangan salahkan wanita lain yang membalas sapanya dan menerima hadirnya.

Baca:  Sampai Kapanpun Istri Berhak Menolak Seks

Seringkali perempuan jatuh cinta saat sang lelaki hanya sekedar main mata, seringkali kita jatuh hati saat lelaki menunjukkan sisi lemahnya, saat lelaki menceritakan betapa tersiksanya dia dengan pasangannya yang sekarang.

Ketika seorang laki-laki memuji kita lebih baik dari pasangan mereka, kita kerap kali lupa kalau ITU BUKAN PUJIAN. Itu salah satu bentuk penjajahan serta manipulasi laki-laki terhadap perempuan; agar mereka merasa harus selalu ‘paripurna’ biar nggak ada perempuan lain yang masuk ke kehidupan laki-laki mereka; simpelnya sih… agar perempuan terus saling bersaing demi pengakuan laki-laki.

Lalu apa? Bagaimana menyikapi para ‘pelakor’ ini? Pertama-tama, laki-laki yang dianggap sudah ‘direbut’ oleh perempuan lain itu adalah laki-laki dewasa. Laki-laki dewasa yang dianugerahi akal sehat, dan hati nurani. Saat dia ‘memutuskan’ untuk berselingkuh dengan alasan apapun, artinya dia sudah memikirkan dan mempertimbangkan terlebih dahulu.

Capek lho itu, berusaha untuk menutupi perselingkuhan. Dibutuhkan strategi dan pemikiran yang komprehensif untuk membuat istri percaya kalau dia tidak berselingkuh. Apa kalian tetap mau berpikir kalau perempuan selingkuhan dia yang 100% salah?

Sebagaimana yang selalu saya sampaikan ke teman-teman perempuan saya yang pasangannya berselingkuh dan geram pada perempuan lain yang dianggap merebut pasangan mereka: ‘Laki-laki yang berselingkuh itu bukan barang mati yang lantaran lalai kalian letakkan sembarangan, sehingga bisa diambil orang.’. It takes two to tango. Jangan hanya menyalahkan dan menyerang si perempuan yang menjadi selingkuhan.

Bagaimana kalau yang selingkuh bukan suami kalian, tapi suami orang terdekat kalian? Apa yang kalian harus lakukan saat orang terdekat ini curhat ke kalian? DENGARKAN. Tampung kisahnya, tunjukkan empati kalian, dengarkan untuk memahami perasaannya, dan bukan untuk merespon dan memberikan pendapat panjang kali lebar kali tinggi atau mengomporinya supaya bertindak tegas pada si perempuan selingkuhan. Dengarkan. Pahami perasaannya.

Baca:  Yakin Ikut Kelas Poligami?

Tanyakan apa yang dia mau dan bagaimana kamu bisa membantu dia. Fokus pada apa yang bisa kamu lakukan untuk menguatkan orang terdekat kalian. Jangan lantas merasa berhak ikut masuk ke masalah rumah tangga orang, apalagi sampai ikut mendukung tindakan perundungan pada perempuan yang ditengarai sebagai perempuan selingkuhan.

Indonesia adalah negara hukum, pahami konsekuensinya saat kalian berpikir untuk melakukan tindakan perundungan atau public shaming di media sosial. Karena yang kalian lakukan bisa lebih merugikan kalian daripada perempuan yang kalian anggap sebagai perusak hidup kalian.

Yuk perempuan, jangan saling menjatuhkan, give other women the benefit of the doubt. Jangan biarkan emosi mengalahkan akal sehat kita, dan jangan biarkan emosi menghancurkan harkat dan martabat kita sebagai manusia, dan sebagai wanita. Karena kita sesama perempuan, kita seharusnya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Tulisan ini pernah saya posting di laman facebook pribadi saya dengan versi lebih singkat, berawal dari rasa sedih saya melihat banyaknya postingan di media sosial yang kemudian menjadi viral (atau sengaja dibuat viral) seputar pelakor, dengan dalih memberikan efek jera.  Link original post: http://bit.ly/dukungperempuan http://bit.ly/perempuandukungperempuan

Biasa dipanggil KaPop, janda beranak 1 yang kini tengah merintis komunitas Perempuan Tanpa Stigma (PenTaS) yang bertujuan memberikan dukungan pada perempuan untuk melawan stigma negatif yang ditujukan pada mereka dengan berdaya.

Leave a Comment

%d bloggers like this: