Apakah “Semes7a” Sebagus Kelihatannya?

Dalam berbagai mitologi, bumi sering dipersonifikasikan sebagai perempuan. Gaia dalam mitologi Yunani, Ishtar di Babilonia, dan Isis di Mesir, misalnya. Di mata laki-laki, karakteristik alam yang misterius sekaligus menggoda untuk ditaklukkan ini merupakan inkarnasi perempuan itu sendiri dan penegasan ke-liyan-annya.

Seperti kata Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, di antara laki-laki dan perempuan tidak ada relasi timbal-balik (yang setara). Ibu pertiwi dan para dewi ini tidak dianggap sebagai sesama manusia, tapi makhluk yang berada di luar jagad manusia—sang liyan. Dan sebagaimana patriarki menindas perempuan, manusia mengeksploitasi alam. Itulah mengapa, penyebutan “ibu pertiwi” selalu problematik bagi saya.

Nah, di dalam film dokumenter “Semes7a” yang saya tonton baru-baru ini, bumi selalu disebut sebagai “ibu pertiwi”. Tak jarang, dalam film ini saya jumpai narasi bahwa “ibu pertiwi”-lah yang ingin orang-orang selamatkan. Tapi syukurlah, ada beberapa narasumber dalam film tersebut yang menganggap bahwa ada atau tidak ada kita, bumi akan mengalami evolusinya sendiri. Justru, yang perlu kita selamatkan adalah kita sendiri. Wah, sangat antroposentris, ya.

Film dokumenter yang disutradarai oleh Chairun Nissa dan diproduseri oleh Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin ini dibuat berlandaskan kesadaran bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius, dengan kepercayaan dan kebudayaan yang beragam. Maka, mereka coba mengangkat bagaimana masyarakat Indonesia berusaha memperlambat perubahan iklim berdasarkan ajaran agama dan budaya lokal.

Dengan semangat keberagaman, film ini mengangkat tujuh cerita dari tujuh provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Ada tradisi Nyepi di Ubud, Bali, yang berperan menurunkan emisi karbon. Kemudian di Sungai Utik, Kalimantan Barat, ada komunitas Dayak Iban yang menjaga hutan sebagai amanah dari leluhur yang mereka junjung tinggi.

Selanjutnya di Bea Muring, NTT, ada seorang pastor yang memprakarsai pembangunan PLTMH dengan sistem gotong-royong. Dari Kapatcol, Papua Barat, ada suatu komunitas perempuan yang berusaha menjaga keberlangsungan sumber daya laut melalui tradisi “Sasi”. Sang pemrakarsa komunitas tersebut menyadari bahwa sebagai perempuan, mereka juga punya peran yang sama dengan laki-laki.

Baca:  Film North Country: Penindasan Perempuan Dimana-mana

Beranjak ke ujung barat Indonesia, ada seorang imam di Desa Pameu, Aceh, yang berusaha menyadarkan masyarakat sekitar tentang krisis iklim lewat khotbah-khotbahnya. Di Imogiri, DIY, ada satu keluarga yang memutuskan untuk hijrah ke gaya hidup sehat dengan menerapkan permakultur di tempat tinggalnya yang dinamai “Bumi Langit”. Terakhir, di Jakarta, ada “Kebun Kumara”, yang oleh pendirinya digunakan sebagai wahana pendidikan berkebun bagi masyarakat urban.

Namun, sungguh disayangkan, kisah dari Bali dan Aceh yang mereka angkat menurut saya kurang berdampak karena hanya mengedepankan aksi khotbah dan ritual keagamaan; bukan aksi langsung yang tepat sasaran untuk menghadapi perubahan iklim. Tidakkah ini malah akan terus melenakan orang-orang bahwa “tak perlulah berbuat sesuatu untuk memperlambat krisis iklim, kita cukup berdoa dan beribadah saja memohon ampunan Tuhan”?

Terlepas dari pesan yang ia bawa, dari segi artistik saja film ini menurut saya kurang bagus. Alih-alih menampilkan benang merah dan kepaduan yang apik, film ini tampak seperti tujuh video digabungkan ala kadarnya, dihiasi sebaris-dua baris fakta ilmiah seputar krisis iklim, dengan perpindahan antarkisah yang tidak halus dan cerita yang kurang kuat.

Di satu sisi, ada beberapa hal yang saya setujui dari film ini. Salah satunya, pandangan pendiri “Bumi Langit” yang menekankan perlunya kita mengonsumsi makanan sehat yang dihasilkan dari kebun sendiri dan dimasak sendiri, sebagai antitesis dari industri makanan yang menonjolkan konsumerisme dan dilestarikan oleh kapitalisme.

Namun, di sisi lain, saya menyayangkan betapa film ini melemparkan tanggung jawab seluruhnya kepada individu dan kelompok masyarakat lokal dalam mengatasi perubahan iklim sambil seolah-olah menihilkan tanggung jawab perusahaan-perusahaan besar dan pemerintah. Padahal, menurut analisis Richard Heede dari Lembaga Akuntabilitas Iklim AS, 35% dari emisi gas rumah kaca seluruh dunia dari sektor energi disumbang oleh hanya 20 perusahaan bahan bakar fosil[1], dan 70% dari emisi gas rumah kaca dunia jika ditelusuri akan bermuara pada (hanya) 100 perusahaan.[2]

Baca:  Misbehaviour: Gerakan Perempuan Melawan Kontes Kecantikan

Berdasarkan laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), kita cuma punya waktu sekitar 10 tahun untuk menekan pemanasan global sampai 1,5 derajat Celcius.[3] Kalau ini tidak dilakukan, maka suhu rata-rata muka bumi akan meningkat terus tak terkendali. Tidakkah ini mengerikan?

Masalah krisis iklim adalah masalah yang masif dan membutuhkan solusi yang masif pula dalam skala planet. Kita butuh pemerintah yang sadar akan krisis iklim dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada lingkungan. Perilaku individu ramah lingkungan memang tetap harus digalakkan, tapi jangan sampai itu membuat kita salah fokus dan membiarkan pemerintah melenggang dari tanggung jawabnya!

Meskipun sudah berusaha sebisa mungkin tidak menggunakan wadah plastik sekali-pakai seumur hidup saya, saya pikir itu tak akan berdampak banyak pada pengurangan emisi global kalau pemerintah tetap (pura-pura) tidak sadar krisis iklim seperti sekarang.

Di akhir film, saya baru tahu bahwa ada campur tangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pembuatannya. Oh, pantesan… Melalui “Semes7a”, pemerintah seperti ingin cuci tangan dan menimpakan tugas seluruhnya kepada masyarakat lokal sambil membalutnya dengan kesan positif keberagaman dan ekonomi kerakyatan. Bagi masyarakat yang gampang salah fokus (apalagi produsernya Nicholas Saputra!), sungguh ini langkah yang cerdik sekali!


[1] https://www.theguardian.com/environment/2019/oct/09/revealed-20-firms-third-carbon-emissions

[2] https://www.vox.com/the-goods/2018/10/12/17967738/climate-change-consumer-choices-green-renewable-energy

[3] https://www.ipcc.ch/sr15/chapter/spm/

Seorang engineering staff di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang menemukan dirinya lebih tertarik mempelajari gender daripada roket. Sedang asyik belajar menggambar digital untuk mendukung kampanye seputar gender. Baru-baru ini mulai bergabung dengan Extinction Rebellion Indonesia (IG @extinctionrebellion.id).

Leave a Comment

%d bloggers like this: