Apakah Transgender itu Pilihan atau Takdir?

Perumpamaan biji sawi vs ulat bulu tersebut, sebenarnya sangat ngena untuk menggambarkan bagaimana transgender menemukan identitas gendernya dan bertransformasi. Tapi ujung-ujungnya, eike bisa bilang kalau menjadi transgender itu karena takdir.

“Pilihan” disini, lebih ke apakah anda mau jujur pada anda sendiri dan menjalani jatidiri identitas gender anda atau tidak. Tapi, karena eike adalah transpuan, eike akan lebih condong bicara dalam konteks transpuan.

Barisan Biji Sawi: Populer & High Profile

Tak bisa dipungkiri, kebanyakan dari kisah-kisah high-profile transformasi teman-teman transgender di media, sebetulnya berasal dari “barisan biji sawi” ini. Headline “born this way” itu ikonik bagi “barisan biji sawi” ini.

Teman-teman trans “barisan biji sawi” umumnya sudah sadar bahwa mereka berbeda sejak kecil, lazimnya, sebelum remaja. Dalam konteks transpuan, sifat “kemayu”-nya sudah terbaca, kelihatan jelas sejak dini. Karena lebih banyak eksposur di media, layak dikata kalo narasi “biji sawi” ini jadi narasi “mainstream” buat perjalanan transisi kaum transgender.

Barisan Ulat Bulu: Masif Tapi Dibawah Radar

Eike yakin, banyak juga rekan-rekan transgender yang baru sadar bahwa mereka itu berbeda, JUSTRU saat sudah besar, paling muda saat jelang remaja (kira-kira kelas 4–5 SD). Malah banyak juga yang baru sadar bahwa mereka adalah transgender, setelah beranjak dewasa/paruh baya, bahkan lansia[2]. Eike sendiri, termasuk “barisan ulat bulu” ini, karena eike sendiri baru sadar akan identitas transpuan setelah masuk SMP.

Dan tentunya, kalau anda membaca berita, banyak transgender lansia (diatas 70 tahun) yang sebetulnya sudah sadar akan perbedaan identitas mereka sejak ABG, tapi baru kesampaian untuk bertransisi setelah mereka lanjut usia[3].

Kisah dari “barisan ulat bulu” ini lebih jarang terekspos media. Namun kita bisa menemukan cerita seperti Natalie Zamani yang terbit di DailyMail, seorang senior software engineer di San Francisco yang baru bertransisi saat lockdown dibulan April ini[1].

Ulat Bulu Perlu Kepompong ‘Tuk Berubah Jadi Kupu-kupu

Karena banyak “barisan ulat bulu” baru sadar akan identitasnya yang berbeda setelah lebih tua, maka tak heran, kalau banyak di antara kita yang terbilang macho saat kecil: hobi main mobil-mobilan, Gundam, Lego, Counter Strike, berantem dll.

Baca:  Perem-Puan

Tontonan favorit eike justru Power Rangers, Jackie Chan, & film action lainnya. Pada masa kecil hobi eke melau bergeser dari mobil, kapal, pesawat militer & alat berat sejak kelas 5 SD. Tetapi, sejak kelas 4 SD, eike mulai hobi membaca majalah wanita macam Femina, Kartini, Cosmopolitan, HerWorld, mulai demen memasak (dimulai dari nasi goreng, klo maen masak-masakan malah eike ga demen!), dan mulai demen maen teddy bear.

Ketika kita mulai sadar bahwa identitas gender kita berbeda, banyak di antara kita yang clueless tentang bagaimana cara mengekspresikan diri kita sesuai identitas gender kita sebenarnya.

Waktu eike sadar bahwa eike adalah transpuan, eike tidak tahu bagaimana caranya makeup, memakai dress dll. Maka itulah, kombinasi rasa ingin tahu, modal finansial, mental baja ini menjadi bahan bakar yang berguna buat kita, para “ulat bulu” ini, untuk mencari dan membuat “kepompong” kita masing-masing.

“Kepompong” disini, lebih diartikan sebagai wadah untuk mengasah skill & bertransformasi diri. Baik itu belajar makeup lewat YouTube, konsultasi ke psikiater, minum hormon, terapi laser, oplas, ataupun ikut klub crossdressing, misalnya.

Karena banyak dari kita baru sadar akan identitas transgender kita lebih telat dibandingin rekan-rekan “biji sawi”, penolakan dari lingkungan sekitar kita tuh seringkali lebih sakit. Penolakan lingkungan sendiri buat kita “barisan ulat bulu” ini, umumnya lebih ke sikap denialgaslighting dan sejenisnya.

Kita sering dibilang “kurang bersyukur”, “terpengaruh unsur/lingkungan jahat/tidak baik”, “hanya ikut-ikutan”, “hanyalah sebuah fase” dan sejenisnya. Dan yang bikin lebih sakit lagi, penolakan tersebut justru lebih dahsyat dan lebih banyak datang dari orangtua, saudara/keluarga/kerabat sendiri ketimbang temen-temen/rekan kerja!

“Menjadi Transgeder itu Pilihan”: Mau Terusan Di Ulat Bulu/Kepompong? Atau Mau. Keluar Jadi Kupu-kupu Sekalian?

Ya, karena kita, “barisan ulat bulu” baru sadar akan identitas transgender kita lebih telat, kita perlu mencari dan membuat “kepompong” yang pas, supaya bisa bertransformasi menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah.

Disinilah argumen “pilihan” beradu: bisa saja kita sadar akan identitas gender kita, lalu kita diamkan, pendam & kubur, dan hidup dalam topeng kebohongan seumur hidup.

Baca:  Maaf Ayah, Cita-citaku Bukan Tiket Neraka

Bisa juga kita memilih mengekspresikan identitas gender kita hanya melalui wadah crossdressing, tapi sehari-hari tetep memendam/kubur identitas gender kita sendiri. Alias, “keluar masuk kepompong”.

Atau, bisa juga kita memilih untuk jujur pada diri sendiri. Belajar makeup, minum hormon, terapi ini-itu melalui berbagai “kepompong transisi” ini-itu, dan keluar menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah.

Eike tak mau terus-terusan meratapi nasib atau “keluar masuk kepompong”. Eike pengen berubah dari ulat bulu jadi kupu-kupu. Tantangannya berat? Pasti. Kita kan lahir untuk jadi luar biasa, bukan “biasa-biasa saja.”

Ingat saja, kita harus mulai jujur pada diri sendiri. Eike sih capek juga karena tiak bisa segera transisi karena tak bisa jujur pada diri sendiri.

Sehingga, bisa dibilang jelas, buat kita transgender “late bloomer” alias “barisan ulat bulu”, identitas transgender kita itu memang suratan takdir. Tapi apakah kita mau hanya meratapi nasib sebagai “ulat bulu”, terus-terusan di “kepompong”, atau bertransformasi total jadi “kupu-kupu” melalui kepompong, itu MEMANG adalah PILIHAN.

Referensi

[1] Transgender woman, 28, who hid her true gender identity for DECADES shares incredible photos of her transformation after taking hormones for 14 months and undergoing facial feminization surgery. DailyMail UK: <https://www.dailymail.co.uk/femail/article-8568399/amp/Transgender-woman-shares-images-transformation-taking-hormones-undergoing-surgery.html>

[2] Why I Chose To Be Trans”. Rachel Anne Williams . <https://medium.com/@transphilosophr/why-i-chose-to-be-trans-e630e0b5ba3a>

[3] Age has nothing to do with it’: how it feels to transition later in life. <https://www.theguardian.com/society/2018/nov/17/age-nothing-do-with-it-transition-later-life-transgender>

Ioanna Pavla adalah seorang web developer dan penulis transpuan kategori latebloomer dan pra-transisi. Karena situasi keluarga yang sangat tidak kondusif untuk melela maupun bertransisi. Ioanna menemukan medium menulis, sosial media, dan programming sebagai satu-satunya “jembatan” antara jati dirinya dengan dunia. Karena itulah, Ioanna sangat mengharapkan dukungan, baik materi maupun non-materi untuk memenangkan situasi laksana ‘Perang Vietnam’ melawan situasi keluarganya yang ultrakonservatif ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *