Bagaimana Teolog Feminis Kristen Menghadirkan Tuhan

Kekristenan di Asia sudah hadir beradab-abad sebelum abad ke-19 yang dikenal sebagai abad kebangkitan Pekabaran Injil (Protestan). Kekristenan ini hadir melalui para misionaris. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa teologi Kristen yang hadir pada saat itu mewarisi tradisi teologi Barat.

Di kemudian hari, para teolog feminis kulit putih di Amerika Serikat telah mengajukan kritik terhadap teologi yang androsentris. Mereka mendorong penggunaan bahasa yang inklusif ketika berbicara tentang Allah. Hal ini memberikan dampak bagi liturgi (bahasa yang digunakan dalam ibadah) dan di dalam percakapan teologi itu sendiri. Allah tidak hanya disebut sebagai Bapa, tetapi juga Ibu. 

Memang sebelum kekristenan memiliki tradisi tulisan, kekristenan mula-mula telah berkembang dengan menggunakan tradisi oral. Akan tetapi, karena budaya patriarki yang dominan, laki-lakilah yang menuliskan dan mendokumentasikan tradisi oral.

Perempuan dan Narasi Kekristenan

Tentu saja perempuan telah terlibat aktif sejak masa awal kekristenan, akan tetapi mereka tidak memiliki akses yang sama seperti lelakiuntuk menyuarakan narasi mereka di dalam tradisi tulisan. Meski terdapat mistikus perempuan yang menulis di masa kemudian, otoritas untuk menuliskan narasi kekristenan dianggap hanya dimiliki oleh laki-laki. Akibatnya lensa dan imajinasi tentang Allah dan karya Allah di dalam ciptaan didominasi oleh lensa dan imajinasi maskulin.

Setelah kanonisasi (penetapan kitab-kitab yang dianggap otoritatif dalam Alkitab), bukan berarti seluruh gambaran tentang Allah dan karya Allah di dalam Alkitab hanya berdasarkan lensa maskulin. Akan tetapi, sayangnya, teks-teks tentang gambaran Allah yang non-maskulin tidak dianggap memiliki otoritas yang sama.

Maka tidak heran jika gambaran Allah yang feminin atau bahkan yang tidak antroposentris tidak popular di dalam khotbah dan bentuk pengajaran gereja lainnya. Karena di dalam khotbah, nyanyian ibadah, dan dalam doa, Allah disebut sebagai Bapa (laki-laki), maka Sang Ilahi itu dilekatkan hanya dengan laki-laki.

Tubuh yang bukan laki-laki dan non-maskulin menjadi asing ketika berbicara tentang Allah dan memikirkan tentang Allah. Akibatnya, umat mengalami kesulitan untuk mengimajinasikan tubuh dan pengalaman perempuan sebagai yang sama sakralnya dengan tubuh dan pengalaman laki-laki. 

Baca:  Arti di Balik Perempuan yang Bersuara

Kritik Teolog Feminis Asia

Tentu saja teologi feminis yang dikembangkan oleh perempuan kulit putih sangat penting. Akan tetapi teolog feminis Asia meyadari bahwa teologi feminis yang diajukan oleh teolog feminis kulit putih kelas menengah tidak hanya tidak cukup untuk pengalaman perempuan Asia tetapi juga patut dikritik. Beberapa kritik terhadap teologi feminis kulit putih tersebut antara lain sebagai berikut.

Pertama, fokus utama mereka adalah pada penggunaan bahasa yang inklusif. Bagi teolog feminis Asia, ini menunjukkan privilese ras dan kelas mereka yang tidak bergulat dengan isu yang lebih penting di konteks Asia, seperti masalah kemiskinan, kekerasan, militerasi, dan hal penting lainnya.

Kedua, konteks kekristenan di Amerika Serikat berbeda dari kekristenan di Asia. Di mayoritas negara Asia, kekristenan hidup dalam konteks yang multireligius dan bukan mayoritas, sedangkan Kristen adalah agama mayoritas di Amerika. Maka teolog feminis kristen Asia, bersama dengan teolog feminis asia dari agama lainnya perlu bersama-sama untuk mengkonstruksi refleksi teologi feminis Asia. Sumber berteologi feminis Asia bukan hanya diperkaya oleh konteks yang multireligius, tetapi juga mendorong teolog feminis Asia untuk bersama-sama belajar menginterpretasi tradisi kultural-religius Asia.

Ketiga, teolog feminis kulit putih mengidentikkan perempuan Asia dengan opresi yang perempuan Asia alami di negaranya masing-masing. Misalnya, dalam buku teologi feminis yang ditulisnya, Mary Daly menggambarkan perempuan Asia yang perlu ditolong oleh perempuan kulit putih. Teolog feminis Asia mengkritik mereka dengan menjadikan perempuan Asia sebagai subjek teologi itu sendiri.

Benar bahwa perempuan Asia masih bergumul dengan berbagai bentuk opresi yang saling-berkelindan hingga sekarang, akan tetapi perempuan Asia juga memiliki otoritas dan kuasa untuk menkonstruksi teologi dan mengadvokasi dirinya sendiri. Perempuan Asia dapat membaca dan menafsirkan Alkitab, mengkritik dan mengimajinasikan konsep Allah, dan menjadi pemimpin umat. 

Siapa Tuhan Bagi Saya?

Pengalaman belajar teologi hingga sekarang dan pernah mengajar teologi selama tiga tahun, bagi saya bukan hanya sekadar sebuah perjalanan akademis, tetapi juga perjalanan spiritual yang personal. Siapa Tuhan bagi saya tidak dapat dijawab dengan sebuah pernyataan afirmasi, “Tuhan adalah…” melainkan juga dengan sebuah negasi, “Tuhan bukan…”

Baca:  Perempuan Tanpa Labia

Teologi feminis sudah dengan lantang menyatakan bahwa “Tuhan bukan laki-laki.” Memang, menyebut “Allah sebagai Bapa,” adalah salah satu cara manusia untuk merasakan pengalaman keterhubungan personal dengan Allah. Akan tetapi pengalaman manusia tentang sosok “bapak” tidak selalu baik.

Ada sosok bapak yang melakukan kekerasan terhadap istrinya, atau dan anak-anaknya. Bagi mereka yang memiliki sosok bapak seperti itu, sulit mengimajinasikan Allah yang baik dan mencintai sebagai “bapa.”

Pun, ada banyak jenis relasi lainnya dengan ciptaan, misalnya relasi ibu dengan anak, persaudaraan, persahabatan, bahkan ada relasi di luar manusia dan antar ciptaan. Relasi antara tanah dengan manusia misalnya, ada komunitas yang sangat terhubung dengan tanah tempat mereka tinggal. Atau relasi antara ikan dan lautan, yang digunakan oleh mistikus kristen untuk menggambarkan relasi antara Allah sebagai lautan dan ikan sebagai ciptaan.

Setiap relasi tersebut memberikan kita kemungkinan bahasa untuk menyebut nama Allah dan merefleksikan pengalaman dengan Allah. 

Allah dalam kekristenan adalah Allah yang relasional, berbelas kasih, dan mencintai seluruh ciptaan. Maka perempuan, orang yang berkulit hitam, LGBTIQ+, pekerja seks, anak kecil, orang dengan disabilitas, hewan, dan bahkan tumbuhan dicintai oleh Allah.

Saya dapat menyebut nama Tuhan yang paling dekat dengan pengalaman saya dan yang saya percaya, akan tetapi jika dengan menyebut nama itu saya menjadi tidak berbelas kasih dengan manusia dan ciptaan lainnya, lebih baik saya tidak menyebut nama Tuhan sama sekali.

* Lukisan Maria Assumpta oleh Basoeki Abdullah, 1935.

Mahasiswa doktoral dalam bidang Teologi di Drew University. Seorang melankolis yang menyukai air dan pepohonan. Memiliki minat belajar tentang kesehatan mental.

2 thoughts on “Bagaimana Teolog Feminis Kristen Menghadirkan Tuhan”

Leave a Comment

%d bloggers like this: