Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana

Di tengah Covid-19, saya menghabiskan banyak waktu saya dengan menonton film guna mengusir kebosanan. Penting sekali agar kita tetap waras dan bahagia. Mengingat perempuan salah satu kelompok paling rentan semasa Covid-19, saya memilih menonton North Country.

North Country yang disutradarai oleh Niki Caro, dirilis 15 tahun yang lalu pada 12 September. Film ini diambil dari kisah nyata dan terinspirasi dari buku Class Action: The Landmark Case that Changed Sexual Harassment Law. Meskipun termasuk film lawas, namun masih sangat bersinggungan langsung dengan kehidupan perempuan. North Country menyampaikan penindasan perempuan dimanapun ia berada, dari wilayah domestik maupun publik. Alur ceritanya juga menceritakan perjuangan perempuan untuk merebut keadilan.

Saya merasakan kedekatan pada setiap adegan yang diperankan oleh Josey Aimes (Charlize Theron) sebagai pemeran utama. Ia perempuan dan saya juga perempuan. Ia penyintas kekerasan seksual dan saya pun juga. Setiap perempuan adalah penyintas karena patriarki dan kapitalisme yang saling berkolaborasi dan bekerjasama untuk menindas perempuan.

Di wilayah domestik, perempuan jauh dari ruang aman dan rentan mengalami kekerasan. Josey sebagai seorang ibu mengalami KDRT yang dilakukan oleh suaminya yang abusive. Di bagian awal film, saat suaminya datang, ia buru-buru meminta anak perempuannya untuk segera naik ke lantai atas rumah. Yang terjadi bukan drama romantis ala sinetron, namun adegan kekerasan. Josey ditampar suaminya hingga mukanya penuh darah.

Perempuan sebagai istri rentan menjadi korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2019 Komnas Perempuan, kekerasan yang paling menonjol sama seperti tahun sebelumnya yaitu KDRT yang mencapai angka 75% (11.105 kasus). Apalagi ditambah situasi pandemi saat ini, tentu kasus KDRT kian meningkat.

Untuk mencari ruang aman, Josey pun segera pergi dari rumahnya bersama kedua anaknya, Karen dan Sammy. Sesampainya di rumah orangtuanya, dengan berharap mendapat keamanan dan dukungan, justru Josey mengalami reviktimisasi. Ayahnya menganggap Josey berselingkuh dengan pria lain sehingga suaminya menamparnya.

Baca:  Bukan Penis Envy, tapi Womb Envy: Perlawanan Karen Horney terhadap Pandangan Misoginis

Keluarganya juga ikut mengalami perundungan yang datang dari komunitas jemaah di gerejanya. Ibu-ibu jamaah gereja justru nyinyir di belakang. Bukannya saling menguatkan saat suasana ibadah, justru malah bergosip.

Menjadi perempuan juga tak mudah untuk mengambil keputusan. Saat Josey menyampaikan ke orang tuanya untuk bekerja di tambang, justru orang tuanya tidak menyetujui dan mendukungnya. Ayahnya bilang kalau tambang adalah pekerjaan laki-laki sedangkan ibunya bilang agar ia menjadi ibu yang baik di rumah untuk merawat anak-anaknya.

Di perusahaan tambang itu nyaris semua pekerjanya laki-laki dan hanya sedikit pekerja perempuan. Ia bersama rekan kerja perempuan yang lain setiap hari mengalami berbagai bentuk kekerasan. Dari pelecehan verbal hingga kekerasan seksual.

Atas dasar berbagai kekerasan seksual tersebut, Josey melapor ke manager dan pemilik perusahaan. Laporannya tidak dipedulikan sama sekali. Justru sang pemilik mempersilakan Josey untuk mengundurkan diri.

Untuk merebut martabatnya sebagai perempuan. Ia pun mengorganisir teman-temannya untuk melapor dan memproses dengan melayangkan gugatan class action. Class action adalah gugatan yang diajukan sekelompok penggugat yang memiliki masalah yang sama.

Dengan pengacara handal yang memahami penindasan perempuan, bersama banyaknya teman-teman yang mendukungnya, serta hakim yang memiliki perspektif korban yang baik, Josey memenangkan perkaranya. Hakim memutuskan untuk menghukum perusahaan. Kasusnya dijadikan pijakan untuk mendorong sexual harassment policy atau kebijakan penghapusan kekerasan seksual demi menjamin perlindungan perempuan.

Film North Country mencerminkan penindasan perempuan yang ada dimana-mana, di rumah, di tempat kerja maupun di ruang publik. Tak hanya di Amerika saja namun di Indonesia juga. Indonesia masih punya batu gonjalan besar agar perempuan bebas dari berbagai bentuk kekerasan seksual. Hingga saat ini DPR RI belum mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS).

Baca:  On the Basis of Sex: Ketika Lelaki Mendapatkan Diskriminasi

Dalam situasi pandemi covid-19, DPR RI justru membahas RUU Kontroversial seperti Omnibus Law dan RKUHP. Bukannya fokus menangani wabah Covid-19, malah memperkeruh situasi yang berpotensi menjauhkan perlindungan dan keadilan perempuan.

Tentunya film North Country menjadi salah satu film untuk ditonton selama pandemi ini berlangsung, karena semakin maraknya kerentanan perempuan terutama buruh perempuan seperti Josey saat pandemi. Di saat pandemi perempuan membutuhkan kebijakan yang melindungi mereka. Situasi ini memperparah kekerasan yang terjadi kepada perempuan.

Oleh karena itu, kita harus terus mendorong pemerintah agar terus mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan menolak pembahasan Omnibus Law yang tidak berpihak terhadap Perempuan sedikitpun. Kamu bisa ikut menandatangani petisi agar DPR menghentikan pembahasan RUU Kontroversial di Tengah Wabah Korona.

Mari tetap melawan, walau #dirumahaja.

Perempuan muda yang semangat belajar, demokratis dan feminis. Saat ini bekerja sebagai staf divisi Bantuan Hukum Migrant CARE

1 thought on “Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana”

Leave a Comment

%d bloggers like this: